oleh

Dulu Hanya Tukang Lipat Parasut, Kini Jafro Sumbang Emas ke-7 untuk Indonesia

-Olahraga-75 views

 

Bogor, Radar Pagi – Atlet paralayang (paragliding) Jafro Megawanto, meraih medali emas Asian Games 2018 dalam nomor ketepatan mendarat perorangan, di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat, Kamis (23/8/2018) pagi.

Kemenangan Jafro pun disambut gembira Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat mendengar kabar tersebut. Apalagi Jokowi tahu bahwa sebelum menjadi atlet paralayang, Jafro Megawanto hanya seorang anak muda yang bertugas melipat dan merapikan parasut para atlet.

“Setiap hari melihat atlet paralayang, melipat parasut, diam-diam Jafro memendang mimpi untuk menjadi pilot paralayang,” tulis Presiden Jokowi melalui fanpage Facebooknya, yang diunggahnya beberapa saat lalu.

Ditambahkan Presiden, kesempatan itu datang ketika ia akhirnya ikut berlatih di sekolah paralayang, lalu menjadi atlet.

Hari ini, Jafro Megawanto bahka meraih lebih dari sekedar mimpi menjadi atlet paralayang. Di venue paralayang, di kawasan Gunung Mas, Puncak, Kamis (23/8) pagi, Jafro meraih medali emas Asian Games 2018.

“Selamat Jafro Megawanto untuk emas ketujuh bagi Indonesia,” tulis Presiden Jokowi melalui cuitannya di akun twitternya @jokowi, beberapa saat lalu.

Jafro Megawanto memang mantan tukanfg lipat parasut atau para boy. Pria kelahiran Batu, Malang pada 18 Maret 1996 ini memulai pekerjaan sebagai tukang lipat parasut pada usia 13 tahun.

Dari pekerjaannya tersebut, Jafro mendapat upah Rp 5.000 per satu kali melipat. Dari upahnya tersebut Jafro menyisihkan sebagian untuk uang saku sekaligus membantu ekonomi keluarga.

Setelah 2 tahun menjadi para boy, manajer tim paralayang bernama Yosi Pasha, pun mengajaknya untuk bergabung mengikuti latihan. Dari sana, prestasinya bersinar dengan menjadi atlet daerah sampai akhirnya atlet nasional.

Dalam pertandingan Asian Games hari ini, Jafro meraih total nilai 27 menyisihkan 32 peserta lainnya, termasuk peringkat kedua Jirasak Witeetham dari Thailand yang memperoleh nilai 47, dan Chulso Lee dari Korea Selatan yang meraih medali perunggu dengan nilai 128.

Dalam ronde terakhir, Jafro mampu mendarat dengan mulus dan hampir mendapat nilai sempurna, yakni nilai 2 pada ronde ke sepuluh. Nilai tersebut dilihat dari pijakan atlet pada saat mendarat di titik landing. Bila pijakan saat mendarat semakin mendekati titik nol, maka nilai yang diraih atlet terbilang baik.

Sementara atlet paragliding asal Indonesia, Joni Efendi, yang ikut berlomba dalam nomor tersebut hanya berada di peringkat kelima.

Dengan tambahan medali dari Jafra Megawato itu, maka cabang olahraga paragliding hingga hari ini sudah menyumbangkan 2 medali emas, dan 1 perak. Satu medali emas sebelumnya dipersembahkan oleh Tim Indonesia yang tampil dalam nomor beregu ketepatan mendarat, dan satu medali perak lainnya dipersembahkan oleh tim putri juga dalam nomor ketepatan mendarat.

Bersamaan dengan hasil gemilang Jafro yang mempersembahkan meraih medali emas, pasangan Julianti dan Yayah Rokayah mendapatkan medali perunggu dari cabang rowing. Sementara itu, perak didapat tim putra yang tampil pada nomor Lightweight Men’s Four (LM4-).

Dengan demikian, jumlah total medali yang sudah diraih kontingen Indonesia dalam Asian XVIII tahun 2018 hingga siang ini adalah 7 emas, 5 perak, dan 8 perunggu. (heri)

 

News Feed