oleh

Andy T. Nitidisatro Imbau Parpol Jeli Siapkan Calon Pemimpin

-Nasional-152 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Dalam iklim demokrasi, partai politik seharusnya dibentuk mulai tingkat distrik/ kecamatan, lalu ke tingkat kabupaten/kota, kemudian provinsi dan  berakhir di tingkat nasional. Karena itu, pengurus partai harus mampu menilai dan merekrut kader yang berintegritas untuk menjadi politisi/ negarawan / pemimpin bangsa.

Demikian dikatakan pengamat politik Andy T. Nitidisatro, di Jakarta, beberapa saat lalu.

Jadi, sambung Andi,  pengurus partai  harus  jeli menyiapkan calon-calon pemimpin sebagai manajemen harian bukan sekadar rebutan kedudukan.

Andi juga menegaskan, dalam pemilu sistem presidential di alam demokratis, tidak ada batasan jumlah partai, bahkan perorangan pun boleh. Tapi yang membatasi adalah seleksi alam, yaitu pemilih sendiri  yang berjenjang dari setiap tingkatan.

“Hal ini sudah berjalan di  negara-negara asalnya sistem presidential. Contoh di AS zaman  Pilpres  Bush ikut pemilu 58 partai dan perorangan di tingkat distrik. Di tingkat  nasional/serikat, muncul calon perorangan,  yaitu Perrot bersaing dengan Clinton dan Bush, namun dimenangkan oleh  Clinton,” katanya.

Sementara di Indonesia, kata Andi, partai-partai bersifat top down  dan pemimpin partai merasa bisa jadi presiden.  Baru di era Megawati sebagai Ketua Umum PDIP, partai menilai dan merekrut calon pemimpin bangsa di luar pengurs partai, suatu konsep perubahan menuju sistem presidential yang benar dalam alam demokrasi .

“Hal ini diteruskan oleh Jokowi  agar muncul calon-calon pemimpin bangsa di luar partai, serta menjadikan partai sebagai manajemen saja. Sehingga partai tidak mendominasi pemerintahan,  karena dalam sistem presidential di alam demokrasi  tidak ada  batasan jumlah partai dan tidak ada istilah partai oposisi,” katanya.

Menurut Andi, partai-partai seharusnya tidak memberikan janji apapun, karena yang berjanji  hanyalah capres. Dengan demikian, Pemilu Presiden harus lebih dulu dari pemilu Legislatif.

“Menjelang Pilpres 2019 dimungkinkan sekali Jokowi akan terus memperbaiki sistem presidential dengan memilih cawapresnya dari tokoh/politisi/negarawan/ profesional, sesuai seleranya dan skala prioritas,” kata Andi.

Dia mencontohkan, bila pilihan Jokowi adalah dari segi keamanan, maka ada Muldoko, Tito Karnavian, dan  Budi Gunawan.  Bila skala prioritasnya ekonomi ada Sri Mulyani, ada Adiningsih. Dan bila skala prioritasnya ideologis, maka ada Mahfud MD dan Eros.

Ke depannya, untuk mengurangi money politik, MK diharapkan merubah pemilu serentak ini dengan pemilu presiden (sesuai sistim presidential yang benar),  karena akan terbentuk voluntir-voluntir yang akan mensukseskan capres dengan berkorban dana, waktu, serta energi demi capresnya yang paling mumpuni dan dinilai mampu mensejahterakan dan membawa bangsa ke arah yang lebih baik.

“Dengan demikian, kepercayaan masyarakat pada partai bisa meningkat kembali, tidak seperti saat ini dimana tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai sudah sangat mengkhawatirkan,” katanya. (igo)

 

News Feed