oleh

Puisi-puisi Eny Marlina

-Puisi-552 views

 

Sajak Bisu

Angin menampar malamku

meneriaki hujan di jalan bebatuan

yang terbentang kering

memaraukan suara hati

sajakku rebah di pucuk malam.

 

Entah mimpi mana yang membelah janji

Atau jalanku tak bertemu pagi,

aku meratap di ruang sunyi

di antara luka tanpa penawar

di antara sajak bisu yang bersembunyi di bilik hati.

 

Keheningan muncul dalam lembar sajakku

yang bertumpukan di atas meja berdebu

lalu aku menutup buru-buru

sebelum malam menggenapkan gulita.

 

Bekasi, 01 April 2018

 

Engkaukah  Itu

Aku mencari bayangmu di ambang pintu malam

yang bersembunyi dalam keremangan sunyi,

mataku nyalang memandang bayangmu yang risau

sebelum cahaya bulan enggan menerpa wajahmu.

 

Aku menabuh tembang sepi

hingga kabut datang menjadi tembang perdana

yang mengantarku pada engkau

yang terus bersembunyi di balik senja.

 

Aku terus berlari mencarimu

namun kegelapan malam mengadangku

melempar aku jauh ke samudera

di mana aku menemukanmu

yang sedang duduk di atas gelombang,

membaca mantra musim.

 

Bekasi, 13 April 2018

 

Di Penghujung Hari

Di penghujung hari aku terjatuh di antara serpihan malam

melebur dalam patahan mimpi yang sekarat

melumat tidur-tidurku

hingga malamku terlunta di antara bayang kelammu

dan sebaris senyum yang masih terlintas di ingatanku.

 

Di penghujung hari, aku bangun menghela napas

lalu penaku berceloteh di ruas kertas

yang terus menggumam tanpa diam

sampai malam larut dalam gelimang purnama.

 

Di penghujung hari, rasa letih membalut tubuhku

Menghempas segala angan dalam menghitung hari

menuju usia tubuhku yang kian tua,

sebuah pertanda muncul di lekuk wajahku.

 

Bekasi, 04 Mei 2018

 

Di Balik Jendela 

Di luar hujan mengguyur lebat

dua bola mataku menangkap suara hujan

yang menggema, menimbukan bias

di kaca jendela.

 

Di balik jendela, aku duduk meringkuk sepi

Memandang bayang hujan yang kabur di mataku

Hanya mata hatiku yang terang

Mengingat sosok bayang yang basah di tepian jalan.

 

Di balik jendela, aku bercerita pada hujan

tentang suatu rasa yang retak di atas meja

tentang rindu yang terbuang, mengalir

bersama air hujan, dari pekarangan

ke jalanan.

 

Bekasi, 28 April 2018

 

Kemarau

Kemarau adalah serpihan batu yang memecah

menjadi ribuan debu yang berterbangan

berpulang menjadi kenangan.

 

Kemarau berharap rinai hujan turun menjela

alir sungai yang deras mengalir ke matamu,

tanpa igau dan angan kemarau

yang kembali pada aroma debu.

 

Bekasi, 27 Maret 2018

 

Eny Marlina adalah nama pena Maryamah Latif. Lahir di Bengkalis Riau, 5 Mei 1971. Ia seorang ibu rumah tangga yang sangat menyukai puisi. Saat ini menetap di Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat.

 

News Feed