oleh

Petani Kota Bogor Padukan Teknologi Modern dengan Benih Padi Inpari 40

-Ekonomi-80 views

 

Bogor, Radar Pagi – Pemerintah Kota Bogor menerapkan sistem pertanian modern dalam mengolah sawah, mulai dari penggarapan lahan, proses menanam, panen, hingga jenis padi yang dipilih. Hal tersebut bertujuan untuk memajukan sektor pertanian di lahan perkotaan.

Namun karena keberadaan lahan di Kota Bogor terbilang sempit, tenaga kerja sedikit dan mahal, membuat peran teknologi menjadi sangat dominan.

“Seperti menggarap lahan menggunakan mesin traktor, menanan dengan mesin penanam padi atau rice transplanter, panen menggunakan mesin pemanen combine harvester, hingga menggunakan varietas unggul padi,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Bogor, Robert Hasibuan.

Robert mengatakan hal tersebut saat menghadiri  Temu Lapang dan Panen Inpari 40 Agritan di Kelurahan Katulampa, Bogor Timur, Kota Bogor, Jumat (19/10/2018).

Temu Lapang dan Panen Inpari 40 Agritan merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Badan Penelitian dan Pengmbangan Pertanian (Balitbangtan) dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bogor dalam mengembangkan pertanian.

Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Benih Sumber BB Biogen Balitbangtan, Dodin Koswanudin mengatakan, target utama dari kerja sama ini adalah meningkatnya pendapatan petani dengan cara memproduksi benih, karena nilai jual benih lebih tinggi dibandingkan harga padi konsumsi.

“Dengan adanya pengawasan dari BPSB, diharapkan petani yang awalnya hanya menjual hasil panen padi untuk konsumsi, bisa beralih menjual benih sehingga pendapatan petani meningkat,” ujar Dodin.

Balitbangtan, sambung Dodin, dalam hal ini BB Biogen akan mendukung dalam hal penangkaran benih khususnya benih Inpari 40 agar dapat disuplai ke daerah-daerah lain. Inpari 40 sendiri merupakan salah satu varietas unggul baru yang dirakit oleh Balitbangtan.

Padi ini merupakan padi tadah hujan yang dapat tumbuh di daerah yang memiliki irigasi buruk atau kekurangan air. Selain itu potensi hasil Inpari 40 mencapai 9,6 per hektare.

Upaya pengembangan Inpari ini disambut baik oleh petani. Salah satunya Salim Abdullah, yang merupakan ketua kelompok tani Bangun Tani Hias, Kelurahan Katulampa, Bogor.

Salim menyebutkan, saat ini petani memiliki tantangan baru dalam mengolah sawah, yakni tercemarnya air irigasi dengan limbah rumah tangga seperti deterjen.

“Selain air irigasi yang telah terkontaminasi, tantangan terberat petani adalah cuaca. Cuaca yang tidak menentu menyebabkan bulir padinya menguning dan lama kelamaan berubah jadi coklat. Tapi yang saya lihat, padi Inpari 40 ini lebih tahan terhadap cuaca yang tidak menentu tersebut,” ungkap Salim.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Bogor, lahan pertanian yang tersisa di Kota Bogor sebesar 320 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 150 hektare merupakan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang akan dikembangkan untuk memajukan pertanian di Kota Bogor. (heri)

 

 

News Feed