oleh

Bastian: Dollar Tembus Rp15 Ribu, Bukti Fundamental Ekonomi Kropos

-Ekonomi-95 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah kembali melemah hingga ke level Rp 15.002 per dolar Amerika Serikat (AS) pada kurs jual. Tentu saja hal ini akan berdampak pada roda ekonomi Indonesia sekaligus membuktikan kroposnya fundamental ekonomi kita.

Demikian dikatakan Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO), Bastian P. Simanjuntak, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (5/9/2018).

Meurut Bastian, Indonesia masih jauh dari berdikari, bahkan dampak melemahnya rupiah bisa menyebabkan rontoknya ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

“Kenaikan BBM juga akan mengakibatkan naiknya harga kebutuhan pokok. Selain biaya produksi, biaya bahan baku akan meningkat serta secara otomatis biaya angkut barang semakin mahal,” katanya.

Situasi ini, ujar Bastian, akan menambah beban hidup masyarakat di tengah kesulitan ekonomi yang sedang melanda. Ancaman kenaikan dollar Amerika (USD)masih akan terjadi karena market masih menunggu kebijakan the fed utk menaikan suku bunga sebanyak 4 kali pada tahun ini.

Sayangnya, menurut Bastian, pemerintahan Jokowi telah mengambil kebijakan yang salah dengan bergantung pada investasi asing dan memprioritaskan pembangunan infrastruktur berbiaya mahal yang didanai dari pinjaman luar negeri.

“Sehingga pada saat kurs USD naik signifikan, maka secara otomatis akan menambah beban negara karena setiap tahun kita harus membayar cicilan pokok dan bunga pinjaman dengan mata uang USD,” katanya.

Bastian sepakat dengan pernyataan Sandiaga Uno yang mengatakan pelemahan rupiah salah satunya disebabkan tidak terjadinya reformasi struktural yang tepat di bidang ekonomi, misalnya hasil ekspor tidak dikonversi ke rupiah dan terjadi kebocoran penerimaan negara.

“Jadi tidak benar sepenuhnya (pelemahan rupiah) akibat pengaruh global, ini akumulasi dari pencitraan yang akhirnya terbukti hanya ‘istana pasir’,” katanya.

Bastian menilai, dalam situasi seperti ini untuk menekan kurs USD, tidak ada cara lain bagi pemerintah dalam jangka pendek, yaitu dengan menaikan suku bunga Bank Indonesia, namun dampaknya secara ekonomi akan memperparah sektor riil, dan bisa memicu krisis ekonomi seperti tahun 1998.

“Pemerintah juga harus mewaspadai gelombang PHK besar-besaran yang diakibatkan meningkatnya biaya produksi dan bahan baku,” tandasnya. (eka)

 

 

 

News Feed