oleh

Harga Pakan Naik, Peternak Ayam Menjerit

-Ekonomi-249 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin kuat terhadap rupiah menyebabkan  harga pakan ternak terus mengalami kenaikan. Misalnya kenaikan harga bahan-bahan pendukung pakan ternak yang diimpor akhirnya mendorong kenaikan harga pakan ternak. Dengan kondisi ini, di lapangan, peternak pun saling berebut jagung.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Singgih Januratmoko mengatakan harga pakan ternak sudah mulai mengalami kenaikan Rp 300 sampai Rp 500 dari harga sebelumnya.

Dia mengungkapkan kenaikan harga pakan tersebut berdampak ke biaya produksi. Namun hal itu tidak membuat harga daging ayam mengalami kenaikan.

Pasalnya, menurut Singgih, harga daging ayam dipengaruhi oleh daya permintaan dan jumlah pasokan.

“Biaya produksi naik sekitar 10%. Nah, tapi harga daging ayam tidak pengaruh ke produksi karena yang pengaruh supply and demand,” katanya.

Sudah hampir tiga bulan, peternak ayam (terutama peternak ayam petelur) memang mengalami krisis pakan jagung. Selain ketersediaannya yang nyaris sulit ditemukan di pasaran, harga jagung juga melambung tinggi.

Di kampung halaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Kamis (18/10/2018) kemarin misalnya, puluhan peternak ayam petelur di Solo Raya menggelar aksi demo menyikapi naiknya harga pakan, Aksi demo diikuti sekitar 40 peternak ayam petelur dipusatkan di Bundaran Gladag Solo.

Dalam aksinya mereka membawa berbagai poster berharap pemerintah segera menurunkan harga pakan.

“Mohon harga pakan diturunkan, sesuai acuan Permendag Rp 4.000”, “Jagung jangan diekspor, kami masih butuh” dan “Harga telur anjlok peternak gulung tikar”.

Tak hanya itu, mereka juga membagikan sekitar 700 butir telur ayam kepada para pengguna jalan yang melintas. Pembagian telur secara gratis sebagai bentuk protes kepada pemerintah karena harga telur turun.

Menurut dia, apabila pemerintah tidak segera menurunkan harga pakan jagung, peternak ayam petelur tidak lama lagi akan gulung tikar. Selama ini dirinya memelihara sekitar 30.000 ayam petelur. Setiap harinya harus membutuhkan sekitar 1,5 ton pakan dan 1,6 ton jagung perhari.

Wakil Ketua MPR Fadli Zon mengakui, Indonesia sudah berada dalam darurat krisis pakan ternak. “Kondisi para peternak sudah sangat mengkhawatirkan dan sangat berbahaya dampaknya secara jangka panjang,” kata Fadli Zon dalam keterangan persnya di Jakarta, kemarin.

Nilai rupiah yang terdepresi, kata Fadli, telah membuat peternak ayam, baik broiler maupun layer, tercekik karena harga pakan terus naik. Sebab sebagian bahan pakan ternak berasal dari luar negeri atau impor, sehingga sangat bergantung pada nilai tukar rupiah.

Menurut Fadli, harga jagung sudah menyentuh harga Rp5.000-Rp5.300/kg. Padahal harga acuan di tingkat petani Rp3.150/kg dan di tingkat konsumen Rp4.000/kg. Dengan harga yang sudah naik tersebut, celakanya pasokan jagung juga minim.

“Padahal komponen utama pakan ayam petelur adalah jagung,” ujarnya.

Dari informasi di lapangan, beberapa sentra pertanian jagung di Jawa Timur memang sedang panen, seperti di Tuban, Nganjuk, dan Trenggalek. Namun hasil panen tersebut tak dapat dirasakan para peternak ayam petelur di Blitar dan sekitarnya karena sudah diserap pabrik pakan ternak (feed mill).

“Jadi hasil panen langsung diambil feed mill karena sebelumnya sudah ada kontrak pembelian dengan petani. Para peternak ayam petelur rakyat yang juga kemampuan (secara kuantitas dan keuangan) membeli jagung kecil, tidak kebagian. Jadi betul ada panen jagung di sentra pertanian jagung tapi para peternak ayam petelur rakyat tidak kebagian,” ujar Fadli.

Kondisi ini, kata Fadli, diperparah dengan anjloknya harga telur di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Informasi dan laporan yang diterima HKTI per 9 Oktober 2018, harga telur di sentra peternakan ayam petelur rakyat di Blitar sebesar Rp16.000-Rp16.300/kg.

“Harga ini jauh di bawah harga acuan farm gate Rp18.000-Rp20.000 sebagaimana hasil revisi harga yang ditetapkan Kemendag. Peternak merugi dobel yaitu harga pakan naik di satu sisi sedang harga telur anjlok di sisi lain. Ibarat sudah jatuh babak belur, tertimpa tangga pula,” tegas Fadli.

 “Rangkaian dampak dari sulit dan mahalnya pakan jagung, bila terus berlangsung maka bukan tak mungkin akan berujung pada luluhlantaknya peternakan ayam petelur rakyat, meningkatnya pengangguran di desa sentra peternakan, dan krisis telur nasional. Dan ini dipastikan akan mengganggu ekonomi nasional,” sambung Fadli. (jar)

Baca juga: http://radarpagi.com/kabupaten-karimun-launching-perdana-ekspor-nanas-dan-pisang-kundur-ke-singapura/

 

News Feed