oleh

Tsunami Palu Tak Terdeteksi Karena Alat Pendeteksinya Hilang Dicuri

-Sulawesi-89 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Puluhan alat pendeteksi tsunami terapung yang dihibahkan Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia untuk Indonesia diduga banyak yang tak berfungsi. Itu sebabnya mengapa potensi tsunami di Palu dan Donggala tidak bisa diprediksi secara akurat sebelum musibah itu terjadi.

“Alat pendeteksi tsunami yang dikenal dengan buoy itu sebagian rusak lantaran ulah tangan-tangan usil, sedangkan sebagian lagi hilang dicuri,” ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Gedung BNPB, Jakarta, beberapa saat lalu.

Buoy yang dimaksud Sutopo adalah Deep-Ocean Tsunami Detection Buoys, perangkat teknologi tinggi yang digunakan untuk mendeteksi perubahan permukaan air laut.

Rusak dan hilangnya semua alat tersebut, kata Sutopo, menjadikan kerja mitigasi atau pencegahan bencana menjadi sangat sulit. Padahal Indonesia punya banyak daerah rawan bencana, khususnya pesisir-pesisir yang rentan diterjang tsunami.

“Buoy tsunami diperlukan untuk memastikan bekerjanya sistem peringatan dini,” kata Sutopo.

Dari 21 buoy yang ada, 10 di antaranya merupakan sumbangan Jerman. Harganya bukan main-main. Untuk 10 buoy itu saja nilainya mencapai Rp 615 miliar. Sayang, semua alat yang seharusnya bisa menyelamatkan ribuan nyawa itu hilang atau dirusak tangan-tangan jahil.

Buoy biasa diletakkan di laut itu sudah tak beroperasi sejak tahun 2012 lalu. “Jadi enggak ada buoy tsunami di Indonesia, sejak 2012 bouy Tsunami sudah tidak ada yang beroperasi sampai sekarang, ya tidak ada,” kata Sutopo.

Kondisi tersebut diperparah dengan anggaran pendanaan pendanaan yang semakin turun setiap tahun. “Dulu sempat hampir mendekati Rp 2 triliun tahun ini hanya Rp 700 M (miliar). Nah ini jadi kendala, di satu sisi ancaman bencana meningkat, masyarakat yang terpapar teresiko semakin meningkat, kejadian bencana meningkat,” katanya.

Namun demikian, dia meminta wartawan menanyakan lanngsung kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) karena lebih berwenang memberikan jawaban terkait alasan tak lagi dioperasikannya bouy untuk memberikan sinyal ancaman bencana tsunami.

“Karena yang mengurusi semua terkait Indonesia tsunami early warning sistem di Indonesia itu dikoordinir di BMKG,” kata dia. (jar)

Baca juga: http://radarpagi.com/izinkan-korban-gempa-palu-jarah-minimarket-pemerintah-ajarkan-cara-kriminal-pada-masyarakat/

 

 

News Feed