oleh

Polisi Buru Pembawa Bendera Tauhid di Peringatan Hari Santri

-Hukum-644 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Polisi telah mengantongi identitas pelaku yang membawa bendera bertuliskan kalimat tauhid yang diduga sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ke acara perayaan Hari Santri Nasional yang diadakan di Alun-alun Limbangan Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10/2018) kemarin.

“Yang membawa bendera, sudah kami ketahui identitasnya. Polres Garut dibantu Polda Jabar sedang melakukan pengejaran,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, di Jakarta, Selasa (23/10/2018).

Selain mengejar pembawa bendera, sejauh ini Polres Garut telah memeriksa tiga orang saksi terkait pembakaran bendera yang dibawa salah seorang peserta itu. Tiga saksi tersebut terdiri atas seorang panitia acara dan dua orang diduga pelaku pembakaran bendera.

Setyo menjelaskan, berdasarkan keterangan para saksi, mereka membakar bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang telah dinyatakan terlarang oleh pemerintah.

“Dari keterangan mereka, mereka membakar bendera HTI,” kata Setyo.

Sebelumnya peristiwa pembakaran bendera mirip bendera HTI yang bertuliskan kalimat tauhid menjadi viral di media massa. Dalam video berdurasi 02.05 menit, terlihat seseorang berbaju Barisan Serba Guna Nahdlatul Ulama (Banser NU) membawa bendera berwarna hitam.

Belasan orang lainnya kemudian berkumpul untuk bersama-sama menyulut bendera tersebut dengan api. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian loreng khas Banser NU lengkap dengan baret hitam.

Anggota DPD RI, Fahira Idris, mengungkapkan dengan alasan apapun membakar bendera yang bertuliskan tauhid tidak dibenarkan karena tidak hanya punya potensi melanggar hukum, tetapi juga dapat menjadi pemicu konflik di tengah masyarakat.

“Proses hukum yang proporsional adalah cara paling tepat untuk tenangkan umat agar tidak terprovokasi. Saya berharap besar kepada aparat penegak hukum agar profesional dan proporsional mengusut kasus ini,” kata Fahira dalam siaran persnya, Selasa (23/10/2018).

Menurut Fahira, bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah bendera umat Islam bukan milik ormas tertentu, seperti HTI.

Peristiwa pembakaran bendera tauhid ini memancing reaksi keras di kalangan sebagian umat Islam. Menko Polhukam Wiranto sampai harus menggelar rapat koordinasi membahas  peristiwa tersebut. Hasilnya, pemerintah meminta masyarakat tetap tenang dan memastikan penanganan kasus dilanjutkan.

Rapat koordinasi digelar di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (22/10/2018). Rapat dihadiri Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Jaksa Agung M Prasetyo, Kemendagri, Kemenkum HAM, MUI, dan perwakilan PBNU.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI ) Jawa Barat meminta umat Islam untuk tidak terprovokasi dan mempercayakan kepada polisi terkait pengusutan kasus tersebut. 

“Intinya langkah yang sekarang jangan mudah terprovokasi,” kata Ketua MUI Jabar Rachmat Syafei di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (23/10/2018).

“Kami intinya, berterima kasih kepada Polda yang secara profesional menangani kasus ini dan kita semua imbau (masyarakat) jangan terprovokasi sehingga melebar yang tidak perlu,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Pangdam III Siliwangi Mayjen TNI Besar Harto Karyawan juga meminta masyarakat menahan diri. 

“Kita masyarakat Jabar jangan sampai ada yang terpengaruh dan terprovokasi dengan adanya ajakan-ajakan atau imbauan-imbauan untuk memprovokasi kejadian ini menjadi melebar dan luas.  Ini adalah oknum. Oknum-oknum ini akan diproses, akan dilihat sejauh mana, kita serahkan sepenuhnya kepada Polda Jabar,” katanya. (heri)

Baca juga: http://radarpagi.com/ini-pernyataan-wiranto-terkait-pembakaran-bendera-tauhid/

News Feed