oleh

Serang Ma’ruf Amin, Ratna ‘Babak Belur’ Diserang Balik

-Nasional-281 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Aktivis Ratna Sarumpaet menyerang KH Ma’ruf Amin yang maju sebagai cawapres Jokowi. Ratna mengkritik keputusan Jokowi memilih Ma’ruf, antara lain karena Ketum MUI itu dinilai sudah ketuaan dan pernah mengeluarkan fatwa untuk tidak memilih pemimpin yang ingkar janji.

Lewat akun Twitternya @RatnaSpaet, Ratna mengunggah tiga cuitan, salah satunya yang paling menarik perhatian netizen adalah ‘Menolak Lupa Fatwa MUI’.

“Politik boleh apa saja. Boleh lupa, boleh bohong, boleh munafik, bahkan boleh secara sadar menyakiti rakyat yang seharusnya ia lindungi,” cuit Ratna.

Dalam cuitannya itu, Ratna menyertakan foto Ma’ruf Amin dan gambar yang mengingatkan Fatwa MUI tentang tak boleh pilih pemimpin ingkar janji.

“Saya heran tulisan dulu fatwanya Pak Ma’ruf kan mengatakan orang kayak Jokowi nggak boleh dipilih lagi. Kenapa sih dia sudah tua begitu mau jadi wakil. Tapi menurut saya nggak apa-apa bisa saja, paling saja orang-orang di kelompok sebelah bisa percaya agama Islam, kan ada orang yang nggak percaya akherat. Ya mudah-mudahan ada manfaat,” kata Ratna, baru-baru ini, dilansir detik.com.

“Ya buat apa Ma’ruf Amin diambil sebagai wapres, secara usia uzur sakit pula, sakit jantung, lemah jantung kan dia. Orang boleh dong, aku bertanya-tanya dong, di politik kan mau apa,” kata Ratna lagi.

Menanggapi serangan Ratna, kubu pendukung Jokowi-Ma’ruf pun tak tinggal diam. Mereka menyerang balik perempuan yang baru saja berselisih dengan Menko Luhut Binsar Pangaribuan gara-gara batalnya pengangkatan jasad kapal tenggelam di Danau Toba itu.

“Kenapa harus heran? Apa urusannya dia urus dan mikirin pencapresan Pak Jokowi? Bukan urusan dia ngatur-ngatur pencapresan Pak Jokowi. Soal cawapresnya Pak Jokowi itu urusan Pak Jokowi dan kami partai politik pengusungnya,” ujar ketua DPP Golkar Ace Hasan, beberapa saat lalu.

Ace mengaku enggan menanggapi serius kritikan Ratna terhadap Ma’ruf yang dipilih sebagai cawapres Jokowi, karena “Andai Pak Jokowi menetapkan cawapresnya seperti ‘malaikat’ pun, dia tetap saja takkan pernah mendukung Pak Jokowi kok! Biarin saja,” kata Ace.

Sementara NasDem menyarankan Ratna juga ‘menolak lupa’ terhadap sejarah Prabowo Subianto selama berdinas di satuan TNI.

“Kalau melawan lupa, baiknya Ibu Ratna ngecek melawan lupa versi Pak Prabowo. Semua peristiwa-peristiwa militer dulu yang menggunakan kekuatan pada saat jadi perwira tinggi militer itu apa saja riwayatnya,” kata Sekjen NasDem Johnny G Plate.

Johnny mengatakan tentu ada sejumlah prestasi yang ditorehkan Prabowo ketika menjadi perwira militer. Namun, dia meminta Ratna tidak tutup mata terhadap peristiwa sejarah yang melibatkan Prabowo hingga disidang melalui Dewan Kehormatan Perwira (DKP).

Sementara itu, soal kritik usia Ma’ruf yang dilontarkan Ratna, anggota Dewan Pakar NasDem Teuku Taufiqulhadi menilai hal tersebut tak relevan. Menurut Taufiqulhadi Ma’ruf justru melengkapi Jokowi dalam sisi kedewasaan berpolitik.

“Sisi wise dari pak Ma’ruf Amin untuk melengkapi. Beliau juga bukan ulama salaf biasa, tapi ulama salaf plus,” ujar Taufiqulhadi.

