oleh

Dr. Hj. Anna Mariana, S.H, M.H, MBA: “Politik Menghujat Jadi Budaya”

-Nasional-160 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Praktisi hukum dan pemerhati budaya, Dr. Hj. Anna Mariana, S.H, M.H, MBA, merasa prihatin dengan politik tidak beretika yang belakangan marak terjadi. Hujat menghujat dan saling menjatuhkan yang kerap dipertontonkan tokoh-tokoh politik tanah air, dinilai sama sekali tidak mencerminkan budaya Indonesia.

“Politik tidak beretika ya seperti ini, hujat meng­hujat dan saling menjatuhkan, jadinya tidak berbudaya,” kata Hj. Anna saat ditemui di butik miliknya, House of Marsya, di Jl Kartika Utama SM 29, Pondok Indah Jakarta Selatan, kemarin.

Hj. Anna membandingkan dengan kondisi negara lain. Di luar negeri, kata­nya, Presiden merupakan simbol negara yang harus dilindungi. Tetapi di Indonesia, Presiden dengan mudahnya dihina sebagai kecebong.

“Saya tidak setuju dengan hal semacam itu. Presiden telah berjuang memberikan kontribusi tenaga dan pikiran untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Anak bangsa yang baik adalah mereka yang mau menghargai pemimpin dan para pahlawannya,” ujar Hj. Anna.

Dia menilai, selama 5 tahun terakhir, Presiden telah bekerja maksimal, antara lain terlihat dari beberapa proyek infrastruktur yang dulu mangkrak, sekarang berhasil diselesaikan.

“Kita harusnya bersyukur mempunyai Pre­siden yang mau dan mampu menyelesaikan PR-PR masa lalu, dan pada saat bersamaan memiliki program-program baru yang sudah dan sedang berjalan,” katanya.

Menurut perempuan kelahiran Solo, 1 Januari 1960, yang juga dikenal sebagai desainer kain tenun dan songket nusantara ini, kegagalan partai politik dalam membina kadernya menjadi salah satu penyebab maraknya politik tidak beretika.

“Di luar negeri juga ada ‘panggung politik’, tetapi masih dalam batas-batas kewajaran, tidak seperti di sini yang sudah kebablasan,” katanya.

Dia menilai lantaran etika budaya sudah ditinggalkan dan tidak lagi dijadikan sebagai pegangan, maka tak heran bila orang-orang politik banyak yang ngomong ceplas-ceplos tidak karuan, tidak pakai etika dan tidak bermoral.

“Saya sangat prihatin. Apakah hal seperti ini yang akan terus kita pertontonkan dan wariskan kepada anak cucu kita?” katanya dengan nada miris.

Hj. Anna pun mengimbau kepada seluruh public figure untuk memberi contoh moral dan etika yang baik sesuai budaya Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Berpolitiklah yang santun. Ketika terpilih sebagai anggota dewan atau pejabat, berikanlah contoh yang baik,” katanya.

Hj. Anna berpendapat bangsa ini bisa selalu dalam kondisi damai bila kita mau saling menghargai, tidak mengadu domba dan tidak mau diadu domba, serta tidak membawa isu agama ke ranah politik, karena ketika agama dibawa ke ranah politik, maka image agama tersebut akan rusak, sebab akan muncul anggapan bila agama bisa diperjualbelikan.

“Saya sendiri kurang setuju dengan ulama yang berpolitik atau diseret-seret untuk mendukung kepentingan politik golongan tertentu. Ulama itu figur, panutan. Tugasnya mendoakan umat dan memberikan tausiyah dan saran yang baik. Kalau ulama sudah terjun ke politik, lalu ikut-ikutan menghujat orang, maka tak ubahnya seperti politikus nyasar atau politikus berkedok ulama,” katanya.

Di akhir perbincangan, istri dari H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H, M.H, MSc ini mengimbau masyarakat untuk cerdas memilih pemimpin yang benar-benar mau bekerja untuk rakyat, bangsa dan negara, serta tidak punya catatan sejarah kelam di masa lalu.

“Banyak calon presiden yang baik, tapi apakah sudah benar-benar siap menjadi pemimpin? Yang mau bekerja, bekerja, dan bekerja, serta tidak punya sejarah masa lalu yang tidak baik?” tandasnya. (kornel/nana)

News Feed