oleh

Timses Jokowi dan Gerindra Lempar-lemparan “Sontoloyo”

-Nasional-253 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Presiden Joko Widodo gemas dana kelurahan yang hendak digelontorkan pemerintah ditarik menjadi isu politik. Jokowi meminta masyarakat tak terseret ke dalam isu yang dilontarkan para politikus ini.

“Itulah kepandaian para politikus, memengaruhi masyarakat. Hati-hati saya titip ini, hati-hati. Hati-hati banyak politikus yang baik-baik, tapi juga banyak politikus yang sontoloyo,” kata Jokowi di Lapangan Bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018).

Jokowi menjelaskan pemerintah sudah memberikan dana desa di tingkat kabupaten. Namun, ratusan kota yang ada di Indonesia juga membutuhan dana untuk merawat lingkungan demi kebaikan masyarakat, seperti untuk memperbaiki jalan, selokan, dan sebagainya.

Terkait sindiran ‘politikus sontoloyo’ tadi, Partai Gerindra menganggap masyarakat sudah cerdas untuk bisa membedakan mana politikus yang menggunakan politik sontoloyo dan mana yang tidak. Yang sontoloyo itu, menurut Gerindra, adalah politikus yang sudah berjanji kepada rakyat, tetapi tidak menepati janjinya.

“Politisi sontoloyo itu, politisi yang berjanji sama rakyat sudah menjabat dia lupa sama janjinya dengan rakyat. Ya, silakan masyarakat menilai. Anda berjanji A-B-C-D, Anda memimpin nggak menepati janjinya, itu sontoloyo. Itu adalah pemimpin yang tidak prorakyat,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade di Jakarta, Selasa (23/10/2018) malam.

Andre mengatakan politikus sontoloyo mengambil kebijakan tanpa ada perencanaan dan payung hukum. Dia mencontohkan adalah dana kelurahan yang disebut dibuat tanpa perencanaan.

“Sontoloyo kalau di KBBI artinya konyol. Konyol itu apa? Politikus yang ambil kebijakan tanpa ada perencanaan. Kebijakan itu harus pakai perencanaan, harus pakai payung hukum. Contoh dana kelurahan itu kayak dana desa, harus ada aturan hukumnyalah, lalu harus ada perencanaan,” jelas Andre.

Sementara Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Budiman Sudjatmiko menjelaskan apa yang dimaksud Jokowi sebagai ‘politikus sontoloyo’. Dalam penilaiannya, politikus sontoloyo adalah politikus yang mementingkan politik jangka pendejk, gemar memecah belah bangsa, dan haus kekuasaan.

“Mengorbankan kewarasan, yang jelas politik jangka pendek, politik pecah belah hanya untuk kekuasaan, mengorbankan kesatuan, menggedekan masalah kecil tapi mengabaikan hal besar,” kata Budiman di Jakarta, Selasa (23/10/2018) malam.

Menurut Budiman, yang dirugikan dalam ‘politik sontoloyo’ bukanlah Jokowi. Tetapi justru seluruh masyarakat.

“Kalau pecah belah berhasil yang rugi bukan Pak Jokowi, tapi bangsa. Mengorbankan kewarasan bangsa, keutuhan bangsa itu kemudian rusak hanya karena kebencian, emosi sesaat yang bisa membakar banyak hal yang berkaitan dengan bermasyarakat dan bernegara itulah masalahnya,” kata Budiman.

Namun Peneliti senior dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ikrama Masloman menjelaskan, di media sosial, baik kubu Jokowi maupun pihak lawan sama-sama dianggap telah melakukan kebohongan.

Ada yang menganggap pemerintahan Jokowi telah berbohong karena tak berhasil mewujudkan janji kampanye Pilpres 2014, ada pula yang menganggap kubu sebelah sudah menyebarluaskan informasi bohong untuk mendegradasi prestasi pemerintah.

“Saya pikir diksi narasi bohong sudah terbangun mindset. Tinggal siapa yang mau dipercaya, pasangan mana yang mampu meyakinkan bahwa rezim bohong ini, rezim ini, bukan ini,” kata Ikrama di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (23/10).

Makanya, ditekankannya isu tentang kebohongan hanyalah soal momentum. Adapun yang mengambil keuntungan besar tentang isu itu hanyalah mereka yang berani mendeklarasikan kubu lawanlah yang telah berbohong. (dtc/rmol/jar)

News Feed