oleh

DPR Kritik Kebijakan Impor Gula di Tengah Stok Mencukupi

-Ekonomi-526 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Pemerintah mengambil kebijakan impor gula di tengah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Padahal, kebijakan tersebut dinilai semakin mengurangi daya beli masyarakat.

“Sulit rasanya masyarakat ini bersimpati atas kebijakan pemerintah berkaitan dengan impor pangan yang nyatanya telah membelenggu daya beli masyarakat banyak,” kata anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal di Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Andi menilai, pemerintah selalu membuat alasan klasik berkaitan dengan impor gula. Salah satunya, impor gula ini dilakukan atas dasar kualitas gula nasional belum bisa memenuhi kebutuhan gula industri. Alasan lainnya karena stok dalam negeri tidak memenuhi kebutuhan nasional sehingga perlu dilakukan impor gula.

Dia pun membandingkan kebijakan impor gula dengan impor beras. Menteri Pertanian selalu menyatakan bahwa stok beras nasional cukup, namun nyatanya pemerintahan Jokowi selalu impor beras.

“Saya jadi curiga bahwa sesungguhnya gula kita ini tidak sebesar itu untuk impor. Karena saat ini Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) mengklaim institusinya hingga September 2018 ini mampu menyerap gula milik petani lebih dari 100 ribu ton,” kata Andi.

Andi menjelaskan, saat ini Bulog memiliki tugas untuk menyerap dan membeli gula milik petani dengan harga Rp9.700 per kilogram (kg) sebanyak 600 ribu ton hingga April 2019 mendatang. Dengan klaim Bulog  bahwa  gudangnya memiliki 140 ribu ton gula, maka ketersediaan gula yang ada di gudang Bulog saat ini mencapai lebih dari 270 ribu ton. Dengan jumlah persediaan gula sebanyak itu, seharusnya Indonesia tidak perlu mengimpor gula.

“Saya berharap pemerintah tidak usah lagi menambah kesengsaraan rakyat terutama petani kita dengan dihadapkan produk impor pangan. Sudah cukup derita ini perlu diakhiri. Semoga pemerintah mendengar dan mampu memperbaiki kinerjanya,” katanya. (harun)

News Feed