oleh

Rupiah Sudah Hancur, Jokowi di Ujung Tanduk

-Utama-550 views

 

Jakarta, Radar Pagi –  Semakin terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga melewati angka Rp. 15.000, sangat merugikan citra Jokowi jelang Pilpres 2019. Rakyat menjadi tidak percaya dengan kemampuan Jokowi dan menteri-menteri terkait dalam mengendalikan perekonomian negara. Nasib Jokowi pun dipertaruhkan.

Direktur Eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI), Panji Nugraha mengatakan, pelemahan rupiah membuat negara harus membayar bunga utang yang semakin tinggi, maka bisa dipastikan banyak infrastruktur mangkrak.

“Artinya prestasi yang digadang-gadang selama ini oleh Jokowi dan kolega pun gagal, maka wajar saja jika Jokowi di Pilpres 2019 ini dinyatakan kalah sebelum bertanding karena pelemahan rupiah saat ini bukanlah prestasi yang membanggakan,’ ujar Panji Nugraha dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/9/2018).

Menurutnya, Jokowi berpotensi kehilangan suara karena kebijakan yang diambil saat pelemahan rupiah adalah kebijakan tidak populis, seperti mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan menaikkan pajak yang pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dan barang-barang lainnya.

“Faktor tersebut jelas menjadi penentu kekalahan Jokowi, dan bisa dipastikan Indonesia ke depan mempunyai Presiden baru,” tegasnya.

Sementara Ketua Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI Deni Setiadi menilai pemerintah lebih banyak mencari kambing hitam dari melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ketimbang menyelesaikan ancaman tersebut.

“Pemerintah terus menerus menyalahkan kondisi eksternal hanya membuat masyarakat kian ragu pemerintah dapat mengatasi pelemahan rupiah,” kata Deni Setiadi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/9/2018).

Deni mengingatkan krisis ekonomi akan lebih parah dari tahun 1998 jika pemerintah tak serius mengatasi pelemahan rupiah. Karena itu, KAMMI mengajak masyarakat dan mahasiswa untuk bersatu menyerukan Selamatkan Rupiah atau #SaveRupiah.

“Gerakan ini untuk mengingatkan pemerintah agar serius menyelamatkan rupiah. Sekaligus gerakan masyarakat agar berpartisipasi menyelamatkan rupiah seperti membeli produk lokal dan memperbanyak transaksi dengan rupiah,” katanya.

“Jika pemerintah tak serius apalagi malah mengambil keuntungan pribadi dari pelemahan rupiah, maka lebih baik Menkeu sebagai yang paling bertanggungjawab harus dicopot dan diganti dengan yang lebih baik,” sambung Deni.

Sedangkan anggota fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo, mengkritik pemerintah yang selalu mengatakan bahwa kondisi ekonomi baik-baik saja, meski rupiah sudah anjlok di tengah impor pangan yang cukup tinggi, seperti komoditas kedelai, jagung, gula, hingga beras.

“Hampir seluruh komoditas kita impor dan ini menurut saya terlalu memprihatikan dan selalu Pak Presiden menyampaikan kurs dolar terjadi menguat di beberapa negara. Memang benar, tapi kondisi di Indonesia yang terparah,” kata Bambang.

Seperti biasa, aktivis Ratna Sarumpaet tak mau ketinggalan komentar.  Dilansir dari laman Twitternya @RatnaSpaet, pada Rabu (5/9/2018) pagi, tanpa basa-basi Ratna langsung menyerang Jokowi. Dia meminta Jokowi menggunakan akalnya bila ingin memimpin 2 periode.

“Masih mau 2 Periode? Pakai akal pikiranmu – Gugah hari Nuranimu. Cc: @jokowi,” cuit Ratna.

Ratna juga mengecam Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengancam pengusaha yang menahan dolar untuk dapat keuntungan. Ancaman itu, kata Ratna, menunjukkan Sri Mulyani sedang panik.

“Intelectually tidak cerdas, keblinger deh. Gagal, panik, ngancam2 ….,” tulis Ratna.

Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahean meminta Jokowi dan jajarannya menjelaskan nilai tukar rupiah atas dolar AS yang semakin anjlok. Jokowi, menurut Ferdinand, tidak berani muncul di saat rupiah anjlok, tapi ketika acara ‘bagi-bagi’ maka Jokowi berada di barisan paling depan.

