oleh

Ini Beberapa Catatan Terkait Pilgub Papua

 

Sugapa, Radar Pagi – Proses pemilihan gubernur (Pilgub) di sebagian besar wilayah Provinsi Papua berjalan dengan damai, termasuk di Kabupaten Intan Jaya. Meski demikian, pelaksanaan Pilgub 27 Juni kemarin masih meninggalkan beberapa catatan.

Khusus di Kabupaten Intan Jaya, pelaksanaan pesta demokrasi kali ini berjalan aman dan lancar. Hal ini tak lepas dari kesigapan Bupati Natalis Tabuni, S.Si, M.Si yang bersama jajarannya sejah jauh-jauh hari telah mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga keamanan dan ketertiban selama proses Pilgub berlangsung.

Bupati juga turun langsung melakukan peninjauan ke lapangan, termasuk meninjau TPS (Tempat Pemungutan Suara) dan mengingatkan aparat keamanan untuk menjaga netralitasnya, karena bila aparat tidak netral, dikhawatirkan bisa memicu konflik, apalagi mengingat Provinsi Papua masuk dalam daftar rawan pilkada.

Kesempatan ini dimanfaatkan pula oleh Bupati untuk mampir ke pasar mama-mana guna melihat sejauh mana perekonomian masyarakat kembali normal usai rusuh Pilkada Intan Jaya, beberapa waktu lalu. Sekaligus Bupati mengingatkan seluruh SKPD supaya fokus bekerja melayani masyarakat, biar perekonomian kembali normal.

Selain itu, sebagai warga negara yang memiliki hak pilih, Bupati Natalis Tabuni juga ikut memberikan suaranya dengan memilih pasangan calon gubernur dan wakil gubernur  yang diharapkan bisa membangun Provinsi Papua selama 5 tahun ke depan.

Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni mengimbau aparat keamanan untuk menjaga netralistas selama Pilgub 27 Juni 2018

Adapun beberapa catatan yang mesti diperhatikan dari pelaksanaan Pilgub Papua kemarin adalah masih adanya gangguan keamanan di beberapa kabupaten, misalnya aksi kekerasan di Kabupaten Nduga yang terjadi hanya 2 hari sebelum pelaksanaan Pilgub. Dalam aksi kekerasan yang diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) itu, tiga warga pendatang tewas, dan beberapa orang termasuk seorang anak kecil mengalami luka.

Lalu aksi kekerasan di Kabupaten Puncak Jaya yang juga meminta tumbal nyawa. Dalam insiden yang lagi-lagi diduga dilakukan oleh KKB itu, sedikitnya dua personil Polres Puncak Jaya dan seorang kepala distrik tewas.

Meski menurut Polda Papua, kedua serangan itu kemungkinan tidak terkait dengan Pilgub karena dilakukan oleh KKB, namun tak urung tragedi tersebut menimbulkan duka. Dan bagi KKB, setidaknya mereka berhasil memanfaatkan momen Pilkada untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat.

Momen Pilkada adalah momen yang rawan disusupi dan dimanipulasi oleh banyak oknum demi kepentingan masing-masing. Tentunya insiden ini bisa jadi catatan khusus yang perlu selalu diingat oleh aparat keamanan dan pihak terkait lainnya, agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.

Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni dan Anggota DPRD Provinsi Papua Maria Dwitau meninjau persiapan Pilgub Papua di Kota Sugapa

Catatan lainnya yang perlu digarisbawahi adalah masalah netralitas dan ketelitian penyelenggara dan pengawas Pilkada. Sebab masih muncul komplain dari salah satu pihak peserta Pilkada.

Ketua Koalisi Papua Bangkit (KPBJ) Jilid II, Mathius Awaitau, yang mendukung pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Papua nomor urut 1 Lukas Enembe-Klemen Tinal (Lukmen)  menyatakan jumlah suara yang ditampilkan oleh Komisi Pemilihan Umum di halaman daringnya (kpu.go.id) lebih sedikit dibanding data yang diterima dari para saksi di beberapa kabupaten.

“Kami tidak mau intervensi ke dalam (KPU), tapi kami hanya berharap kepada KPU bahwa data itu terus berlangsung dan dijalankan secara profesional karena lembaga ini adalah penyelenggara,” ujar Mathius Awaitau kepada para wartawan  di Jayapura, Sabtu (30/6/2018).

Dia mengimbau KPU  bekerja lebih profesional dalam hal penyajian hitung cepat di halaman daring tersebut dan meminta peserta Pilkada Papua lainnya untuk tidak menjadikan data dari KPU yang belum tuntas untuk mengklaim kemenangan dan berujung pada pembentukan opini publik.

Dengan adanya komplain seperti ini, tentunya KPU harus meneliti kembali jumlah suara masuk, apakah sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Sebab kesalahan atau ketidaktelitian KPU dalam menginput data bisa menimbulkan kecurigaan masyarakat bahwa KPU bersikap tidak netral, dengan cara mengurangi perolehan suara salah satu paslon demi menguntungkan paslon lainnya.

Bupati Intan Jaya berkunjung ke Pasar Mama-mama di Kota Sugapa untuk membantu menggairahkan perekonomian warga dengan cara berbelanja sayuran dan buah-buahan. Selain itu Bupati juga ingin melihat sejauh mana perekonomian warga kembali normal usai rusuh Pilkada Intan Jaya beberapa bulan lalu.

Selain itu, beberapa saksi di daerah mengaku bahwa hologram pada formulir C1 ternyata tidak ada. Hal demikian berpotensi menimbulkan keributan terkait sah atau tidaknya formulir C1 yang tidak ada hologramnya. Bila formulir tersebut dinyatakan tidak sah, maka jelas hal itu merugikan perolehan suara dari pasangan calon yang dipilih oleh warga dengan menggunakan formulir tersebut.

Bayangkan bila di suatu daerah yang menjadi kantong pendukung salah satu calon ternyata formulirnya banyak yang dinyatakan tidak sah hanya karena tidak ada hologramnya? Menyikapi soal hologram ini, diperlukan ketegasan KPU untuk mencarikan solusinya yang sama-sama menguntungan dan tidak saling merugikan antar pasangan calon.

Sejauh ini, dari hasil perhitungan cepat yang dilakukan KPBJ Jilid II, sampai pukul 13:30 WIT hari Sabtu ini, pasangan nomor urut 1 Lukmen menang 65.40 persen, sementara pasangan nomor urut 2 (Josua) 34.60 persen. Jumlah suara yang diinput 1 juta lebih dari total DPT 3 juta lebih.

“Kami optimis data ini cukup valid karena diambil dari C1 yang sudah ditandatangani oleh KPPS dan saksi. Kami tetap tidak mau ada sesuatu yang tidak pasti,” katanya. (Om Yan)

News Feed