oleh

Toko Handphone Dijarah di Palu, Lapar Atau Mental Garong?

-Sulawesi-57 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Penjarahan mulai marak di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Di beberapa tempat dikabarkan massa menjarah minimarket, toko dan warung. Namun kabar tersebut dibantah oleh pemerintah dan kepolisian. Mereka menyebutnya ‘bukan penjarahan’, melainkan warga sedang lapar karena bencana.

Tapi penjarahan ternyata terjadi di Toko Handphone Makmur Jaya, Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Beberapa pelakunya langsung ditangkap.

“Mereka berhasil kita amankan,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Menurut Setyo, Polri masih mentoleransi masyarakat yang melakukan penjarahan dengan catatan jika yang dijarah adalah bahan pokok.

“Tapi kalau barang-barang lain (bukan makanan dan minuman) ini sudah kriminal,” ujar Setyo.

Mabes Polri rencananya akan mengerahkan 1.400 personel yang didatangkan dari Polda Sulawesi Utara, Selatan dan Gorontalo untuk membantu mengamankan Palu dari aksi penjarahan toko-toko yang marak pasca gempa dan tsunami menerjang. 

“Tiga SSK setingkat, satu SSK 100 orang. Ini rencananya akan dikirim lagi ke sana kemungkinan sekitar 1400 personel akan membantu mengamankan, kemudian merehabilitasi, membersihkan di sana seperti di Lombok,” kata Setyo Wasisto.

Pemerintah Jangan Tolerir Penjarahan

Korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah, diizinkan untuk mengambil barang kebutuhan di minimarket seperti Indomaret dan Alfamart secara gratis.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan,  barang-barang yang diambil itu akan dibayar oleh pemerintah.

“Kita sudah perintahkan untuk Alfamart dan Indomaret itu sudah bisa diambil barang-barangnya,” kata Tjahjo di Palu, Minggu (30/9/2018),

Dia mengatakan pemerintah sudah memberikan nomor kontak personil yang bertanggung jawab kepada minimarket.

“Kami sudah tinggalkan kartu nama dan kami akan bayar itu semua,” katanya.

Namun Pengamat Pusat Kajian Politik Ekonomi Indonesia, Barata, menilai seharusnya pemerintah lebih konsen pada upaya menyuplai bahan makanan untuk para pengungsi, bukannya malah mengajarkan masyarakat untuk menjarah, apapun alasannya.

“Misalnya dengan mengoptimalkan penggunaan helikopter milik TNI, SAR, swasta dan sebagainya untuk menyalurkan bantuan di lokasi korban yang sulit dijangkau lewat jalur darat,” kata Barata di Jakarta, Senin (1/10/2018).

Kebijakan pemerintah membiarkan korban gempa mengambil barang di minimarket, kata Barata, sama saja mengajarkan masyarakat untuk menjarah barang demi memenuhi kebutuhannya pasca gempa. Cara-cara kriminal yang dilegalkan seperti itu, menurut Barata, sama sekali tidak bijaksana.

Ternyata terbukti, sebagian oknum masyarakat di Kota Palu melakukan penjarahan toko handphone. Jelas bukan karena lapar penyebabnya, melainkan mentalitas yang buruk dari warga sendiri.

Dikasih hati minta jantung, itulah istilah yang tepat untuk mereka. Dilegalkan menjarah makanan dan minuman, kini ada saja oknum yang ingin melebarkan sayap dengan menjarah barang-barang yang bukan kebutuhan pokok. (agus)

Baca juga: http://radarpagi.com/warga-mamuju-utara-hadang-mobil-bantuan-untuk-palu-donggala/

News Feed