oleh

Cegah Frambusia Mewabah, Bupati Intan Jaya Gerak Cepat Bentuk Tim Kesehatan

 

Intan Jaya, Radar Pagi – Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni, S.Si, M.Si bergerak cepat membentuk tim kesehatan untuk meneliti penyakit frambusia yang diderita beberapa warga di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Hal tersebut dilakukan supaya penyakit yang mudah menular ini tidak menyebar luas.

Tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Intan Jaya yang diketuai oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Intan Jaya tersebut antara lain bertugas untuk memastikan sumber penyebab penyakit, mengetahui besarnya penyebaran penyakit, dan waktu terjadinya penyebaran penyakit, serta mengetahui faktor risiko dari kasus tersebut.

Frambusia adalah infeksi tropis pada kulit, tulang dan sendi yang disebabkan oleh bakteri spiroket Treponema pallidum pertenue. Di Pulau Jawa, penyakit ini disebut patek. Frambusia diawali dengan pembengkakan keras dan bundar pada kulit, dengan diameter 2 sampai 5 cm. Lama kelamaan bagian tengah bengkak tersebut akan pecah hingga muncul borok yang ukurannya bisa terus membesar.

Seperti yang dialami oleh pelajar SD Negeri Inpres Mbiandoga bernama Hendrik Sabisani. Bagian wajah remaja 15 tahun warga Ndabapo, Kampung Ndabatadi Distrik Biandoga Kabupaten Intan Jaya ini dipenuhi borok atau luka yang dari hari ke hari terus membesar di wajahnya.

Pada akhir tahun 2017, borok di wajah Hendrik masih terlihat kecil, namun pada September 2018, kondisinya sudah membesar hingga menutupi seluruh bagian hidung dan sebagian pipinya.

Kasus Hendrik sendiri baru diketahui berkat laporan seorang Pemuda Peduli Pendidikan hingga menjadi viral di media sosial. Bupati Intan Jaya yang mendengar kejadian ini langsung memerintahkan Kadis Kesehatan untuk melakukan penanganan serius.

Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni, SS, M.Si bersama jajaran Pemkab Intan Jaya berfoto bersama penderita frambusia, Hendrik Sabisani. Pemkab Intan Jaya bergerak cepat membantu penyembuhan Hendrik.

Dalam rilis hasil survei dan investigasi kesehatan yang disusun oleh  Agustinus Bagau S.KM. M.Kes (Epid), dr. Jiki Novita Yakubus, Rheza Abdi Putra, dan Jhon Sani di Distrik Biandoga yang diterima Radar Pagi, Senin (24/9/2018), disebutkan Tim Kesehatan Kabupaten Intan Jaya telah melakukan penyelidikan atas kasus penyakit ini. Tim juga segera menyiapkan tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, analis dan tenaga kesehatan lain, serta obat-obatan. Bahkan helikopter pun disediakan untuk mengevakuasi penderita frambusia.

Untuk menjangkau lokasi kediaman Hendrik yang terletak di pedalaman Papua memang bukan hal mudah. Dari Nabire harus ditempuh selama 35 menit dengan menggunakan pesawat perintis atau helikopter yang menghabiskan biaya sewa sekitar Rp 35 juta, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam, naik turun gunung menembus hutan belantara.

Hendrik Sabisani sedang menjalani pengobatan

Dalam rilis tersebut juga disebutkan pada saat kegiatan pengobatan dilaksanakan pada 13-15 September tahun 2018, ditemukan 20 pasien dengan penyakit luka frambusia, yaitu umur 0-5 tahun 3 kasus , umur 6-15 tahun 4 kasus, 16-35 tahun 6 kasus, 36-50 tahun 5 kasus dan di atas 50 tahun sebanyak 2 kasus.

Sejauh ini, frambusia yang melanda Kabupaten Intan Jaya memang bukan termasuk wabah atau kejadian luar biasa (KLB), namun mengingat terjadinya peningkatan kasus, maka diperlukan perhatian khusus. Beruntung Bupati beserta jajaran instansi terkait bergerak cepat menangani kasus ini. (Om Yan)

baca juga: http://radarpagi.com/kapolres-nias-selatan-pimpin-sertijab-kapolsek-pulau-pulau-batu/

 

News Feed