oleh

Hari Gene Masih Ada yang Larang UAS Ceramah?

-Utama-63 views

 

Jakarta, Radar Pagi –   Ustadz Abdul Somad (UAS) mengaku membatalkan rencana ceramahnya di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, setelah mendapat ancaman dan intimidasi. Hal ini disampaikan Somad lewat akun Instagram miliknya, @ustadzabdulsomad.

“Beberapa ancaman, intimidasi, pembatalan, dan lain-lain terhadap taushiyah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepara, dan Semarang,” unggah UAS.

Tetapi lulusan S-1 Universitas al-Azhar Mesir dan S-2 Darul Hadits El-Hassania Maroko itu tidak menyebutkan pihak-pihak mana yang mengintimidasinya. Namun kepada wartawan yang menghubunginya dia menyayangkan kejadian tersebut.

“Kita bukan sedang perang melawan Israel. Wong cuman ceramah kok,” katanya.

Menanggapi pengakuan intimidasi yang diterima UAS, beberapa pihak pun menyampaikan penyesalannya.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyesalkan ada ancaman yang berakibat pada pembatalan ceramah UAS.

Padahal, faktanya UAS sudah kemana-mana, mengajarkan cinta NKRI. Bahkan, sudah diundang Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, ceramah di hadapan KSAD dan pernah hadir di acara pimpinan MPR.

“Kurang NKRI apa?” kata HNW.

Dia menyayangkan pula pihak-pihak yang meminta UAS harus membaca, menaikkan bendera, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. HNW khawatir, pihak yang mempersekusi UAS sendiri yang belum menghayati Pancasila dengan benar. 

“Karena kalau Pancasila diamalkan itu adalah persatuan Indonesia bukan memecah belah bangsa,” katanya.

Banyak pihak memang meragukan nasionalisme UAS sehingga meminta da’i kondang itu untuk membuktikan kesetiaannya pada pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada awal Desember 2017, ustaz asal Pekanbaru Riau itu diminta mengikrarkan janji dan sumpah setia di atas Alquran kepada NKRI. Saat itu Ustaz Somad ingin melakukan ceramah di Bali.

Pada awal Desember 2017, ustaz asal Pekanbaru Riau itu diminta mengikrarkan janji dan sumpah setia di atas Alquran kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Saat itu Ustaz Somad ingin melakukan ceramah di Bali.

Pada akhir Juli 2018, ceramah UAS di Semarang juga ditolak oleh sejumlah ormas.  Penolakan tersebut disampaikan perwakilan ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN), FKPPI, Laskar Merah Putih, serta Banser NU Kota Semarang.

Ketua Umum PGN Iwan Cahyono mengatakan, penolakan tersebut lebih disebabkan oleh sosok Abdul Somad yang terkait dengan HTI. “Ada keterlibatan eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam pelaksanaan kegiatan ini,” katanya seperti dikutip kantor berita Antara, Jumat (27/7/2018), dikutip dari Antara.

Bahkan, ia menegaskan, siap membubarkan pengajian tersebut jika nanti tidak ada kegiatan seperti menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, termasuk jika Ustaz Abdul Somad tidak ikut menyanyi. “Kami akan datangi, lihat, dan merekam kegiatan itu detik per detik,” katanya kala itu.

Sementara itu, Anggota DPD RI Fahira Idris melalui siaran pers yang dikirimkannya ke media massa berpendapat penolakan ceramah UAS dengan alasan yang mengada-ngada dan sangat tendensius sudah kelewat batas. Apalagi semua pelarangan ini disertai ancaman dan intimidasi.

“Alasan penolakan UAS itu kan seperti kaset rusak. Itu-itu saja yang dijadikan alasan,” kata Fahira.

Menurut senator wanita ini yang lumayan vokal ini, tuduhan bahwa UAS hanya dijadikan domplengan oleh ormas radikal sangat tidak masuk akal dan merendahkan nalar umat dan jamaah yang mengundang UAS berceramah.

“Selama 20 tahun usia reformasi, baru beberapa tahun belakangan ini, pelarangan, ancaman, dan intimidasi tidak hanya terhadap kegiatan dakwah,” katanya.

Fahira  menilai kritik kepada pemerintah dianggap radikal, diragukan nasionalismenya, bahkan dianggap anti NKRI dan Pancasila.

“Paradigma seperti ini menyebar ke tengah-tengah masyarakat. Bagi saya ini ‘tidak sehat’ bagi demokrasi dan masa depan bangsa ini,” papar Senator Jakarta ini.

UAS, kata Fahira, pernah diundang ceramah di depan Wapres, Wakapolri, Kepala BIN, KSAD, bahkan pernah satu panggung dan berdiskusi dengan Kapolri di sebuah acara kajian di stasiun TV swasta.

“Menuduh UAS didomplengi kelompok radikal, sama artinya menafikan dan tidak menganggap tokoh-tokoh penting dan institusi negara yang pernah mengundang UAS,” tegasnya.

Pengurus Pusat Muhammadiyah juga menyesalkan adanya acaman yang menimpa penceramah Ustaz Abdul Somad (UAS). Muhammadiyah meminta aparat kepolisian bertindak terhadap tindakan ancaman yang menimpa UAS.

“Muhammadiyah menyesalkan. Mengapa kok ada, di era demokrasi ada penolakan-penolakan,” kata Ketua bidang Ekonomi, Kewirausahaan, dan UMKM PP Muhammadiyah Anwar Abbas kepada wartawan, Senin (3/9/2018).

Anwar meminta UAS tidak ditarik-tarik ke hal yang tidak berdasarkan bukti, sebab belum tentu yang menolak dan menuduh itu lebih NKRI dan cinta Pancasila dibanding UAS. (mustika)

 

 

News Feed