oleh

Komen Sandiaga vs Kantor Staf Presiden Soal Impor, Mana yang Benar?

-Ekonomi-164 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo-Sandiaga Uno menyebut kekeliruan dalam strategi ekonomi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai penyebab pelemahan ekonomi nasional belakangan ini.   

“Terjadi sesuatu kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi, antara lain tidak berhasilnya pemerintah mendayagunakan kekuatan ekonomi rakyat sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung impor seperti beras, gula, garam, bawang putih, dan lain-lain,” kata Sandiaga S. Uno, di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/9/2018) kemarin.

Kekeliruan orientasi dan strategi pembangunan ekonomi itu akhirnya berimbas pada melemahnya kurs rupiah berkepanjangan yang berdampak kepada rakyat.

“Kami amat prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan yang tentunya memberatkan perekonomian nasional khususnya rakyat kecil, yang cepat atau lambat harus menanggung kenaikan harga harga kebutuhan pokok termasuk harga kebutuhan makanan sehari-hari rakyat kecil, seperti tahu dan tempe,” ucap mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Sandiaga menyebut hal itu terjadi karena lemahnya fundamental ekonomi. Dia menyebut melemahnya fundamental ekonomi ini tidak terlepas dari kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi tadi.

Saat ini, kata Sandiaga, defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit. Selanjutnya, karena sektor manufacture yang menurun dan pertumbuhan sektor manufacture yang di bawah pertumbuhan ekonomi.

Sandiaga mengatakan, sektor manufakturing yang pernah mencapai hampir 30 persen pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahun 1997, saat ini hanya 19 persen. “Hal ini tentu mengganggu ketersediaan lapangan kerja dan ekspor kita,” ujar dia.

Karena itu, partai koalisi memberikan solusi dengan mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgent, bersifat pemborosan, dan barang mewah yang ikut mendorong kenaikan harga-harga bahan pokok.

“Mengurangi secara signifikan pengeluaran pengeluaran APBN dan APBD yang bersifat konsumtif, seremonial dan yang tidak mendorong penciptaan lapangan kerja,” katanya.

Ternyata komentar Sandiaga tentang fundamental ekonomi negara yang melemah dibantah oleh Kantor Staf Presiden.

Dalam diskusi ‘Jurus Jitu Jagain Rupiah’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9/2018) siang, Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Strategis, Kantor Staf Presiden, Denni Puspa Purbasari mengatakan pemerintah tidak mungkin tidak mengimpor bahan pangan strategis, terutama beras.  

“Pemerintah tidak boleh mempertaruhkan perutnya rakyat kalau kita tahu beras kebutuhan pokok kurang, kita harus realistis lebih kita. Baik berjaga-jaga. Impor itu untuk memperkuat cadangan, itu logika,” kata Denni.

Pemerintah, kata Denni, sudah berupaya untuk menekan impor barang konsumsi dengan menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) pada 1.147 jenis barang impor. Kebijakan itu pun dilakukan guna mengendalikan pertumbuhan impor barang konsumsi.

Namun impor bahan pokok tetap perlu dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama warga miskin. Pasalnya, 25-32 persen belanja kebutuhan keluarga miskin adalah bahan pangan sehingga pemerintah harus menjaga harga. Apalagi kontribusi impor bahan pangan terhadap nilai total impor Indonesia tidak begitu besar, sehingga seharusnya tidak banyak berpengaruh terhadap pelemahan rupiah terhadap dollarAS.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Juli 2018 nilai impor sebesar US$ 18,27 miliar bertumbuh 31,56 persen dibanding bulan sebelumnya yakni US$ 9,13 miliar. Sementara dari US$ 18,27 kontribusi impor barang konsumsi hanya sebesar 9,41 persen per bulan Juli,” kata Denni.

Menurut Denni, bila dibandingkan dengan tahun 2000-2005, data menunjukkan impor beras di zaman Jokowi adalah yang terendah.”Persoalan ekonomi tidak bisa hanya dilihat melalui kacamata politik dan elektoral, semuanya harus mengacu pada data,” katanya. (safrizal)   

News Feed