Dia juga menilai Ma’ruf sebagai sosok ideal untuk mendampingi Jokowi. Ma’ruf punya keahlian di bidang ekonomi syariah.

Ucapan lebih keras datang dari Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Dia meminta Ratna segera bertobat.

“Semoga dia (Ratna) yang sudah tua itu segera menemukan pintu tobat. Agar sisa hidupnya nikmat dan mati pun husnul khatimah. Kami bersyukur, ulama yang dipilih Jokowi untuk mendampingi. Bukan orang semacam Ratna Sarumpaet yang cuma bisa bikin keruh dan gaduh suasana,” ujarnya.

Tak kalah kerasnya, Partai Hanura juga balik menyerang Ratna dengan sebutan ‘sakit jiwa’. “Seseorang divonis sakit jantung atau lemah jantung tentunya melalui pemeriksaan medis, bukan melalui mulut sompretnya Ratna Sarumpaet. Tapi seseorang yang sakit jiwa bisa langsung kelihatan dari ocehannya seperti Ratna Sarumpaet tuh!” kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah.

Inas mengatakan Ratna tak bisa sembarangan memvonis Ma’ruf mengidap penyakit jantung. Dia menyebut pernyataan Ratna menunjukkan tanda-tanda sakit jiwa.

Dia pun menduga Ratna sebenarnya panik lantaran Prabowo Subianto tak berhasil merangkul ulama. Sementara Jokowi berhasil melangkah bersama Ma’ruf di Pilpres 2019.

“Kegelisahan si mulut sompret adalah cermin kepanikan kubu Prabowo karena Pak Jokowi dinilai melakukan langkah yang jitu karena memilih KH Ma’ruf Amin menjadi cawapres,” tutur Inas.

Sampai berita ini diturunkan, Minggu (12/8/2018) pagi, belum ada serangan balik dari ‘si mulut sompret’ yang disebut Inas itu. Justru Gerindra yang membalas serangan kubu Jokowi-Ma’ruf, terutama terkait ucapan Sekjen NasDem Johnny G Plate soal rekam jejak Prabowo Subianto selama mengabdi sebagai prajurit TNI. Gerindra ganti mengungkit kasus korupsi yang menjerat eks Sekjen NasDem Patrice Rio Capella.

“Daripada ngurusin Pak Prabowo, kita tahu lah mantan Sekjen NasDem itu masuk penjara karena korupsi. Itu rekam jejak NasDem. Nggak relevan kalau politik itu fitnah, jelas Pak Prabowo tidak terlibat apa-apa. Dituduh dengan keji terus,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade, dilansir detik.com.

Andre meminta NasDem tak memutar ‘kaset rusak’ dengan menyinggung masa lalu Prabowo.. Dia pun menyarankan Johnny bertanya kepada Menko Polhukam Wiranto yang pada 1998 menjabat sebagai Panglima ABRI.

“Kalau bicara soal penculikan silakan tanya ke Pak Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Ke mana orang-orang itu yang hilang dan sampai sekarang nggak ketemu. Tolong main politik itu jangan kaset rusak diulang terus,” ucapnya.

Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi Indonesia (PKPEI) Amigo Budi Hartono, saat dihubungi Radar Pagi, menyayangkan terjadinya saling serang antara kedua kubu capres-cawapres yang akan berlaga dalam Pilpres 2019.

Dia mengimbau kedua belah pihak untuk adu gagasan dan program, bukan saling mencari-cari kelemahan lawan politik. “Namanya kelebihan atau kekurangan manusia itu kan pasti ada. Lebih baik adu gagasan dan program saja,” ujar Amigo di kediamannya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (12/8/2018).

Amigo mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan statemen-statemen menyudutkan yang dilontarkan parpol-parpol pendukung kedua kubu. Dia meminta masyarakat jeli mencermati program-program apa saja yang ditawarkan masing-masing capres-cawapres.

“Teliti programnya apakah benar-benar bagus dan bermanfaat bagi masyarakat? Apakah program tersebut realistis untuk diterapkan? Sebab bercermin di Pilkada DKI lalu, banyak program ‘asal jeplak’ yang kenyataannya sulit direalisasikan. Dan kawal terus pembuktian dari program itu bila pasangan capres-cawapres itu nantinya terpilih untuk memimpin bangsa ini,” katanya. (fajar)

 

 

News Feed