oleh

Di Ponpes Tebu Ireng, Prabowo dan Sandi Kompak Pakai Sarung Hijau

-Jawa-744 views

 

Jombang, Radar Pagi – Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin bersilaturahmi ke  Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (22/10).

Prabowo dan Sandi datang dengan memakai baju koko putih dan bersarung hijau. Keduanya juga mengenakan peci hitam. Kehadiran mereka berdua langsung disambut hangat Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Solah. 

“Assalamualaikum Pak selamat datang, silahkan masuk,” sambut Gus Solah kepada Prabowo dan Sandiaga.

Puluhan santri pun tampak memainkan tabuhan marawis untuk menyambut kedatangan pasangan ini. Sementara puluhan santri lainnya berebutan berjabat tangan dengan Prabowo-Sandiaga. Langkah pasangan ini pun sempat terhenti untuk membalas jabat tangan mereka. Bahkan beberapa di antara santri ada yang minta berfoto bersama.

“Kamu mau foto? Ayo sini foto,” seru Sandiaga kepada para santri yang memintanya untuk berfoto bersama.

Setelah silaturahmi di kediaman Gus Sholah, Prabowo kemudian memimpin apel Hari Santri yang diselenggarakan di lapangan parkir Ponpes Tebuireng. Prabowo-Sandi juga akan berziarah ke makam pendiri NU KH Hasyim Asyari. KH  Chasbullah Wahab dan KH Bisri Samsuri.

Hari santri memang terkait dengan keluarnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang dimotori oleh K.H. Hasyim Asy`ari, pengasuh Tebu Ireng yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Sejarah mencatat bahwa hal itu bermula dari kebimbangan Bung Karno mendengar rencana kedatangan tentara Sekutu di Surabaya. Bung Karno khawatir bila terjadi peperangan antara sekutu dan Indonesia, maka persenjataan tidak akan imbang.

Di tengah kebimbangan itulah, Jenderal Besar Soedirman menyarankan Bung Karno agar mengirim utusan khusus ke Tebuireng. Tujuannya untuk meminta fatwa dari K.H. Hasyim Asy`ari tentang hukum jihad membela negara yang bukan negara Islam, seperti Indonesia.

K.H. Hasyim Asy`ari pun meminta K.H. Wahab Chasbullah untuk mengumpulkan ketua NU se-Jawa dan Madura, sebelum akhirnya mengeluarkan fatwa jihadnya.

Sebelum pertemuan, Gus Sholah menegaskan kalau pertemuan tersebut bukan merupakan ajang kampanye. Pertemuan itu sebagai bentuk silaturahmi kedua belah pihak. 

Dia menjelaskan, pesantren adalah tempat pendidikan yang tidak boleh menjadi ajang kampanye. 

“Ini bukan kampanye. Namun karena Pak Prabowo dan kawan-kawan akan menyelenggarakan peringatan Hari resolusi jihad yang jatuh pada hari ini Senin 22 Oktober 2018,” katanya. (jar)

Baca juga: http://radarpagi.com/pimpin-apel-hari-santri-di-makam-gus-dur-prabowo-ingatkan-pentingnya-resolusi-jihad/

News Feed