oleh

Produksi Kendaraan Dalam Negeri Capai 1,5 Juta Unit Tahun 2020

-Ekonomi-705 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan produksi kendaraan di Indonesia akan mencapai 1,5 juta unit pada tahun 2020 dan naik menjadi 4 juta unit di tahun 2035. Sedangkan target untuk ekspor kendaraan pada tahun 2020 sebanyak 250 ribu unit dan meningkat 600 persen di tahun 2035 sehingga menjadi 1,5 juta unit.

Sesuai peta jalan pengembangan industri otomotif nasional, pada tahun 2020 sebesar 10 persen dari 1,5 juta mobil yang diproduksi di dalam negeri adalah golongan kendaraan beremisi karbon rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV). Kemudian, di tahun 2035, dibidik naik sampai 30 persen saat produksi mencapai 4 juta unit mobil.

Presiden Institut Otomotif Indonesia (IOI) I Made Dana Tangkas mengatakan, IOI dan MAI mendorong joint venture antara perusahaan komponen otomotif di Indonesia dan Malaysia agar dapat memenuhi kebutuhan principal yang banyak berada di kedua negara. Selain itu, bakal menginisiasi terbentuknya ASEAN Automotive Institute Federation. 

“Hal ini agar kita bisa mengelola pasar ASEAN dengan mandiri,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dengan kekuatan industri komponen kedua negara, industri otomotif bisa mengenal konten ASEAN untuk kendaraan dari total komponen yang diproduksi oleh negara ASEAN.

“Sekarang minimal di masing-masing negara local content 40 persen, kalau dijumlah bisa mencapai 100 persen sehingga bisa disebut ASEAN content. Jadi, dari sini, mobil ASEAN bisa dibangun,” tuturnya.

Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Darell Leikingmenyampaikan, gagasan mobil ASEAN disampaikan oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Melalui kerja sama institut otomotif kedua negara, diharapkan ada perluasan pasar bagi vendor-vendor kedua negara. Menteri Leiking menambahkan, hasil dari kerja sama ini ditindaklanjuti menjadi sesuatu yang terukur.

CEO MAI Dato Mohamad Madani Sahari menambahkan, kedua belah pihak akan mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang bisa melakukan kerja sama dan didorong untuk memproduksi komponen untuk kendaraan internal combustion engine(ICE), kemudian melakukan riset bersama untuk mempelajari semua teknologi baru, seperti kendaraan listrik atau hybrid.

“Hasil riset itu bisa digunakan oleh perusahaan yang ikut joint venture dengan didukung pula pada pengembangan SDM dan supply chain untuk perusahaan joint venture tersebut,” jelasnya.

Madani meyakini, kemampuan industri komponen kedua negara sudah mencapai 90 persen.

“Kami juga ingin adanya kerja sama mengenai biofuel karena sawit merupakan komoditas penting untuk kedua negara. Tidak menutup kemungkinan kerja sama dilakukan dengan negara ASEAN lain seperti Thailand atau Filipina. Diharapkan joint venture ini dapat memproduksi kendaraan sendiri,” imbuhnya. (eka)

 

News Feed