oleh

Ma’ruf Amin Sindir ‘Belah Sono’ Tak Hargai Ijtimak Ulama, Ini Reaksi Kubu ‘Belah Sono’

-Nasional-82 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Sindiran cawapres KH Ma’ruf Amin bahwa pihak ‘belah sono’ tak mendengar hasil Ijtimak Ulama, dan pihak capres Jokowi-lah yang yang menghargai ulama, menjadi kontroversi. Justru Prabowo dinilai lebih menghargai ulama karena semua keputusannya selalu didiskusikan lebih dulu dengan ulama.

“Justru Pak Prabowo sangat menghargai ulama, karena itu semua keputusannya didiskusikan dengan para ulama,” kata Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, Sabtu (11/8/2018).

Sebelumnya, Ma’ruf menyindir soal kelompok yang selalu menyebut dirinya sebagai pihak yang menghargai ulama, namun  kelompok tersebut tak mendengarkan hasil Ijtimak Ulama.

“Ada belah sono ngomongnya menghargai ulama, tapi hasil ijtimak ulamanya nggak didengerin, malah wakilnya bukan ulama,” ujar Ma’ruf di kantor PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Sebagaimana diketahui, Ijtimak Ulama merekomendasikan nama politisi PKS Salim Segaf Al Jufri dan Ustaz Abdul Somad menjadi cawapres Prabowo. Namun mantan Pangkostrad itu malah memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres.

Terkait hal itu, Mardani menjelaskan, terpilihnya Sandiaga Uno merupakan bagian dari strategi. Meski bukan ulama, Sandiaga dipandang  bisa mewujudkan harapan ulama.

Selain itu, kata Mardani, bila Prabowo hanya mengambil salah satu ulama sebagai cawapres, maka kesannya membenturkan sesama ulama.

Tanggapan lebih keras datang dari Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono. Dia meminta Ma’ruf tak mengurusi koalisi Gerindra-PKS-PAN-Demokrat.

“Begini, Mang Ma’ruf itu kan harus sadar semua pilihan politik. Kita menghormati Mang Ma’ruf sebagai ulama mau jadi wakilnya Pak Joko Widodo. Itu kita hormati, kita tidak mencela dia. Sekarang kok dia ikut-ikutan urusan kami?” kata Poyuono.

Menurutnya, keputusan memilih Sandiaga bukan berarti koalisi Gerindra tak menghargai Ijtimak Ulama.

“Pak Abdul Somad mengatakan, lebih mementingkan umat dan berdakwah. Artinya Pak Ustaz Abdul Somad tidak mau kan jadi cawapres. Jadi beda antara Ustaz Abdul Somad dengan Mang Ma’ruf,” sindir Arief.

Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai pernyataan Ma’ruf  tak pantas disampaikan karena seolah memanas-manasi. “Ini tidak patut, ya, karena beliau juga seorang ulama, terkesan menyindir-nyindir dan memanas-manasi,” terang Ferdinanddilansir detik.com.

Menurutnya, Ma’ruf  harus bisa menjaga kesejukan dalam pilpres ini. Ijtimak Ulama itu adalah usul. Yang namanya usul bukan menjadi mutlak harus dilakukan. “Namanya juga usulan, rekomendasi,” kata Ferdinand

Sementara pengacara Rizieq Shihab yang kini menjadi caleg PDIP, Kapitra Ampera, mengaku mengamati parpol-parpol yang menempel ke gerakan aksi bela Islam sejak awal. Namun kini dia merasa partai-partai itu hanya memanfaatkan sentimen umat Islam saja.

Masuknya nama politisi senior PKS Salim Segaf Al Jufri sebagai salah satu cawapres yang disodorkan Ijtimak Ulama kepada Prabowo dianggap menjadi bukti bahwa parpol hanya memafaatkan umat Islam.

“Ini bukti bahwa mereka bukanlah orang yang membela umat Islam, bukan membela suara umat, tapi memanfaatkan aktivitas Aksi Bela Islam,” ujar Kapitra.

Sandiaga Uno sendiri sebagai salah satu pihak yang menjadi sasaran tembak sindiran Ma’ruf Amin memilih jawaban diplomatis saat dimintai tanggapannya soal kubu ‘belah sono’ yang tak menghargai Ijtimak Ulama.

“Pak Kiai Ma’ruf Amin itu guru saya, kiai saya. Kalau ketemu dia, saya cium tangan bolak-balik empat kali. Hormat sekali saya sama dia,” ujar Sandiaga tanpa mau merespon lebih jauh sindiran Ma’ruf. (eka)

 

News Feed