oleh

Derita Perajin Tahu Tempe Dihajar Kenaikan Harga Kedelai Impor

-Ekonomi-463 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar dan berujung naiknya harga kedelai, belum berimbas pada harga tahu dan tempe. Harga dua jenis makanan itu tetap stabil meskipun bahan baku harus diimpor dari luar negeri. Namun sayangnya, ukuran tahu tempe dibuat mengecil untuk menutupi kemungkinan rugi akibat naiknya harga kedelai. Beruntung harga BBM belum dinaikkan.

Perajin biasanya membeli satu karung kedelai seberat 50 kilogram dengan harga sekitar Rp365 ribu, atau Rp7.300 per kilogram. Namun kini harganya sudah mencapai Rp390 ribu per karung, atau Rp7.800 per kilogram.

Dayat, seorang perajin di sentra pembuatan tahu di Kota Pekanbaru, Riau, membuat tahu yang lebih tipis dari ukuran biasanya sebagai siasat menghadapi kenaikan harga bahan baku.

“Biasanya dari satu karung kedelai dijadikan 17 kaleng tahu, sekarang dibuat jadi 18 kaleng, otomatis ukurannya lebih tipis,” katanya.

Dia mengaku tidak bisa menaikkan harga tahu karena takut ditinggal pembeli, apalagi perajin tahu lainnya belum ada yang menaikkan harga. Selain itu ada rasa iba di hatinya mengingat konsumen terbesar tahu dan tempe adalah masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Kita juga kasihan kalau harga harus naik, karena yang beli kan lebih banyak orang kecil,” kata Dayat.

Sepanjang karirnya sebagai perajin tahu, baru kali ini Dayat mengalami kenaikan harga kedelai yang kemudian bertahan tidak mau turun. Biasanya harga kedelai naik sebelum idul fitri, tapi kemudian turun lagi. Kali ini ternyata tidak.

“Kita nanya ke penjual kedelai, dia bilang karena kedelai impor jadi kena pengaruh dollar naik,” katanya.

Kondisi serupa dialami para produsen tempe dan tahu di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Mereka memilih mengurangi ukuran produknya menyusul dengan menguatnya dollar AS.

“Kami terpaksa mengurangi ukuran tahu supaya harga tidak dinaikkan,” kata Darno.

Dalam perhitungan Darno, meski sudah mengecilkan ukuran tahu dan tempe, keuntungan yang biasa dia raih tetap turun sekitar 30 persen.

Meski begitu, tidak semua perajin tahu mengurangi ukuran tahu buatannya. Ada juga yang tetap dengan ukuran seperti biasa, meski resiko keuntungan menurun.

Biasanya, setiap perajin mendapat untung Rp50 ribu per kaleng tahu yang diproduksi, namun kini keuntungan itu berkurang lantaran mereka tidak berani mengurangi ukuran tahunya.
Melemahnya nilai tukar rupiah juga berdampak pada para perajin tahu dan tempe di Kota Sukabumi, Jawa Barat.

”Kami berharap pemerintah segera mungkin swasembada kedelai tidak hanya mengandalkan impor,” ujar Elis Nuraini, seorang perajin tempe. 

Awalnya dalam sehari Elis mampu mengolah 4 kuintal kedelai menjadi tahu. Sementara saat ini sudah turun menjadi dua kuintal.

Karena itu dia  berharap upaya pemerintah untuk menekan lonjakan harga kedelai. Salah satu caranya bisa dengan memberikan subsidi terhadap komoditas kedelai sehingga harga tidak mengalami kenaikan.

Beruntung 70 persen pelaku usaha di Sukabumi merupakan UMKM. ”Para pelaku UMKM tersebut sekitar 50 persen lebih bahan bakunya berasal dari kandungan lokal dan bukan impor,” kata Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Sukabumi Raden Koesoemo Hutaripto. 

Bila dicermati, besarnya biaya produksi tahu dan tempe dengan tidak diimbangi untuk menaikan harga jual, maka bukan tidak mungkin para perajin makanan khas indonesia itu terancam gulung tikar jika dollar AS terus menguat tidak terkendali, sebab menguatnya dollar AS tidak hanya berpengaruh terhadap para pengrajin tahu dan tempe tetapi juga pada pedagang kedelai.

Saat ini pengrajin tempe maupun tahu terpaksa mengurangi pembelian kedelai sehingga hal itu berdampak terhadap lesunya penjualan kedelai yang dijual oleh pedagang kedelai.

Sejauh ini, para perajin tahu tempe masih mampu bertahan karena harga BBM belum naik, meski BBM impor dibanderol dalam dollar AS. Bila harga BBM sampai naik, bukan mustahil banyak di antara mereka yang langsung menutup usahanya.

Pemerintah sendiri mengaku punya solusi lain ketimbang menaikkan harga BBM. Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan solusi yang digunakan adalah dengan penggunaan biodiese 20% atau biodiesel B20.

Biodiesel B20 ini merupakan campuran bahan bakar diesel minyak nabati 20 persen dan minyak bumi (petroleum diesel) 80 persen.

Dampak penggunaannya pada mesin diesel modern tidak dipermasalahkan jika saja kualitasnya bagus.

Kualitas biodiesel B20 juga bergantung dengan kandungan sulfur pada petroleum diesel.

Karena memengaruhi emisi yang dihasilkan dan kesehatan sistem common rail di mesin diesel modern.

Jika kandungan sulfur semakin rendah maka emis gas buang yang dihasilkan semakin baik. (mus/zal/hadi/heri)

 

 

News Feed