oleh

Izinkan Korban Gempa Palu ‘Jarah’ Minimarket, Pemerintah Ajarkan Cara Kriminal Pada Masyarakat

-Utama-87 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah, diizinkan untuk mengambil barang kebutuhan di minimarket seperti Indomaret dan Alfamart secara gratis.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan,  barang-barang yang diambil itu akan dibayar oleh pemerintah.

“Kita sudah perintahkan untuk Alfamart dan Indomaret itu sudah bisa diambil barang-barangnya,” kata Tjahjo di Palu, Minggu (30/9/2018),

Dia mengatakan pemerintah sudah memberikan nomor kontak personil yang bertanggung jawab kepada minimarket.

“Kami sudah tinggalkan kartu nama dan kami akan bayar itu semua,” katanya.

Menurut Tjahjo, keputusan tersebut dilakukan, berdasarkan kondisi di lapangan yakni sulitnya warga memperoleh bahan makanan.

Di satu sisi, kebijakan tersebut mungkin dapat menyelamatkan sebagian pengungsi yang kekurangan bahan makanan, namun di sisi lain, pemerintah sedang melegalkan cara criminal untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Pengamat Pusat Kajian Politik Ekonomi Indonesia, Barata, menilai seharusnya pemerintah lebih konsen pada upaya menyuplai bahan makanan untuk para pengungsi.

“Misalnya dengan mengoptimalkan penggunaan helikopter milik TNI, SAR, swasta dan sebagainya untuk menyalurkan bantuan di lokasi korban yang sulit dijangkau lewat jalur darat,” kata Barata di Jakarta, Senin (1/10/2018).

Dia berpendapat, pemerintah juga harus menjaga ketertiban dan keamanan dengan memerintahkan TNI dan Polri berjaga di seluruh penjuru kota untuk mencegah terjadinya aksi kriminalitas berupa penjarahan dan pencurian.

“Jadi personil TNI dan Polri harus dibagi tugasnya, ada yang menyalurkan bantuan dan membantu evakuasi korban, ada juga yang khusus menjaga keamanan dan ketertiban,” katanya.

Kebijakan pemerintah membiarkan korban gempa mengambil barang di minimarket, kata Barata, sama saja mengajarkan masyarakat untuk menjarah barang demi memenuhi kebutuhannya pasca gempa. Cara-cara criminal yang dilegalkan seperti itu, menurut Barata, sama sekali tidak bijaksana.

“Bayangkan bila kebiasaan melegalkan cara kriminal itu menjalar pula ke bidang lain, seperti politik? Bisa rusak demokrasi kita,” katanya.

Barata menyalahkan pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang terkesan tidak siap menghadapi bencana. Padahal, usai gempa dan tsunami Aceh, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran oleh pemerintah, khususnya masalah penanganan pasca gempa.

Selain itu, kata Barata, membiarkan korban gempa mengambil barang seenaknya di minimarket, bukan cuma mengajarkan praktek kriminalitas pada masyarakat, namun juga tidak akan menjamin seluruh korban menerima bahan pangan.

“Siapa yang berani jamin bila warga tidak berebutan ambil barang? Satu orang saja bisa menguras isi minimarket untuk dirinya sendiri. Bagaimana dengan warga yang rumahnya jauh dari minimarket, atau bagaimana nasib warga yang kalah adu cepat ambil barang dengan warga lainnya? Sungguh kebijakan ini tidak efektif,” kata Barata.

Infiormasi terbaru di lapangan, warga bukan cuma mengambil barang di minimarket, tapi juga mengambil barang di toko dan warung. Entah apakah pemerintah akan membayarnya atau tidak. (agus)

Baca juga: http://radarpagi.com/tsunami-palu-tak-terdeteksi-karena-alat-pendeteksinya-hilang-dicuri/

 

News Feed