oleh

Puisi-puisi Saiful Bahri

-Puisi-201 views

 

JIHAD SUNYI

dawai perang mengguncangkan dukana hasrat petang

tergerai jawaban jihad sunyi yang menyulam cahaya kunang-kunang

Tapi, belum sempat kuceritakan rasa pahit ini pada hujan

belum pula pada bibirmu, sementara puisi hanya isyarat-isyarat semu.

kalau puisi itu namaku, diamlah sejenak di sisiku

kalau sepi itu namamu, jangan buat aku merindukanmu.

 

kalau tak ada gumpalan mendung, mendung hujan takkan meraung

kemaren, jelas tanyamu sudah nyata, mengapa air itu mengalir?

lalu kenapa harus ada gerimis yang harus mematikan beribu nafas orang kafir

miris mengiris dalam ingatan mistik sihir, di rahim syurga: aku juga bisa bertakbir.

 

mereka berperang menintai sepi, sedangkan aku masih sibuk mencari arti

mereka diam menyulam asa beserta do’a, sementara aku masih tenggelem di laut asmara.

 

sudahkah Jum’at kau jadikan isyarat jihad sunyi, tak perlu tubuhku kau tangisi

air-air membasahi bumi. simpati bumi seringkali kau racuni

panjang pedang kau buat perang berselendang remang-remang hina

masih maukah engkau, pada tangan-tangan yang terpaku menjilat jihad dekap sunyi

atau malah engkau tendang aku. diam seribu kata, kelam tanpa suara makna bahasa.

Sunyi dan nyeri, menjadi istri akan gebu keringat ini. mekarlah sepi dalam gejolak jingkat jihad sunyi.

Bungduwak, 2017-2018

 

KENANGAN 1/

sepintas melepas senja mekar menyala

memerahkan lehermu lewat pelukan dekap diam

orang-orang mencari kemana aku pergi.

suatu ketika menyapa angin menyuruh diam

sesekali kucium aroma tubuhmu sesaat langit

sedang bermain dekat awan bercumbu rayu.

 

engkau hanya diam, aku juga diam tersayat kelam.

sore itu masih menyisakan setetes sinar bermekaran

belum kubuka kerudungmu, sementara nyamuk menggigit lehermu

aku cemburu melihat nyamuk mencubit wangi aroma tubuhmu

tak bisa kubuang begitu saja, apa lagi yang berkaitan dengan rasa

terasa engkau adalah narwastu membuat mata lupa kedipnya.

 

hangat peluk yang kau dekap, ini syurga yang berubah air mata

sesaat engkau merasa terluka, tersakiti tajam sajak sihir jarak

belum lagi dengan kenangan yang sempat kujejakkan kaki ini

aku ingin sunyi ini menjadi kenyataan dan harapan.

 

tiada habis engkau menangis terkikis arah jalan yang berliku

sabarlah meniti lindap kenangan yang menjilat. Ini hanya sepi

aku belum pernah menemukan sendu lewat cucuran air matamu

baru kali ini aku sadari. sudahlah, jangan kau anggap ini sajak semu di laut biru.

                                                                                                  Bungduwak, 2017

 

KENANGAN 2/

sempat hati kau tangisi, berselimut hujan menghitung ihwal derita hari

hingga lukamu kau tuduh aku yang membuat kenangan melelahkan

lalu siapa yang menintai sepi, bukankah kenangan ini kau namai duri.

wahai engkau atas nama bunga, mengalirkan air sungai yang menjadikan kata mutiara

;percayalah pada Tuhan yang lebih tahu arti luka dan kecewa.

 

kenangan ini sama sekali bukan maksudku menyakitimu

apa lagi hatimu kusisipkan rajam setajam karang, itu bukan aku !

pada api yang membakar kertas, pada bulan yang menyiram nafas

aku di sisimu menjadi arah. luka itu bukan kenangan yang kubuat,

hanya takdir Tuhan yang dirahasiakan; dulu, aku menjanjikan bulan.

 

serasa pagi begitu iri melihat sekawan camar membelah hujan

aku berteduh dengan rasamu, yang akan hadir membagikan hangat di dadamu,

“ini rencanaku,” katamu. tapi kenapa itu berubah duka dan nestapa. ingatkah itu semua?

 

haruskah kutanyakan kenapa pada siapa. kenapa dan kenapa ??

ataukah siapa yang bisa menjawab engkau bisa terluka ??

kutanyakan pada hujan, ia sibuk bersanding angin-angin sepoy

kutanyakan pada mendung, ia tidur membagi petang di sudut remang.

hanya saja aku kuat menahan gigil, meski gerimis aku malah tak peduli; ini hanya ilusi.

 

malam ini — menjadi kenangan diam di antara bait rasa yang tenggelam

sebutlah namaku jika perlu — perihal kenangan yang pernah tersirat dalam kalbu.

                                                                                             Bungduwak, 2017

 

Saiful Bahri, lahir di Sumenep. Penulis buku puisi: Senandung Asmara dalam Jiwa. Pemenang sayembara terbit buku, di penerbit Tidar Media. Tulisannya pernah tersiar di media lokal maupun nasional. Saat ini, ia masih aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak.

News Feed