oleh

Kasus Sukamiskin, Jebolnya Benteng Terakhir Penegakkan Hukum

-Hukum-1.026 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Kepala Lapas (Kapalas) Sukamiskin Wahid Husen, pada Jumat malam, 20 Juli 2018, diduga terkait suap pelaksanaan tugas atau pelayanan di dalam lapas.

Selain Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersebut, KPK juga menangkap pihak swasta, pegawai lapas, serta artis Inneke Koesherawati bersama suaminya. Tentu hal ini harus menjadi perhatian bagi penegak hukum.

Kasus Sukamiskin ini bisa menjadi pelajaran bagi penegakan hukum. Pasalnya penjara adalah benteng terakhir menghadapi kasus hukum. Jika pertahanan itu sudah jebol, maka penegakan hukum harus segera dikoreksi.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Hamonangan Laoly mengaku kasus yang terjadi di Lapas Sukamiskin merupakan tamparan keras bagi jajaran Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

“Peristiwa yang terjadi di Sukamiskin merupakan tamparan keras bagi jajaran Kemenkumham,” kata Laoly , di Porong Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (22/7/2018) malam.

Banyak praktisi hukum menilai Lapas hanya satu dari sekian aspek di Indonesia yang digerogoti korupsi.

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar merasa tidak heran, karena sudah berulangkali kasus suap ‘Bisnis Hotel’ di dalam lembaga pemasyarakatan terbongkar.

Paska kasus Lapas Sukamiskin, Menkumham pun melakukan Inspeksi, dan berhasil menyita sejumlah barang terbilang mewah di dalam Lapas. Menhumkam berkilah pihaknya sudah sering bersih-bersih narkoba, termasuk di dalamnya pembersihan telepon genggam.

“Namun yang terjadi sekarang ini adalah jual beli fasilitas, ini yang mencoreng lembaga,” ucapnya.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan sebaiknya sel narapidana kasus korupsi dikembalikan sesuai standar yang ada.

“Seluruh sel di Lapas Sukamiskin dan lapas-lapas lainnya semestinya dikembalikan sesuai standar,” kata Febri.

Dari indikasi tersebut, Abraham meminta KPK mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat. Bahkan diduga juga ada oknum dari kementerian yang ikut bermain dalam pengadaan fasilitas mewah di dalam sel. “Seret semua pihak yang terlibat!” ujar Abraham.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif mengungkapkan, tarif untuk mendapatkan fasilitas mewah dalam sel narapidana di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat itu sekitar Rp 200 juta sampai Rp 500 juta.

“Ya, itu salah satu yang sedang kami teliti berapa seseorang itu membayar,” kata Laode M Syarif, Sabtu (21/7/2018) malam.

Berikut sejumlah praktik suap di dalam Lapas maupun Rutan yang sebelumnya pernah mencuat:
1 . Artalyta Suryani alias Ayin Pada Minggu, 10 Januari 2010 malam, anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang dipimpin Denny Indrayana menemukan ruang terpidana Ayin dan Limarita alias Aling terpidana seumur hidup dalam kasus narkoba.

Ruangan Ayin berada di Blok Anggrek Nomor 19. Dia tinggal bersama asisten pribadinya, Asmiyati yang merupakan terpidana dua tahun enam bulan penjara. Di dalam ruangannya terdapat beragam peralatan mewah.

  1. Haryanto Chandra alias Gombak Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 31 Mei 2017, menemukan ruangan sel mewah yang ditempati narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Jakarta Timur, Haryanto Chandra alias Gombak.
  2. Freddy Budiman Pada September 2013, Gembong narkoba yang sudah dieksekusi mati Freddy Budiman juga sempat menghebohkan. Meski tinggal di dalam ruangan sel di Lapas Cipinang, ia masih mengendalikan peredaran narkoba. Dia juga memiliki ruang atau dikenal dengan ‘bilik asmara’.
  3. Agusrin Najamuddin Pada Sabtu, 18 Mei 2013, Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum mendapati ruangan sel mewah di sel nomor 38 Lapas Sukamiskin. Di ruangannya yang berukuran 2,5 meter x 4 meter ditemukan tempat tidur, meja kerja dan rak buku. Bahkan ada alat masak juga.
  4. Gayus Tambunan Pada November 2010, nama Gayus HP Tambunan kembali mencuat, manakala terdakwa kasus mafia pajak ini bebas keluar masuk dari Rumah Tahanan Markas Komando Brimob Kelapa Dua. (igo)

News Feed