“Presiden begini koq mau 2 periode,” kata Ferdinand di akun twitternya, Rabu (5/9/2018).

Menurut dia urusan yang seharusnya dilakukan camat diambil alih oleh Presiden Jokowi, sementara negara diambang krisis, malah minta jajarannya untuk menangani.


Jangan Serang Pemerintah

Di tempat lain, Sandiaga Uno mengimbau pelaku usaha untuk melakukan penghematan agar bisa keluar dari krisis ekonomi saat ini. Dia meminta agar pengeluaran yang bisa ditunda agar ditunda dulu termasuk kebutuhan impor. 

“Waspadai, utamakan penghematan, kurangi pemborosan,” kata Sandiaga di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (5/9/2018).

Menurut bakal calon wakil presiden ini, empat tahun yang lalu Prabowo sudah menjelaskan struktur ekonomi Indonesia harus dirombak secara masif, sehingga tidak ada kerentanan terhadap isu struktural. Namun hal ini belum terjadi hingga sekarang, akibatnya saat ini Indonesia masih tergantung pada impor.

“Bagaimana kita terkendala ekspor dan masalah di dunia usaha mengenai izin serta kepastian dunia usaha lainnya,” katanya.

Meski begitu, Sandiaga mengajak semua pihak untuk tidak menyerang pemerintah dalam persoalan ekonomi yang terjadi saat ini.

“Saya ingin, tidak saling serang soal ekonomi, biarkan pemerintah melakukan langkah sendiri,” katanya.

Senada dengan Sandiaga, Menkopolhukam Wiranto mengatakan, pemerintah jangan terus didesak soal pelemahan rupiah, sebab menteri-menteri di bidang ekonomi sudah tahu apa yang dihadapi dan tengah mencari cara mengatasi gejolak ekonomi, dalam maupun luar negeri.

“Pemerintah enggak usah didesak-desak ya, pemerintah itu kan tahu apa yang dihadapi. Kita juga tau apa yang seharusnya dilakukan,” ujar Wiranto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, (5/9/2018).

Wiranto mengakui pengaruh ekonomi global sangat kuat sekali, tetapi pemerintah selalu ingin mampu mengatasi masalah yang diakibatkan ekonomi global tersebut.

Meski rupiah terus melemah, anggota DPR RI Fraksi Golkar, Misbakhun, memberikan pujiannya untuk ekonomi Indonesia, sebab meski rupiah mencapai Rp 15 ribu per dolar AS, ekonomi Indonesia saat ini masih kokoh dan tangguh.

“Hebatnya ekonomi Indonesia saat ini, rupiah terdepresiasi sampai Rp 15.000 masih kokoh dan tangguh,” cuit Misbakhun lewat akun twitternya, Rabu (5/9/2018).

Misbakhun mengingatkan bila pelemahan rupiah  bisa dimanfaatkan sejumlah pihak untuk pergantian kekuasaan.

“Kondisi ini yg membuat iri siapapun termasuk yg menginginkan pergantian kekuasaan dg memanfaatkan isu depresiasi nilai tukar rupiah pd level yg belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Misbakhun.

Menanggapi pelemahan rupiah, Jokowi sendiri menegaskan, pelemahan nilai tukar terhadap dollar Amerika Serikat  juga terjadi pada mata uang negara lain.

“Tidak hanya negara kita, Indonesia, yang terkena pelemahan kurs, tidak hanya Indonesia,” ujar Jokowi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018).

Menurut Jokowi, pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan sentimen dari eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara China dan Amerika Serikat, dan krisis yang melanda Turki serta Argentina.

“Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi. Saya kira yang paling penting kita harus waspada, kita harus hati-hati,” ujar Jokowi.

Untuk memperbaiakinya, kata Jokowi, pemerintah akan terus meningkatkan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan para pelaku usaha.

“Saya kira koordinasi yang kuat ini menjadi kunci sehingga jalannya itu segaris semuanya,” ujarnya.

Jokowi juga memberikan target kepada jajarannya untuk segera memperbaiki transaksi berjalan dengan menggenjot ekspor dan investasi di dalam negeri.

“Dengan investasi dan ekspor yang meningkat, kita bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan, kalau ini selesai, itu akan menyelesaikan semuanya,” ujar Jokowi. (safrizal/rinaldi/fitria)

 

News Feed