oleh

37 Korban Penyanderaan di Mapenduma, Masih Dirawat di RS Bhayangkara

 

Jayapura, Radar Pagi – Sebanyak 37 korban penyanderaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Mapenduma, Kabupaten Nduga, Papua, dirawat di RS Bhayangkara Jayapura setelah dievakuasi ke Wamena.

Para korban terdiri dari guru, tenaga medis, dan keluarga masing-masing yang sebelumnya ikut mendampingi mereka bertugas di Mapenduma. Mereka dirawat agar tidak trauma atas insiden yang mereka alami saat bertugas dan berada di Mapenduma.

Kapolda Papua Irjen Pol. Martuani Sormin kepada wartawan di Jayapura, mengatakan bahwa kemungkinan untuk memulangkan para korban ke kampung halaman masing-masing akan dibahas dengan pemda karena para korban berstatus aparatur sipil negara(ASN).

“Yang utama dipulihkan terlebih dahulu trauma dan lainnya. Soal permintaan untuk pindah, tergantung pada pemda,” kata Kapolda, Senin (29/10).

Kapolda mengakui hingga kini tak ada pos keamanan di Mapeduma. “Kami dilarang membuat unit kepolsian di sana. Tapi dengan kejadian ini, kami akan membuat pos dan menempatkan pasukan,” kata Martuni, Selasa (23/10).

Dia menjelaskan, pelarangan pendirian pos telah dilakukan sejak lama, dengan adanya kriminalitas di Mapenduma, maka harus dilakukan tindakan hukum.

Selain melakukan penyanderaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) juga melakukan pemerkosaan terhadap salah satu guru hingga menyebabkan yang bersangkutan intensif di RS Bhayangkara sejak Sabtu (20/10).

Sebelumnya, 15 guru SD YPGRI 1 dan SMPN 1  dan paramedis Puskesmas Mapenduma beserta keluarga mereka berhasil dibebaskan dari 14 penyanderaan KKB yang dipimpin Egianus Kogoya  yang merupakan adik dari Kely Kwalik, mendiang pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pembebasan itu berhasil dilakukan berkat operasi gabungan dari personel kepolisian dan TNI.

Saat aparat melakukan operasi pembebasan, mereka hanya menemukan 2 sandera dengan kondisi luka-luka akibat penganiayaan. Ternyata, belasan sandera lain sebelumnya telah dibebaskan oleh KKB atas lobi Kepala Puskesmas Mapenduma Naftali Wandikbo.

“Setelah kami cek, ternyata beberapa guru dan tenaga kesehatan sudah dibebaskan oleh KKB. Cuma ada dua korban dianiaya sehingga luka-luka. Dianiaya karena dianggap sebagai mata-mata,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

KKB mengancam para guru dan tenaga medis tersebut lantaran mencurigai mereka sebagai aparat keamanan, yang sedang menyamar untuk mengorek informasi tentang KKB di Distrik Mapenduma.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal mengatakan guru dan tenaga kesehatan itu disandera selama 3-17 Oktober 2018. Salah seorang dari korban sandera berprofesi guru bahkan diperkosa secara bergiliran oleh anggota KKB.

“Apa yang dilakukan KKB terhadap korban yang mengajar di SD YPGRI 1 di luar batas kemanusiaan,” kata Kamal, Minggu (21/10/2018) silam.

Setelah berhasil dibebaskan pada 17 Oktober lalu, para guru dan tenaga kesehatan itu baru bisa dibawa ke Wamena menggunakan pesawat carteran dua hari kemudian. Sebelum diterbangkan ke Wamena, para korban penyanderaan sempat diamankan dan menginap di Kepala Puskesmas Mapenduman, Naftali Wandikbo. (Yandrilla)

 

News Feed