oleh

Manajemen Risiko Penyelenggara Pemilu Kabupaten Nias Selatan

-Kolom-103 views

Oleh: Harapan Bawaulu, S.E.,M.M      

Secara umum Pemilu di KPU Kabupaten Nias Selatan sudah terlaksana dengan baik, namun hasilnya belum tercapai secara maksimal. Setiap proses penyelenggara Pemilu di Kabupaten Nias Selatan selalu berpotensi menghadapi risiko operasional pada tahapan persiapan, tahapan penyelenggara, dan tahapan penyelesaian Pemilu.

Risiko operasional disebabkan empat faktor yakni manusia, sistem, kejadian internal, dan kejadian eksternal. Dampak risiko operasional Pemilu dapat membuat kerugian baik secara langsung maupun secara tidak langsung bagi kontestan Pemilu (penyelenggara dan peserta Pemilu).

Salah satu faktor utama penyebab risiko operasional Pemilu yakni risiko moral hazard dari kontestan Pemilu. Fraud/ kecurangan dan pelanggaran Pemilu terjadi karena ada permintaan dan ada penawaran (politik uang) dari kontestan Pemilu, sehingga dapat menimbulkaan godaan. Namun jangan ada stigmasi bahwa potensi fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu hanya terjadi di Kabupaten Nias Selatan tetapi hampir terjadi di daerah lain.

Secara das sein modus-modus fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu yakni membeli suara dari penyelenggara Pemilu dari PPS, PPK dan KPU, membeli suara dari satu parpol dan parpol lain, mencuri suara dari satu parpol  dan parpol lain.

Histori Kasus Pemilu KPU Kabupaten  Nias Selatan

Semestinya jika Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dan Bawaslu mengungkap secara tuntas motif dan aktor pelaku fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu, penyelidikannya tidak hanya berhenti di tingkat KPU Kabupaten saja, mestinya di telusuri sampai pada tingkat penyelenggara paling bawah.

Bahkan kejadian di Pileg Tahun 2014 sebagian ada oknum Panwaslu dan oknum pihak keamanan yang justru memfasilitasi fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu. Alhasil selama ini penyelenggara di tingkat bawah luput dari penyidikan.

Fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu berpotensi menimbulkan Pemilu ulang  dan PSU (perhitungan suara ulang). Namun faktanya dalam Pemilu ulang dan PSU pun fraud/kecurangan dan pelanggaran semakin parah terjadi, dinilai penyelenggara Pemilu gagal mewujudkan Pemilu secara berkualitas.

Secara das sollen diharapkan setiap proses penyelenggaraan Pemilu tidak terjadi fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu. Oleh sebab itu diperlukan the best strategy atau problem solving dalam mengelola risiko operasional Pemilu.

The best strategy atau Problem solving:

Risiko operasional Pemilu dapat dikelola melalui pendekatan Manajemen Risiko, meliputi :

  1. Identifikasi risiko; melakukan identifikasi risiko pada proses Pemilu; pada tahapan persiapan, tahapan penyelenggara, dan tahapan penyelesaian Pemilu
  2. Mengukur risiko; melakukan pengukuran peluang dan dampak risiko proses Pemilu pada tahapan persiapan, tahapan penyelenggara, dan tahapan penyelesaian Pemilu
  3. Membuat manajemen risiko; mengecilkan peluang dan dampak risiko proses Pemilu; pada tahapan persiapan, tahapan penyelenggara, dan tahapan penyelesaian Pemilu.

Hakul yakin pendekatan manajemen risiko sangat efektif dalam mengelola fraud/kecurangan dan pelanggaran Pemilu yang akan datang. ***

Harapan Bawaulu

*) Harapan Bawaulu lahir di Desa Hilizihono, Kepulauan Nias, 5 Agustus 1985. Saat ini bekerja sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi  Nias Selatan (STIE- NISEL).

News Feed