oleh

Visa Habis, Habib Rizieq Jadi “Tahanan Rumah”

-Nasional-92 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Pihak Kedutaan Besar Indonesia di Riyadh, Arab Saudi, menjelaskan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Sihab sudah tak memiliki izin tinggal di Arab Saudi karena masalah visa yang telah melewati batas waktu yang ditentukan.

Melalui rilis yang diterima redaksi, Sabtu (29/9/2018), dikatakan selama ini Rizieq tinggal di Arab Saudi menggunakan visa kunjungan bisnis, namun selama berada di sana visa tersebut emang tidak dipergunakan untuk kerja.

“Visa tersebut telah habis masa berlakunya pada 9 Mei lalu. Namun telah diperpanjang kembali hingga akhir masa tinggal pada 20 Juli 2018. Sejak 21 Juli, Habib Rizieq sudah tak memiliki izin tinggal di Arab Saudi,” kata Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Arab Saudi dan Organisasi Kerja sama Islma (OKI), Agus Maftuh Abegebriel.

Terkait kabar pencekalan terhadap Rizieq, Agus mengaku belum menerima nota diplomatik dari Kementerian Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi terkait hal tersebut. Pada saat bersamaan, Agus juga menegaskan pihaknya tidak pernah menerima nota dari Menlu RI, Kapolri, BIN, dan pejabat tinggi lainnya di Indonesia terkait keberadaan Habib Rizieq di Arab Saudi. Dengan demikian, secara tidak langsung, Agus menjelaskan bahwa pemerintah RI tidak pernah turut campur terhadap keberadaan Rizieq selama ini.

“Indonesia menghargai rambu-rambu politik luar negeri, dengan tidak intervensi pada urusan dalam negeri Arab Saudi,” tutur Agus.

Dia menjelaskan tindakan yang dilakukan Kerajaan Arab Saudi terhadap ekspatriat dari negara manapun merupakan tanggung jawab dan otoritasnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban di negara tersebut.

Agus menjamin jika Rizieq mengalami permasalahan hukum di Arab Saudi, terkait keimigrasian ataupun lainnya, maka KBRI Riyadh siap memberikan pendampingan, perlindungan seusai perundang-undangan yang berlaku di Kerajaan Arab Saudi.

Sementara itu, Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Hikmahanto Juwana meminta pemerintah RI memperjelas status hukum Rizieq Shihab ke pemerintah Arab Saudi. Sebab, menurut Hikmahanto mestinya sudah dideportasi karena izin tinggal Habib Rizieq sudah habis.

“Ya, itu harus ditanya ke otoritas Arab Saudi, apakah ada masalah hukum atau tidak. Seharusnya, kalau izin tinggal sudah kadaluwarsa, ya, harus dideportasi ke asal negaranya,” kata Hikmahanto, dilansir detik.com, Jumat (28/9/2018) kemarin.

Hikmahanto menuturkan, ada beberapa penyebab mengapa seseorang dicegah ke luar negara yang dikunjungi, salah satunya yakni sedang menjalani proses hukum. Hikmahanto lalu mencontohkan kasus Siti Aisyah yang dituduh membunuh Kim Jong Nam.

“Tapi, kalau ada masalah hukum baik keimigrasian atau lainnya, negara setempat dapat menahan. Kayak Siti Aisyah misalnya, WNI yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap Kim Jong Nam, kan tidak bisa kembali ke Indonesia meski masa tinggal sudah berakhir karena sedang menghadapi proses hukum,” papar Hikmahanto.

Pencegahan Habib Rizieq ke luar Arab Saudi diketahui saat yang bersangkutan tidak dapat terbang ke Malaysia. Padahal, menurut Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi (KAS) Agus Maftuh Abegebriel menyebut izin tinggal Habib Rizieq di Saudi sudah habis per Juli 2018.

Soal tudingan adanya peranan pemerintah RI dalam pencegahan Habib Rizieq ke luar Arab Saudi, dia meyakini tudingan itu tidak benar.

“Kalau ada tuduhan permainan dari otoritas di Indonesia saya kira tidak, ya. Masak negara berdaulat seperti Arab Saudi mau diintervensi oleh negara lain yakni Indonesia,”  ujarnya.

Sebelumnya, FPI mengungkap bagaimana kondisi imam besar mereka selama ini. Awalnya, tamu Habib Rizieq dibatasi tidak boleh lebih dari lima orang, kini dia menjadi seperti tahanan rumah.

“Jadi saat ini pencekalannya itu mulai meningkat. Informasi terakhir malah tidak bisa keluar rumah sama sekali. Jadi betul-betul kayak tahanan rumah,” ujar jubir FPI Slamet Ma’arif di Jakarta, Jumat (28/9/2018).

Slamet menduga apa yang terjadi pada Habib Rizieq ada kaitannya dengan pemerintah Indonesia. Sebab menurutnya, Arab Saudi tidak memiliki alasan untuk mencekal Habib Rizieq.

“Nah, kita melihat seusai dengan yang disampaikan kemarin oleh Dubes (Dubes Saudi untuk Indonesia) bahwa pencekalan dilakukan untuk melindungi beliau. Nah, seingat kita itu, biasanya pencekalan dilakukan pertama karena teroris, kedua karena kriminalisasi. Nah, ketiga, pemerintah dari ini negara yang dicekal di sana sehingga kalau kasus pertama kan nggak ada teroris. Kedua kriminalisasi, sudah SP3 semua. Sehingga kami berkesimpulan ini pemerintah yang meminta kepada Saudi Arabia untuk melakukan pencekalan,” ujar Slamet.

Rizieq telah menetap di Arab Saudi sejak pertengahan 2017, pasca kasus chat berkonten pornografi dan tuduhan makar terhadap dirinya dalam sejumlah aksi. Selama berada di Arab Saudi, Rizieq sering dikunjungi sejumlah tokoh politik dan tokoh agama, di antaranya Fadli Zon, Amien Rais, Sudirman Said, dan penceramah Ustaz Abdul Somad.

Habib Rizieq pun menjadi tokoh sentral dalam keputusan Ijtima Ulama I dan II yang berujung dukungan penuh Ijtima Ulama terhadap pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.  (safrizal)

Baca juga: http://radarpagi.com/dahsyatnya-tsunami-palu-ada-kapal-terlempar-70-meter/

 

News Feed