oleh

Pemerintah Segera Ganti Alat Pendeteksi Tsunami yang Rusak dan Hilang

-Nasional-80 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) segera mengadakan alat pendeteksi tsunami yang baru untuk menggantikan alat sebelumnya yang rusak atau hilang. 

“Pemasangan kembali buoy di seluruh perairan Indonesia sangatlah mendesak. Terutama, di daerah yang sering terjadi gelombang besar ataupun daerah rawan tsunami,” kata Bamsoet di Jakarta, Senin (1/10/2018).  

Melalui Badan Anggaran (Banggar), DPR RI, akan memberikan dukungan kepada BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Bdan BPPT dalam penyusunan anggaran. 

“Baik untuk pengadaan buoy maupun anggaran pendanaan bencana yang tentunya sangat berpengaruh terhadap upaya mitigasi bencana,” ujar Bamsoet. 

Buoy adalah sebutan untuk Deep-Ocean Tsunami Detection Buoys, perangkat teknologi tinggi yang digunakan untuk mendeteksi perubahan permukaan air laut. Buoy diletakkan terapung di tengah laut untuk mendeteksi gelombang pasang dan tsunami.  

Namun sayang, menurut keterangan  Kepala Pusat Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Gedung BNPB, Jakarta, Senin (1/10/2018), puluhan alat pendeteksi tsunami terapung yang dihibahkan Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia untuk Indonesia diduga banyak yang tak berfungsi. Sebagian dirusak tangan-tangan jahil, sebagian lagi hilang dicuri.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengaku kecewa atas dugaan pencurian alat-alat pendeteksi dini tsunami milik BMKG.

“Kita ingatkan masyarakat, tolong jangan buoy-buoy itu dicuri. Jadi banyak itu di Aceh maupun di Palu sehingga early warning (peringatan dini) itu jadi bisa terlambat sampainya,” kata Luhut di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).

Luhut mengingatkan siapapun yang mengambil alat pendeteksi itu sama saja dengan membunuh orang lain. Sebab hilangnya alat pendeteksi tsunami itu mengakibatkan tak ada deteksi dini tsunami.

“Itu harus disosialisasikan juga janganlah buoy itu diambil karena kalau dia ngambil buoy sebenarnya dia membunuh orang-orang, saudaranya,” katanya.

Peristiwa pencurian tersebut diakui Luhut sudah lama terjadi, dan pemerintah sudah mengetahuinya, namun belum sempat mengadakan kembali alat-alat pendeteksi gempa tersebut karena keterbatasan dana.

“Sudah lama, sudah beberapa tahun terakhir ini, tapi karena terus nggak ada dana untuk menambah lagi ya berhenti,” kata dia.

Tapi dengan adanya bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) malam, pemerintah bakal segera menyiapkan anggaran untuk pengadaan alat-alat pendeteksi gempa. Hal tersebut pun akan dibahas dalam rapat terbatas (ratas) di Istana Presiden, Selasa (2/10/2018).

“Besok ada ratas mengenai itu. Tadi kepala BMKG juga mengusulkan ada perbaikan di Indonesia mengenai buoy,” ujarnya.

Polri Turun Tangan Selidiki Hilangnya Buoy

Di tempat terpisah, Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono, menjelaskan pihaknya batu tahu masalah pencurian buoy karena selama ini tidak ada yang memberi laporan.

“Polri baru tahu sekarang. Tentunya, kalau hilang, ada indikasi pencurian. Ketika dilaporkan, akan kami lakukan penyelidikan,” kata Syahar di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2018).

Syahar menjelaskan, jika memulai penyidikan, Polri akan berkoordinasi dengan BMKG. “Tentunya Polri akan berkoordinasi dengan BMKG,” katanya.. (cahyo

aca juga: http://radarpagi.com/kpk-soroti-tidak-berfungsinya-alat-pendeteksi-tsunami-di-palu/

News Feed