oleh

700 Petugas PPIH Khatamkan Alqur’an di Tanah Suci

-Utama-698 views

 

Mekah, Radar Pagi – Lantunan ayat suci terdengar dari halaman Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Minggu (22/7/2018) malam, saat sekitar 700 petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengkhatamkan Alqur’an. Ini merupakan bagian dari Malam Ta’aruf Petugas Daker Makkah sekaligus ajang ramah tamah.

Ketua PPIH Arab Saudi, Ahmad Dumyati, yang hadir dalam kesempatan ini mengingatkan kepada seluruh petugas bahwa paradigma seorang pemimpin adalah melayani. “Terlebih di Tanah Suci ini adalah sebaik-baiknya tempat untuk melayani,”  ujarnya, kemarin.

Menyadari hal tersebut, ia mengajak kepada seluruh petugas melayani jemaah dengan sepenuh hati. “Melayani ibarat menuangkan isi teko, apa yang ada di dalamnya akan keluar,” ungkap Ahmad memberikan ilustrasi. “Jika hati kita bersih maka yang diwujudkan dalam perbuatan adalah kebaikan,” sambungnya.

Sementara Kadaker Makkah, Endang Jumali, mengingatkan bahwa orang yang memberikan pelayanan ibadah akan mendapat pahala sama dengan yang melakukan. “Dan itu tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakan ibadah, termasuk haji di dalamnya,” ungkap Endang. 

Dalam kesempatan ini pula ia memperkenalkan segenap jajarannya, termasuk 12 Kepala Sektor yang ada di wilayahnya. 

Khataman Alqur’an pada malam ini dipimpin oleh Prof. Dr. Aswadi Suhada, pembacaan dzikir oleh KH Masrur Ainun Najih dan doa oleh KH Musta’in Syafi’i. Malam ta’aruf diakhiri dengan menyantap sajian nasi kabsah khas Arab. 

Jamin Makanan Haji

Sementara itu, Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusuf Singka menjamin layanan makan bagi jemaah haji yang menjalani perawatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Menurutnya, tidak boleh ada jamaah yang tidak dapat makan di KKHI, baik pasien rawat inap ataupun pasien yang hanya mampir di IGD. 

Dikatakan Eka, makanan jemaah haji sakit diberikan tiga kali sehari dengan dua kali snack selama pasien dirawat. Pemberian makanan dan snack serta minuman kesehatan dilakukan selama operasional haji, kurang lebih 76 hari.

“Pasien tidak dipungut biaya sepeserpun. Semuanya berasal dari dana APBN Kemenkes,” jelas Eka Jusuf Singka sebagaimana dikutip dari rilis Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kemenkes,  Minggu (22/07).

Senada dengan Eka,  petugas Gizi KKHI Madinah, Sri Rezeki memastikan bahwa Tim Gizi KKHI telah menyiapkan makanan sesuai dengan kondisi pasien. Bahkan,  tim gizi juga menyuapi pasien bila diperlukan.

“Pasien jemaah haji yang masuk rata-rata tidak ada pendampingnya, maka untuk meningkatkan asupan, kami bantu. Kami turun tangan membantu menyuapi. Pasien sebenarnya mau makan, itu terbukti dengan mereka menghabiskan semua makanannya ketika disuapi,” kata Sri Rezeki. 

Sri menambahkan, intervesi yang diberikan ini bertujuan agar jemaah haji lekas pulih dan dapat segera kembali ke pondokan. 

“Kami membantu dalam memberikan makan bagi pasien yang tidak mampu melakukan sendiri. Pada saat menyuapi pasien ini dimanfaatkan untuk melakukan edukasi. Misalnya pada pasien diabetes, sebenarnya semua makanan boleh dimakan, yang penting porsi tidak boleh lebih dan jam makan tidak boleh lewat. Bila tidak diatur maka akan menimbulkan kenaikan gula,” kata Sri.

Sri mengimbau agar jemaah yang makan, jangan asal kenyang. Jemaah perlu makanan dengan gizi seimbang, karena setiap zat gizi punya fungsi masing-masing yang harus dipenuhi. Bila tidak, maka berisiko akan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. 

Sri juga mengingatkan agar jamaah haji memperbanyak konsumsi makanan yang kaya kandungan serat dan airnya. “Untuk makanan ringan dapat dikonsumsi seperti pudding,” katanya.

Sementara itu, bagi jamaah haji yang membawa makanan dari Tanah Air, perlu memperhatikan jenis makanan yang dibawa dan riwayat penyakitnya. Penderita hipertensi harus membatasi konsumsi mie instan dan kecap yang tinggi natriumnya, dan juga berpengawet. 

“Sebaiknya mereka memilih bahan makanan yang alami. Namun bagi jemaah yang sehat, tidak masalah membawa bekal seperti ini,” kata Sri. 

Jemaah juga diingatkan untuk tetap makan tiga kali sehari. Banyak minum air putih dan konsumsi sayur. Pada katering yang disediakan untuk jamaah, tertera ada batasan waktu. Untuk makan siang batas akhir dikonsumsi adalah pukul 15.00 WAS, sementara untuk makan malam dibatasi sampai pk. 22.00 WAS. “Bila sudah lewat waktu sebaiknya jangan dikonsumsi. Khawatir akan tumbuh bakteri,” tambah Sri.

Tim Gizi di KKHI Madinah selain bertugas dalam pelayanan makanan jemaah haji sakit, juga memberikan pelayanan makanan bagi petugas kesehatan, baik petugas di KKHI, di Bandara, dan petugas di sektor-sektor. Petugas jangan sampai sakit. Untuk itu,  gizinya juga harus diperhatikan. (fajar)

News Feed