oleh

Puisi-puisi Joel Pasbar

-Puisi-130 views

 

Sang Pendosa

Angan berlari di antara kawanan awan. Bersulang dingin gunung menatap lembah-lembah pasrah, menampung doa para penunggang musim kehilangan gairah ketika curah membasah langkah.
Di anjung itu seolah diri adalah Nuh paling gagah: penyelamat dari kiamat pemusnah noktah-noktah

Ingin berdiri pada mimbar-mimbar penuh pendengar suara lantang berkobar membakar hati para fakir yang ingkar. Seketika ingatan dipenuhi ayat-ayat Tuhan, selayaknya mendung menyimpan jutaan hujan yang siap dijatuhkan pada gersang bebatuan

Gerimis perlahan jatuh membelah pipi renta: merupa sungai air mata. Mengalir dari hulu kesedihan paling nadir, memuara pada bibir yang dulu begitu nyinyir mengeja kata, hidup harus melawan arus takdir!

Kini senja begitu suram di mata buram yang takut kedatangan malam. Sepuh jemari meraba beranda kelam berdebu sepanjang jalan pulang menapaki hitam, menanti pejam tanpa suluh pualam.


Pasaman Barat, 2018

 

Zikir Sungai dan Dermaga yang Tabah

Hujan musim lalu bercerita

tentang sepasang insan

terjebak manis khuldi masa silam:

satu gigitan tersekat di tenggorokan,

dan dua lainnya menjelma mata air penuh debar

yang setia menjahit kerinduan

 

Subuh itu terasa asing ketika

rahim malam mencatat sebuah kelahiran

mata air. Sepanjang alir aku sungai yang berzikir

mengitari bebatuan, selami lubuk musim

kemarau. Dan kadang terdampar bersama keruh

peradaban musim hujan.

 

Muara di ujung sana ialah engkau,

dermaga penampung doa paling tabah.

Di tubuh waktu, kita sepasang yang pernah

diceritakan dalam risalah Adam.


Pasaman Barat, 2018

 

Perempuanku

Bila langkah mengajakmu jelajahi

seluk-beluk cinta, ikutlah dengannya

di sana akan banyak canda tawa, juga

luka sebagai tanda bahwa tiada yang

yang tunggal selain Dia.

 

Bila cinta yang tersuguh tak buat

bahagia sebagaimana inginmu, dan air mata

jadi sahabat karib di petualangan itu. Maka

susuri sungai menuju muara, seperti

janji Adam dan Hawa.

Hati dan cinta yang kupunya masih

setia di alamat yang lama

 

Pulanglah, pada dada yang siap menampung duka.


Beranda sunyi, 2018

 

Sahabat

Tinta yang kita asuh di bilik-bilik

sunyi, menetas dalam lembaran putih

menjadi bait-bait pitunang.

Angin mengantarkan perahu ini berlabuh

pada rindu dermaga yang utuh, jawabmu.

 

Kita tersenyum melipat hari-hari dengan canda

hingga lupa hakikat perjumpaan. Memang

aku petang yang merindu pertemuan

dengan senja, tapi mengutuk kedatangan

malam yang gulita. Sebab pada kelamnya

aku lupa cara meminta purnama.


BIM
Padang Panjang, 05 Mei 2018

 


Setangkai Kenang
di Padang Panjang

(Sehelai daun tak sempat pamit

pada ranting ketika angin tiba-

tiba mmbawanya jauh)

Pagi itu, selembar payung terselip

di antara teduh mata perempuan

mata indah yang menyambut kedatangan.

 

Lalu payung itu menjelma kata-kata

dari bibirnya yang ranum.

“Pakailah jika nanti gerimis mulai jatuh, ucapnya.”

Aku melangkah tanpa sempat bertanya

di mana pemantik payung itu bila kelak hujan

mengunjungi perjalanan yang panjang

 

Setiba di rumah aku basah kuyup

dibasuh rindu yang jatuh sepanjang jalan,

buru-buru kuhangatkan diri di tungku perapian

berharap gigil pergi dari tubuh. Tapi kenang

tersangkut di landai kening.

 

Senja yang pasi mengantarkan malam

di desaku lampu-lampu sudah lama

tertidur bersama dengkur penunggang waktu.

Di kota hujan itu seorang perempuan

tabah merawat pemantik payung yang tertinggal

dalam lembaran putih bernama kenangan.


Pasaman Barat, 9 Mei 2018

 

Joel Pasbar, lahir di Talamau, Pasaman Barat (Pasbar) Sumatra Barat, 03 Desember 1985. Dimulai karena hobi menulis di lembar-lembar diary semenjak masa sekolah, membuat sastra menjadi sebuah candu dalam dirinya. Lelaki penyuka hujan, kopi, dan sunyi ini tergabung dalam beberapa komunitas kepenulisan, seperti: Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Sastra Bumi Mandeh (SBM) Comunity Pena Terbang (KOMPETER) Indonesia, dan lain-lain. Juga aktif di Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman dan Pasaman Barat.

Tulisannya pernah dimuat di beberapa media cetak ataupun online. Seperti HALUAN, KABAR MADURA, NEOKULTUR, KABAR PESISIR, dll. Dan dalam buku antologi bersama para sahabat. Juga sering diundang dalam acara-acara literasi.  Pada 2017 awal, ia menerbitkan buku antologi solo, kumpulan puisi SAJAK-SAJAK SUNYI (Filosofi Secangkir Kopi) Madza Publishing, Badung, Bali. ***

News Feed