oleh

Belajar Selaras dengan Diri Sendiri Lewat Latihan Aikido

-Lifestyle-94 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Aikido berasal dari negeri Matahari Terbit, Jepang. Beladiri ini terbilang unik karena menggunakan teknik melingkar dan nyaris tidak menggunakan tenaga untuk melumpuhkan lawan. Bila beladiri lain membina fisik dan mental peserta agar menjadi kuat dengan latihan fisik yang keras, maka filosofi latihan dan pertarungan Aikido lebih mirip Tai Chi, yaitu mengalahkan kekuatan dengan kelembutan.

Kata Aikido merupakan gabungan dari fonem Ai, Ki, dan Do. Ai artinya Harmoni, Ki artinya Jiwa, dan Do berarti Jalan atau Cara. Jadi Aikido bisa diartikan sebagai ‘jalan agar jiwa bisa harmonis’.

Mempelajari Aikido bukan hanya belajar beladiri yang dapat dipakai untuk bertahan dari serangan lawan, namun ada unsur keseimbangan filosofi hidup yang dapat diterapkan setiap anggota dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Aikido sangat diutamakan 7 prinsip Bushido (Jalan Samurai), yaitu Kesungguhan, Keberanian, Kebajikan, Penghargaan, Kejujuran, Kehormatan, dan Kesetiaan.

“Selain berlatih teknik bela diri Aikido, mereka yang belajar aikido, sejatinya juga harus menerapkan tujuh dasar itu dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sensei Sugiarto, seorang instruktur Aikido, ketika ditemui Radar Pagi di salah satu dojonya di NPS Fitness, Depok Town Square (Detos), Jalan Margonda Raya, Depok, beberapa waktu lalu.

Antara Aikido dan jiwa samurai memang memiliki keterkaitan sendiri. Boleh dikatakan Aikido merupakan turunan langsung dari Daitoryu Aiki Jujutsu (jujutsu gaya melingkar), yaitu beladiri tangan kosong yang dikembangkan oleh sebagian kaum samurai. Dikatakan sebagian, karena pada masa kejayaan kaum samurai di Jepang, hanya sedikit saja yang mempelajari ilmu beladiri ini. Selain segelintir samurai, Aiki Jujutsu juga dipelajari oleh golongan bangsawan. Para bangsawan yang rata-rata berfisik lemah karena jarang bekerja keras, sangat senang berlatih Aiki Jujutsu karena tidak terlalu menguras tenaga.

Tidak diketahui pasti siapa pencipta Aiki Jujutsu, namun sejarah dapat dilacak hingga masa Sokaku Takeda (10 Oktober 1859 – 25 April 1943). Sokaku Takeda adalah anak kedua dari Takeda Sōkichi, mantan samurai dari Klan Takeda. Sokaku Takeda inilah yang di kemudian hari mendobrak tradisi dengan mengajarkan Aiki Jujutsu kepada seorang pemuda yang meski berasal dari keluarga kaya raya, tapi tidak memiliki darah bangsawan maupun darah ksatria/samurai.

Pemuda tersebut bernama Morihei Ueshiba (14 Desember 1883 – 26 April 1969). Kelak Morihei Ueshiba inilah yang memodifikasi teknik-teknik Daitoryu Aiki Jujutsu menjadi lebih lembut dan diberi nama Aiki Budo, sebelum kemudian disempurnakan lagi menjadi Aikido.

Menurut Sugiarto, Aikido lebih mendasarkan latihannya pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik. Teknik-teknik yang digunakan dalam Aikido kebanyakan berupa teknik elakan, kuncian, lemparan dan sedikit bantingan.

Dia kemudian mendemonstrasikan teknik dasar dalam aikido yang disebut Katatedori Ikkyo. “Teknik Ikkyo ini kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya sulit dilakukan. Perlu waktu latihan bertahun-tahun untuk benar-benar menguasainya,” kata Sugiarto.

Dalam melakukan teknik tersebut, Sugiarto memegang siku dan pergelangan tangan lawan, lalu mendorongnya ke arah muka hingga posisi tubuh lawan berputar ke belakang. Lawan pun tak berkutik. Semakin keras dia berusaha melepaskan diri, bukannya lepas, tapi justru merasa kesakitan.

Selain unik dari segi teknik, Aikido juga memiliki satu ‘keunikan’ lain, yaitu tidak dipertandingkan. Ini jelas berbeda dengan jenis beladiri lain yang bisa dipertandingkan.

“Aikido tidak ada pertandingannya, supaya tidak ada motivasi dalam diri murid untuk mengalahkan orang lain. Jadi dalam hidup ini tidak perlu selalu berpikir dan mencari siapa yang harus kalah dan siapa harus menang,” tutur Sugiarto.

Dari segi kesehatan, lanjut Sugiarto, dengan berlatih Aikido, badan bisa menjadi sehat, pikiran tenang, emosi pun bisa lebih dikendalikan. Dia mengaku saat dulu mempelajari beladiri lain, dia kerap termotivasi untuk berkelahi demi menguji kemampuan. Tapi setelah mempelajari Aikido, keinginan agar dibilang jago seperti di masa lalu memudar dengan sendirinya.

Di Aikido, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Bagi anak-anak, beladiri ini bisa meningkatkan kemampuan motorik anak. Bagi orang lanjut usia, beladiri ini cocok ditekuni karena latihannya tidak terlalu menguras tenaga. (fajar)

News Feed