oleh

Puisi-puisi Saiful Bahri

-Puisi-218 views

 

Narwastu

aku pernah menjadi warna

mengulum putik senyum bunga.

menghayal diam dalam bisu

menghasu siapa yang merindu?

di antara keringat senja dan bait titah para raja.

 

hitam aspal meronta ranah di rahim tanah

lalu lalang pada dekap-dekap masa, tak kenal apa itu luka?

mengiringi hitam tanpa kelam, melintas tiada hingga ada.

 

suatu petang tiba meradang, kucabut lalang di ladang-ladang

daun-daun yang tumbuh mekar mengembun do’a disetiap putiknya

angin-angin menerpa anak kecil yang sedang rukuk di pinggir kolam.

tersesat isyarat hangat pelukan, sebab kita bukanlah pilu sedingin salju

disini, hidupku bebas membagi narwastu hangat kelabu.

Bungduwak, 2017-2018

 

KALAM SEPI

Tiada kata, yang mendamaikan gejolak rasa di hati hamba,

kecuali “kun” firman Tuhan menjadikan langit dan bumi ada.

 

kisah sepi mesti harus saling mengerti

beribu nafas telah kudendangkan suara “ya” pada Tuhan

hingga semuanya meminta ramai, tak satu pun mengharap rima kesepian.

sesekali obat sepi tak terbeli, telahir rindu yang mengalunkan nada-nada puisi.

melintas ramai terasa sepi, masihkah hamba bisa mengitari samudera sedalam sunyi?

Sebab, aku pernah merasa sepi di antara kicau-kicau burung

yang menyaksikan senja di telan bumi.

Tuhan, ajari aku membunuh sunyi, ajari aku merajam sepi.

 

suara nelayan tak pernah menghujat perihal sepi di bulan Januari

sampan-perahu tak pernah lesu mengibarkan layar menyusuri lautan.

meski mentari enggan menerangi isi alam, para nelayan tetap saja menerjang ombak.

pasrah pada Tuhan yang bisa mengantarkan kisah kasih sepi pada sayap-sayap ikan.

 

Tiada kata, yang bisa mendamaikan gejolak jarak di hati hamba,

kecuali Kalam Tuhan yang menjadikan langit dan bumi ada.

 

Januari masih menyalakan labirin kisah beratap sunyi

sementara ramai engkau lupakan sesaat aku mengecup bibirmu

kasih, bukankah itu sisa keramaian yang mestinya engkau ingat !

mestinya engkau melupakan isak tangis dan gerimis senja di bulan ini.

 

sesaat engkau pinta hujan rinai pada Tuhan, sesaat tubuhmu menggigil beku

hingga engkau yang berkata “aku kedinginan terhanyut kesemuan air mata”

aku ingin membuang sepi, Tuhan memeberiku arti: sepi yang menepi.

 

kisah sepi akan sampai pada tanaman padi di sawah itu

airnya deras mengalirkan rasa yang menggenangi lesung ranum pipimu

aku hanya bisa terdiam merahasiakan senyumanmu di petang malam

sebab Tuhan telah menjadikan alam hijau serupa pucuk-pucuk sepi

lantas aku masih menghujat datangnya gerimis yang menepi

Kasih, gerimis tak pernah mengungdangmu untuk sejenak mengingatku

 

doa hujan engkau inginkan, bila tertuang kau abaikan

sejenak aku mendengar jeritan tangis di kamarmu

yang mengundang tubuhku meracik kehangatan di tubuhmu.

 

Tuhan, aku tak mengerti pada gejolak hasrat dan sepinya kisah ini.

sebab aku tak bisa hidup tanpa kasih yang berarti.

Tiada kata yang bisa mendamaikan gejolak rasa di hati hamba,

kecuali engkau, Tuhan, berfirman “kun” menjadikan langit dan bumi ada.

2018

 

SAJAK RASA UNTUK NAILAH

Sudah lama aku diam di amperan sajadah gairah diam

Menintai putih, menyulam kisah tanpa perih

di baris doa yang menebar kenang aroma tubuh

engkau memilih mata dari sujud agama subuh

 

Aku ingin meringkus kenagangan

Jejak jarak akan hadir memetik bunga dari syurga

Ingat namaku, yang akan mengobati perih rindu

dengarlah alunan riap dalam derap langkah kakiku.

 

Tulislah namaku dalam mimpimu, mimpi yang menjemputmu berbulan madu

Bila sunyi kau anggap arang, akulah yang bisa merubah puing sunyi

Percayalah, apapun akan kucari hingga lautan kusebrangi.

 

Lama sudah aku menunggu

Tapi engkau masih ragu akan cumbu rayu palsu

Jangan takut pada hujan yang bertandang

Akan kuperangi gerimis langit sehitam arang.

Sumenep, 2017-2018

 

PANTAI TORAJA

gemuruh ombak iringi langkah, merajut kata mutiara

seakan matahari menyulam laut menjemput subuh yang menepi

angin-angin bersetubuh riang menintai alam pantai Toraja

kupeluk hangat tawa, tumbuhlah arti yang menyimpan damai pulau Madura.

 

tak pernah sia-sia Tuhan ciptakan panorama indah di pantai ini

burung camar menjalar hangat melepas kicau bersalam sapa

ikan-ikan menyapa sajak kedamaian, seakan kata tak pernah hidup tanpa Toraja

biarkan saja aku hidup dengan karang, tanpa menghujat gigil yang meradang.

 

Toraja mekar berseri, tergenanglah dermaga nafas yang melantunkan rima puisi

bunga-bunga mekar senyum di dadaku, hingga aku tak kenal sunyi yang berduri.

 

di pantai ini, aku duduk menyaksikan suara debur ombak, pantai Toraja menarik sapa

aku berteriak memandang wajah ranum matahari, cerlang Toraja menembus dada.

sesaat aku bersimpuh menukik karang di laut kisah Adam dan Hawa

sejenak aku bertasbih mengecup rasa yang tertunda. “Toraja oh Toraja.”

 

Pantai Toraja — sekali pun tak pernah memberiku secuil perih, luka bahkan derita

di sini, aku berteriak memanggil cahaya — menghembuskan nafas sedalam doa

pasir yang kuinjak, tanah yang kubajak adalah suasana terang di bibir pantai,

damai pantai yang merubah cahaya mekar menyala. terasa aku tak kenal apa itu luka.

 

suara burung, menjadikan keramaian yang melantunkan damai jantung Toraja

adalah tempatku merajut cinta; memetik segudang kata penuh makna.

 

Siang tiba meradang, sementara mataku masih lupa akan arah jalan pulang

mataku masih tenang memandang samudera, jauh di dasar arus kedip cahaya

alam ini menjadikan putik narwastu bunga , hingga aku tak kenal apa itu sendu.

sesaat tubuhku mulai membeku, tubuhku mulai membiru; meniti pasir pelukanmu.

Bungduwak-Dungkek, 2017-2018

 

Saiful Bahri, lahir di Sumenep. Penulis buku puisi: Senandung Asmara dalam Jiwa. Pemenang sayembara terbit buku, di penerbit Tidar Media. Tulisannya pernah tersiar di media lokal maupun nasional. Saat ini, ia masih aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak. Kini bermukim di Dusun Bungduwak, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep.

News Feed