oleh

Serunya Pilkada Papua: Lukas Enembe Yakin Menang

 

Papua, Radar Pagi – Provinsi Papua menggelar pemilihan gubernur dan wakil gubernur pada Rabu, 27 Juni 2018 yang diikuti dua pasangan calon, yaitu pasangan Lukas Enembe-Klemen Tinal (Lukmen) selaku petahana, dan pasangan Jhon Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwai (Yosua). Selain itu, beberapa wilayah di Papua juga menggelar pemilihan wali kota/bupati, seperti Deiyai, Jayawijaya, Biak Numfor, Mimika, Paniai, Membramo Tengah, dan Puncak. 

Bisa dibayangkan keseruan yang bakal terjadi di tingkat kota/kabupaten hingga provinsi di sana. Masing-masing relawan dari para pasangan bekerja keras memantau jalannya Pilkada untuk menghindari kemungkinan kecurangan yang dilakukan lawan politiknya atau pihak-pihak lain yang ingin memanfaatkan momen Pilkada ini untuk mengacaukan situasi keamanan.

Masyarakat awam pun terlibat perbincangan hangat mengenai siapa yang bakal terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur, serta siapa yang akan menjadi wali kota atau bupati untuk periode berikutnya.

Keseruan perbincangan bertambah manakala warga bertanya apakah Pilkada kali ini juga akan diwarnai aksi anarkisme. Pasalnya, momentum kekerasan Pilkada di Papua terjadi di semua tahapan Pilkada. Sejak 2010 hingga 2014, daerah seperti Puncak, Yahukimo, Lanny Jaya, Tolikara, Dogiyai, dan Jayawijaya rentan terjadi kekerasaan. Lalu pada tahun 2017, kekerasan akibat Pilkada juga terjadi di 2 kabupaten, yaitu Puncak Jaya dan Intan Jaya.

Kerasnya Pilkada Papua bahkan terasa hingga Jakarta. Publik tentu masih ingat ketika belasan orang yang menjadi pendukung paslon kalah di Pilkada Kabupaten Tolikara merusak kantor Kemendagri di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tak heran bila Polri mengerahkan 18 ribu personilnya untuk mengamankan Pilkada Papua Juni 2018. Jumlah personil sebesar itu dikarenakan Papua masuk dalam daftar titik rawan konflik Pilkada, selain Sumut, Maluku Utara, Kalbar, dan NTT.

“Lebih besar (jumlahnya), karena cukup rawan. Sudah ditingkatkan dari awal,” ujar Syafruddin di Istana Wakil Presiden, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (26/6/2018).

Di tengah hiruk pikuk berlangsungnya pemungutan suara di Papua, beberapa kejadian sebelum dan saat pencoblosan semakin menambah keseruan.

Di Kabupaten Wamena, warga yang hendak mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 05 Kelurahan Wamena Kota di Jalan Panjaitan sempat kebingungan. Pasalnya, TPS 05 ini tiba-tiba menghilang. Padahal Senin kemarin, TPS tersebut sudah selesai didirikan. Tetapi pada Rabu pagi, kayu pagar TPS dicabut tanpa ada alasan jelas apakah TPS itu dipindahkan atau tetap di lokasi.

Bahkan Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) belum hadir di lokasi TPS hingga pukul 10.30 waktu setempat. Warga bertambah bingung karena ketika dicari ke rumahnya, Ketua KPPS tidak berada di sana. Polisi pun bergerak cepat mencari keberadaan Ketua KPPS tersebut dan pada pukul 10.45 yang bersangkutan ditemukan sedang berada di depan Rumah Sakit Wamena.

Ketua KPPS langsung dibawa dengan mobil polisi ke TPS 05 dan acara pemungutan suara langsung digelar secara terburu-buru di tempat seadanya karena hari sudah siang.

Bila di TPS 05 agenda Pilkada tertunda lantaran Ketua KPPS menghilang, maka di TPS 01 Kampung Wesagenya, Distrik Wesaput, beberapa warga mengeluhkan nama mereka tidak masuk sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT). Lucunya, ada nama yang masuk dalam DPT diketahui telah lama meninggal.

“Yang masih hidup tidak bisa memilih, yang sudah mati malah disuruh memilih,” ujar seorang warga dengan nada bercanda.

Lukas Enembe Yakin Menang

Sementara itu, calon Gubernur Papua Lukas Enembe memberikan hak suaranya di TPS 023 Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

“Saya bersama istri datang untuk memenuhi kewajiban hak konstitusional untuk memilih calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua,” ujar Lukas Enembe kepada para wartawan.

Usai memberikan hak suaranya, Lukas berharap Pilgub dan Pilkada kali ini dapat berjalan aman di Papua. Dirinya pun yakin menang telak.

“Kami akan mendapat suara 70 persen,” katanya.

Lukas yang datang bersama istri mengaku sudah berkeliling ke semua wilayah di Papua untuk meminta dukungan masyarakat. (Om Yan)

News Feed