oleh

Ternyata Ini Penyebab Jutaan Ikan Mati di Danau Toba

-Sumatera-646 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Warga Dusun I Kelurahan Pintusona Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara terkejut melihat jutaan ekor ikan yang mereka kelola di Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Toba mendadak mati pada pada 22 Agustus 2018 silam.

Total ikan yang mati mencapai berat 180 ton. Kerugian nelayan pun mencapai Rp 2,7 miliar.

Kejadian matinya ikan di Danau Toba sudah berulang kali terjadi, tercatat tiga tahun terakhir selalu terjadi setiap tahunnya seperti yang terjadi di Haranggaol, Kabupaten Simalungun Tahun 2016, kemudian kejadian di Tipang Kabupaten Humbahas tahun 2017.

Selain di tiga tempat ini, beberapa tahun sebelumnya kejadian ikan mendadak mati juga pernah terjadi di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Karo; Desa Silalahi dan Desa Paropo, Kecamatan Silalahi Sabangun, Dairi; dan Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan, Samosir.

Melihat fenomena kematian ikan yang terus terjadi dalam kurun beberapa tahun terakhir, akhirnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerjunkan Tim Satgas Penanganan Penyakit Ikan dan Lingkungan guna menindaklanjuti kasus kematian massal ikan yang terjadi di Danau Toba. Tim Satgas tersebut terdiri dari para ahli perikanan budidaya air tawar dan Balai Karantina Ikan, Medan.

Tim Satgas bertugas untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak kematian massal ikan. Tim juga memberikan rekomendasi agar persoalan itu selesai.

Berdasarkan siaran pers resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rabu (29/8/2018), berdasarkan monitoring dan penelitian kualitas perairan danau, setidaknya ada tiga dugaan penyebab kematian massal ikan.

Pertama, terjadi penurunan suplai oksigen bagi ikan. Kedua, kepadatan ikan yang tinggi, dan ketiga, keramba jaring apung terlalu dangkal, sementara dasar perairan merupakan lumpur.

Suplai oksigen tersebut menurun karena terjadi upwelling (umbalan). Upwelling adalah fenomena arus dari dasar laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak ke atas karena pergerakan angin.

Fenomena upwelling itu disebabkan cuaca ekstrem yang berakibat perbedaan suhu mencolok antara air di permukaan dan di bawahnya.

“Upwelling membawa nutrien dan partikel dari dasar perairan ke permukaan. Inilah yang menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang. Apalagi, lokasi keramba jaring apung nelayan itu cukup dangkal dan berlumpur,” ujar Ahmad Jauhari, anggota Tim Satgas Penanganan Penyakit Ikan dan Lingkungan, kemarin.

“Selain itu, kami juga melihat ternyata kepadatan ikan dalam keramba jaring apung terlalu tinggi sehingga sangat mengganggu sirkulasi oksigen,” lanjut dia.

Menurut Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto, kasus upwelling di perairan umum ini, secara periodik selalu terjadi, dan menjadi siklus tahunan, terlebih dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem. “Karakteristiknya sama di hampir seluruh perairan umum,” kata dia di Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Untuk itu, ujar Slamet, perlu ada upaya yang sifatnya preventif sehingga kejadian serupa tidak menimbulkan efek kerugian ekonomi yang lebih besar.

“KKP sebenarnya terus menerus telah mengimbau masyarakat untuk melakukan pengelolaan budi daya secara bertanggung jawab misalnya menerapkan manajemen pakan yang lebih efisien, sumber pakan yang sedikit mengandung phosphor, pengaturan kepadatan tebar, pengaturan jadwal budi daya hingga pengaturan jumlah KJA (keramba jaring apung) yang disesuaikan dengan daya dukung lingkungan yang ada,” jelas Slamet. (eka)

News Feed