oleh

Puisi-puisi Saraswati

-Puisi-214 views

 

Ketika Lelaki Itu Jatuh

ketika lelaki itu jatuh menuju lembah tempat aku bermula

menyanyikan kidung kidung kembara

tak apa jika kau adalah prajurit berkuda

merapihkan keletihan di bawah rindang pepohonan rawa

 

Tak kuharap kau tinggal menjadi sajak-sajak

menetap menjadi tradisi sebelum habis waktumu di medan laga

kita hanya akan mengasuh ingatan bahwa senyuman

kita pernah terpaut di sela dedaunan berlapis senja,

meski bertanggal mata biru dan kulucuti setiap lelaki

yang jatuh menuju lembah tempatku bermula.

 

Karawang, 12 Mei 2018

 

Aku Sunting Separuh Pagi Ini

aku sunting separuh pagi ini bukan untuk kenyataan yang samar
ayolah, pematang ini seperti kita berdua
bermula dari benih dan sepetak tanah basah

aku telah putuskan untuk kembali jatuh cinta padamu, kali ini saja
ingin kupinta lebih dari malam-malam biasanya
sepanjang pagi akan kurawat embun pucuk-pucuknya padi

sebagai kepakan sayap ribuan peri berkilauan

yang bersenandung bulir-bulir kehidupan

Karawang, 25 Juni 2018

 

Ratu Serdadu I

Kemudian lampu-lampu kau petik hingga kaulah seorang
mainkan saja beberapa babak percintaan!
tenang saja, laki-laki yang kau hisap tak pernah menggerutu
selagi kau ratunya. Dan ya, sembah ratu para serdadu
jadi telapak kakimu bergantian
setiap hari kepalanya bergeser kian tumpul

Kemudian apa yang ditakutkan, ratu?
Segala aral dikunyah mentah-mentah

berhamburan dari mulut harummu
kaki yang jenjang sila berpijak

di pinggang-pinggang yang punya mau.

Kaulah kuasa di atas segala
hinggap di manapun
Selagi kau ratunya
para serdadu semakin lucu

dari ribuan wajah lugumu.

Karawang, 13 April 2018

 

Ratu Serdadu II

yang terjadi kini
para serdadu memintal rindu
merenda syair-syair berkilatan
sepanjang malam menjadikannya bujang-bujang kesetiaan
mereka berkuda seharian
meledakan medan-medan tempur melepas satu per satu

simpul persaudaraan
bujang kehabisan darah

“sandingkan aku di singgananamu”
para prajurit menggelepar candu ratu

darinya puja sebatas bayang
tipu muslihat entah abrakadabra

ratu keabadian terlahir dari cerita
cerita berakhir sebagai berita
dan berita kaulah empunya
ratu…oh ratu
sekepal tanganmu serdadu
ratu…oh ratu
ajalmu adalah permainan dadu
ratu…oh ratu
serdadu hilang biji matanya satu-satu

Karawang, 2018

 

Doa Setelah Gerimis

apa yang coba kau dengarkan pada gerimis

setelah telinga mereka berjatuhan di atap

kekata redup tanpa gema tanpa ritmis

aku hujan yang meredam

tak akan kubawa ceritamu hingga langit benar-benar terbuka

 

labuhkan saja segala kemanusiaan

pada sebenar-benarnya tanah pada bumi

pada anak yang sembahnya di telapak kaki

konon di sana mengalir aliran surga

darinya segala apa yang hujan

mereka yang tersimpan di perut bumi

segala yang berputar menata langit

akan setia mengecup bulir air matamu

Karawang, 11 Juli 2018

 

Saraswati lahir di Karawang, Jawa Barat. Menyukai seni budaya dan bergelut di dunia teater dan sastra. Beberapa puisinya dimuat di beberapa media online dan antologi bersama seperti Rumah Seribu Jendela (Intishar, 2017), Malam Purnama di Tepi Liwa (Pustaka Rumah Aloy, April 2018), dan Epitaf Kota Hujan (FPL Padang Panjang, Mei 2018). Bersama rekan-rekan Forum Diskusi Indonesia Menulis (FDIM), ia tengah mempersiapkan buku keempat.

 

 

 

 

 

News Feed