oleh

Andy T Nitidisastro: Yang Paling Paham Pancasila Hanya Bung Karno

-Nasional-601 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Banyak orang merasa bisa merasa paham menganalisa dan mengevaluasi Pancasila dari berbagai sudut pandang mereka, padahal kita sesungguhnya tidak begitu paham, yang paling paham dan paling mengerti Pancasila, ya tentu Bung Karno (BK) sendiri sebagai penggalinya.

Demikian dikatakan Andy T Nitidisastro selaku Sekretaris Dewan Pakar dan PA GMNI, di Jakarta, Kamis (6/6/2018).

Menurut Andi, bila kita setuju penggali Pancasila adalah  Bung Karno, maka kita harus setuju dengan pola pikir dan pernyataan-pernyataannya, yaitu:

1) Bahwa BK tidak terlalu peduli dengan urutan-urutan maupun redaksinya. Bisa tergambar pada lahirnya Pancasila pada 1 Juni ‘45.

2) Pancasila pada 18 Agustus ‘45

3) Pada Pancasila yang disampaikan dalam pidato Bung Karno di PBB.

“Yang penting adalah Tata Nilai Luhur, yaitu gotong royong yang diambil dari apinya Islam dari apinya semua agama dan kepercayaan, bukan diambil dari debunya. Apinya yaitu kasih sayang, karena tanpa rasa kasih tidak mungkin bisa bergotong royong,” kata Andi.

Andi menjelaskan, pada saat kemerdekaan RI diproklamasikan, Tata Nilai Luhur ini diamanahkan oleh rakyat kepada penyelenggara negara untuk dijadikan pakem me-manage negara, agar rakyat bisa sejahtera. Namun seiring perjalanan waktu, amanah ini tidak dijalankan dengan baik, apalagi dengan pengaruh globalisasi yang mereduksi pemahaman nilai-nilai luhur tersebut.

“Bila kita baca yang disampaikan Bung Karno dan coba kita dalami bahwa Pancasila sebagai Landasan Negara adalah landasan pilosophy yang tidak bisa berdiri sendiri, harus diikuti dengan landasan Ideologi, yaitu Marhaenisme (diciptakan BK sendiri),” jelasnya.

Namun, sambungnya, landasan Ideologi tidak bisa diimplementasikan tanpa landasan struktural, yaitu Konstitusi/UU D 45, serta inipun harus diikuti dengan landasan Operasional, yakni UU yang tidak boleh bertentangan dengan UUD.

Hal ini, menurut Andy, tidak mungkin bisa sejalan dengan cita-cita luhur bangsa, bila tidak tahu tujuannya untuk Socialisme Indonesia yang harus diimplementasikan berdasar landasan strategis Trisakti.

Dia berpendapat apabila kita konsisten terhadap Pancasila, maka ada 2 hal mendasar yang harus dilakukan:

1) Sistem Pancasila sebagai The Way of Life, harus dipahami dan diaplikasikan oleh penyelenggara negara pada semua sektor/lini dalam bentuk UU/Peraturan serta perilaku untuk me-manage negara agar menjadi bangsa yang sejahtera.

2) Dalam kehidupan masyarakat yang sudah terintervensi oleh sistim global maupun ideologi transnasional perlu membumikan Pancasila dengan konsep leveling sesuai tingkat pemahaman/pola pikir masyarakat yang tidak bisa dipukul rata/disamakan seperti P4, dimana Pancasila dibutir-butirkan untuk diterapkan pada semua tingkatan masyarakat bangsa.

“Sehingga pemikiran tentang Pancasila dari seorang profesor/jenderal harus sama dengan pemikiran tukang becak. Juga tidak boleh diganti menjadi Pilar yang akan menimbulkan kesalah pengertian bagi masyarakat dan generasi penerus,” katanya.

Untuk membumikan/memasyarakatkan Pancasila, Andy T Nitidisastro menyarankan dengan mewajibkan penyelenggara negara memahami Pancasila sebagai suatu sistim menuju sosialisme Indonesia dengan mengaplikasikan dalam bentuk UU, Peraturan, Perilaku. Lalu menyiapkan silabus, kurikulum berdasar literatur-literatur dan buku-buku Bung Karno untuk membuat konsep leveling tentang Pancasila agar mudah diterima masyarakat bangsa, sesuai tingkatan pola pikir dan pemahamannya. (Igo)

 

 

News Feed