oleh

Banyak Jenazah Tidak Bisa Diambil, Balaroa dan Petobo Dijadikan Kuburan Massal

-Sulawesi-84 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Korban tewas akibat gempa dan tsunami yang menerjang Kota Palu, Sulawesi Tengah, dan sekitarnya, sudah mencapai 1.648 korban dan telah dimakamkan. Namun masih banyak jenazah yang tidak bisa dievakuasi, sehingga beberapa wilayah akan dijadikan kuburan massal.

Data itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto. Dia menyebut 683 orang dinyatakan masih hilang, dan ratusan lainnya masih tertimbun puing gempa.

“Jadi ada 1.648 yang meninggal, hilang masih 683 orang, dan yang tertimbun masih 152. Yang tertimbun setelah digali, ketemu, berarti perlu dimakamkan dan diidentifikasi dulu,” kata Wiranto, dalam konferensi pers di Gedung Kemenpolhukam, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/2018) malam.

Untuk mencegah timbulnya wabah penyakit, Wiranto telah menginstruksikan agar jenazah yang ditemukan tidak disimpan dan lekas dimakamkan setelah diidentifikasi.

Dia juga mengatakan, para korban luka sudah ditangani di lima rumah sakit yang beroperasi beserta dokter, ruang rawat inap dan obat-obatan.

Namun korban luka parah yang tidak dapat ditangani di rumah sakit di Palu dan sekitarnya, terpalsa  harus dikirim ke Makassar atau Balikpapan, dengan menggunakan KRI Soeharso yang berkapasitas 100 tempat tidur dengan 150 dokter spesialis.

Rencananya, kata Wiranto, sejumlah wilayah akibat gempa Palu akan dijadikan monumen kuburan massal bagi para korban yang meninggal dunia. Antara lain di wilayah Balaroa yang mengalami fenomena likuifaksi, yakni hilangnya kekuatan tanah akibat beban getaran gempa.

“Itu yang korbannya banyak di Balaroa di kompleks perumahan itu tanahnya ambles. Alat berat bisa tenggelam karena masih lunak tanahnya, jenazah pun tak bisa ditemukan,” ujarnya.

Selain di Balaroa, Wiranto juga menyebut wilayah lain, yakni Petobo yang hancur juga karena fenomena likuifaksi. 

“Tanahnya terangkat, banyak lumpur. Dan sama, kalau alat berat masuk, dia akan tenggelam,” ujarnya.

Untuk itulah, Wiranto sudah berunding dengan para tokoh-tokoh masyarakat dan agama agar tempat tersebut dijadikan kuburan atau pemakaman massal. (joko)

Baca juga: http://radarpagi.com/gus-sholeh-bohong-bisa-berakibat-kepada-fitnah/

 

News Feed