oleh

Iklankan keberhasilan di Bioskop, Jokowi Sadar Tidak Lagi Diinginkan Rakyat

-Nasional-762 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Adita Irawati, menilai tidak ada yang salah bila Jokowi sebagai presiden mempublikasikan hasil-hasil kerjanya ke masyarakat.

“Dari kaca mata Istana, itu adalah komunikasi pembangunan yang memang perlu dilakukan pemerintah agar masyarakat mengetahui hasil-hasil pembangunan dan dapat memanfaatkannya untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Adita di Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Pernyataan Adita tersebut terkait hebohnya masyarakat, khususnya kalangan netizen, yang menganggap iklan keberhasilan pembangunan infrastuktur di era Jokowi sebagai bentuk kampanye dini, mengingat masa kampanye belum dimulai.

Menurut Adita, iklan yang ditayangkan di layar bioskop sebelum film dimulai itu adalah iklan resmi dari pemerintah, bukan pribadi Jokowi. Pihaknya menolak jika dikatakan iklan itu sebagai upaya kampanye calon petahana.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta pendukung Prabowo-Sandiaga tidak panik melihat tayangan iklan tersebut. Menurutnya, semua pihak harus melihat iklan Jokowi secara proporsional sesuai penjelasan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Seharusnya disikapi secara bijak, jangan panik,” kata Sekjen PKB Abdul Kadir Karding di Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Menurut Karding, melalui iklan tersebut masyarakat bisa tahu apa saja yang sudah dan sedang dikerjakan oleh pemerintah.

“Kalau tidak ada sosialisasi dan informasi soal kinerja pemerintah, nanti rakyat akan bertanya pemerintah kerja apa,” ujar Karding.

Sebelumnya,  Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo (Kemenkominfo) Ferdinandus Setu melalui video klarifikasi yang diunggah melalui akun Facebook pribadinya, Rabu (12/9/2018) malam menegaskan iklan yang dibuat oleh Kemenkominfo itu bukanlah bagian dari kampanye.

“Yang kami sampaikan tersebut bukan bagian dari kampanye. Kementerian Kominfo tidak sama sekali melakukan kampanye terkait dengan pencapresan Pak Jokowi pada periode mendatang,” ujar Ferdinandus.

Dia mengatakan, Kemenkominfo hanya menyampaikan hasil kinerja pemerintah kepada masyarakat luas termasuk dalam tugas Kemenkominfo sebagai humas pemerintah.

Pemilihan bioskop sebagai media iklan pun didasari atas beberapa alasan. Salah satunya, kata Ferdinandus, bioskop dinilai lebih efektif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak.

“Dengan memasang iklan di bioskop itu jauh lebih efektif, untuk semakin banyak masyarakat menerima informasi terkait dengan pencapaian yang dilakukan oleh pemerintah saat ini,” kata Ferdinandus.

Pendapat senada dilontarkan Faizal Assegaf. Dia membantah jika tayangan yang viral di media sosial itu adalah sebuah iklan.

“Soal iklan JKW di bioskop mosok dituding sbg kampanye. Yg namanya pemerintah justru wajib melakukan sosialiasi kpd publik. Ngawur bila soal gituan direspon scr brutal oleh kelompok sumbu pendek!” cuitnya di akun twitter.

Dari pihak yang kontra, Wakil Ketua Majelis Syuro Hidayat Nurwahid meminta iklan tersebut dihentikan penayangannya.

“Saya setuju kalau iklan semacam itu dicopot saja. Karena alih-alih itu menghadirkan simpati, itu akan menghadirkan antipati,” ujar Hidayat di Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Dia membenarkan bila pemerintah punya kewajiban untuk menyampaikan apa yang menjadi kinerjanya, namun karena Jokowi akan maju sebagai calon presiden dalam Pilpres mendatang, maka masyarakat jadi bertanya-tanya.

“Humas pemerintah memang punya kewajiban untuk menyampaikan apa yang menjadi kinerja dari pemerintah, tapi kan pemerintah konteks ini bukan hanya Jokowi saja. Bahkan kinerja Kominfo pun perlu disampaikan,” katanya.

Iklan pemerintah tentang kesuksesan pembangunan infrastruktur ternyata mewarnai layar bioskop-bioskop di tanah air.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon, yang juga Waketum Gerindra mengatakan hal serupa. Dia meminta agar iklan itu dicopot. 

“Sebaiknya iklan ini dicopot dari bioskop,” kata Fadli Zon, Rabu (12/9/2018)

Komentar paling pedas datang dari Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Dia menyebut iklan tersebut hadir karena Jokowi sadar sudah tidak diinginkan masyarakat.

“Wahh katanya sukses, tp koq ampe hrs iklan di Bioskop? Org sukses tak perlu iklan berlebihan apalagi harus mengganggu kenyamanan org yg sdh bayar untuk menonton film di bioskop….Steve Jobs tdk pernah mengiklankan dirinya, Jack Ma juga tidak. Itulah orang orang yang berhasil..!!  Sadar ya kalau sudah tidak diinginkan rakyat lagi?,” tulis Ferdinand Hutahaean dalam akun twitternya.

Iklan keberhasilan pembangunan yang menghebohkan itu versi singkat dari video ‘2 Musim, 65 Bendungan’, yang pernah diunggah di akun YouTube Jokowi. 

Isinya memperlihatkan proses pembangunan sejumlah bendungan diikuti dengan testimoni seorang petani tentang manfaat dari bendungan itu. Video lalu ditutup dengan kutipan dari Jokowi. 

“Membangun bendungan akan menjamin produksi pangan kita di masa depan karena kunci ketahanan pangan adalah ketersediaan air,” demikian tulisan dengan nama ‘Presiden Joko Widodo’ di bawahnya. 

Kutipan itu juga diikuti dengan tagar MENUJUINDONESIAMAJU di bawahnya. Kemudian, muncul logo Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai penyedia iklan layanan masyarakat. (hadi)

 

 

News Feed