oleh

Rupiah Melemah Dekati Tingkat Krismon 1998, Jokowi Bisa Bernasib Sama Seperti Soeharto

-Nasional-636 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.840 pada Jumat (31/8/2018) tengah malam kemarin. Kurs tersebut menjadi menjadikan rupiah berada pada titik terendah selama 20 tahun terahir.

Dilansir dari asia.nikkei.com, Jumat (31/8/2018), angka tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 1998 setelah terjadinya krisis moneter yang melanda negara-negara Asia, termasuk Indonesia.

Krisis keuangan yang mulai terasa sejak tahun 1998-1997 itu pula yang menjadi salah satu sebab merosotnya kepercayaan rakyat pada kepemimpinan Soeharto hingga berujung terjungkalnya Bapak Pembangunan itu dari singgasana kekuasaannya.

Tahun 2018 ini, nilai mata uang rupiah memang merosot sejak awal tahun menyusul ketegangan perdagangan antara AS dengan China. Krisis yang melanda Turki juga turut berpengaruh pada penurunan nilai tukar rupiah.

Indonesia sejak dulu memang rentan terhadap aksi jual yang besar saat terjadi tekanan di pasar global.

Namun sebab utama melemahnya rupiah adalah masalah internal sendiri. Ekonom ING Groep NV Singapura, Prakash Sakpal menjelaskan defisit neraca berjalan merupakan penyebab utama melemahnya mata uang rupiah.

“Kinerja rupiah cenderung lemah dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Hal tersebut berasal dari posisi pembayaran eksternal Indonesia yang lemah, terutama defisit neraca berjalan,” ujar Prakash Sakpal, beberapa waktu lalu.

Melemahnya rupiah ini terus menjadi sorotan banyak pihak. Bukan hanya kalangan ekonom dan perbankan, tetapi juga para politisi tak mau ketinggalan ikut memanaskan situasi.

Ketua Divisi Humas dan Advokasi Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, lewat akun Twitter Ferdinand Hutahaean,@LawanPoLitikJW, Kamis (30/8/2018) mengungkapkan rasa khawatirnya bila pelemahan rupiah akan berujung pada berakhirnya pemerintahan Jokowi.

Pak @jokowi yth, kira2 pelemahan rupiah ini bisa ditahan tidak pak? Saya kuatir Oktober kita bisa tutup buku dan rejim berakhir. US $ 1 = Rp.14.729.” cuitnya.

Dia menilai pemerintah makin tak punya cara dalam mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, rakyat yang akhirnya akan menjadi korban sebagai dampak dari melemahnya rupiah.

Waduh..!! Pemerintah makin tak punya cara mengatasi pelemahan rupiah, akhirnya rakyat yg korban,” katanya.

Sementara Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah khawatir  pelemahan nilai tukar rupiah masuk angka psikologis.

“Saya khawatir ada angka psikologis gitu, yang kalau kalau itu bisa mencapai Rp 15 ribu, nah itu berbahaya, bisa-bisa itu engga balik,” ujar Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Fahri mengatakan pemerintah harus segera bertindak agar nilai tukar rupiah tidak terus melemah. Apalagi ia mendengar kabar bahwa Bank Indonesia (BI) telah jor-joran mengintervensi rupiah agar stabil.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon pun ikut menanggapi cuitan rekannya di DPR Fahri Hamzah. Hal tersebut terlihat dari laman Twitter@fadlizon yang diunggah pada Sabtu (1/9/2018).

Fadli Zon meminta semua ekonom pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan sesuatu guna mengatasi pelemahan rupiah ini.

Dia mengingatkan perkembangan ekonomi, yang ia khawatirkan akan semakin terjun bebas ke jurang.

“Hati2 ekonomi meroket ke jurang. Ayo mana ekonom2 pemerintahan @jokowi . Berbuat sesuatu menahan depresiasi,” ujar Fadli Zon.

Sedangkan Ketua DPP Partai Demokrat Didik Mukrianto meminta pemerintah saat ini segera memulihkan kondisi ekonomi Indonesia. Pemerintah harus punya langkah nyata agar rupiah tidak terjun bebas.

“Bukan alasan yang ingin kita dengar tapi langkah konkrit pemerintah!” katanya.

Pemerintah sendiri menyalahkan faktor eksternal sebagai penyebab pelemahan tersebut. 

Menko Darmin menyebut bahwa pelemahan itu dikarenakan krisis yang terjadi di Argentina.

“Itu karena ada permasalahan negara lain, di Argentina,” kata Darmin di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (31/8/2018).  

Sementara Sri Mulyani pada pertengahan bulan ini menyebut bahwa pelemahan rupiah disebabkan dampak dari pelemahan lira di Turki.

Jadi mana yang benar? Argentina atau Turki? Atau lantaran ketidakbecusan pejabat kita sendiri dalam mengurus perekonomian negara? (rinaldi)

News Feed