oleh

Ini Jawaban Cerdas Jokowi Terkait Isu PKI, Antek Asing, TKA Cina dan Inflasi

-Ekonomi-448 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Presiden Jokowi menyampaikan keprihatinannya terkait isu-isu yang tidak mencerdaskan rakyat dan tidak mematangkan masyarakat dalam berdemokrasi.

“Ini bisa memecah kita, kalau kita nggak segera kembali kepada rel bahwa pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden itu akan ada terus setiap 5 tahun,” kata Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Kongres XX Tahun 2018 Wanita Katolik Indonesia (WKRI), di Magnolia Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Superblok Mega Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/10/2018).

Dia menunjuk contoh isu yang menyebut dirinya simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal PKI dibubarkan tahun 1965-1966, saat dirinya masih berumur 4 tahun. Juga ada dalam media sosial gambar dirinya disamping Aidit, tokoh PKI yang sedang berpidato tahun 1955.

“Saya cek pidato tahun berapa sih? Tahun 1955, saya lahir saja belum, kok sudah ada di dekatnya ini,” kata Jokowi.

Namun, menurut Jokowi, banyak yang percaya dengan isu-isu itu. Bahkan perkiraan survei ada 6 persen atau sekitar 9 juta lebih rakyat yang percaya.

Jokowi juga menunjuk isu lain yang dikembangkan melalui media sosial, yang menuduhnya sebagai antek asing. Dia justru mempertanyakan antek asing yang mana?

Jokowi memberi contoh, misalnya Blok Mahakam yang dulunya dikelola oleh Perancis dan Jepang, sudah 100 persen ia serahkan kepada Pertamina, sejak 2015. Lalu Blok Rokan, Chevron sudah 100 persen dimenangkan oleh Pertamina.

Freeport yang 40 tahun Indonesia hanya diberi 9,3 persen, setelah negoisasi 4 tahun, sudah head of agreement, sudah Sales & Purchase Agreement mendapatkan 51 persen.

Jokowi pun heran mengapa tidak ada orang yang mendemonya saat dia berhasil memenangkan 51 persen saham Freeport Indonesia.

“Demo mendukung kok nggak ada? Kalau (demo) antek asing, ramainya kayak gitu,” ucap Jokowi.

Sementara  yang berkaitan dengan tenaga kerja asing, katanya ada 10 juta tenaga kerja dari Tiongkok membanjiri Indonesia. Jokowi mengakui, isu-isu seperti ini banyak dipercayai.

Padahal, lanjut Jokowi, tenaga kerja asing yang ada di Indonesia paling 80.000-an jumlahnya. Yang dari Tiongkok itu kurang lebih 24.000. Sementara tenaga kerja kita yang ada di Tiongkok, di China, justru jumlahnya mencapai 80.000 lebih.

“Jadi di sana (di Cina) malah antek Indonesia (karena banyak tenaga kerja asal Indonesia), kalau ngomongnya antek-antekan. Jangan seperti itulah, negara-negara lain juga menerima kok tenaga kerja asing, dalam rangka memperbaiki SDM yang ada di negaranya,” tegas Jokowi.

Presiden juga menunjukkan data, tenaga kerja asing di Indonesia tidak sampai 1 persen. Ia membandingkan dengan Uni Emirat Arab (UEA) 80 persen. Arab Saudi 33 persen, Brunei 32 persen, Singapura ada 24 persen, Malaysia 5 persen., sementara Indonesia 0,03 persen.

“Satu persen saja nggak ada kok diramaikan. Jutaan dari mana? Kalau kita ini kan gampang sekali, Tanya imigrasi sudah kelihatan,” ucap Jokowi.

Sedangkan mengenai isu-isu harga bahan pokok naik.  Jokowi mengemukakan, inflasi biasanya 9 persen, 8 persen, namun sekarang inflasi di bawah 3,5 persen. “Artinya harga itu terkendali. Harga itu terkendali, dikendalikan,” tegasnya.

Dia menjelaskan, dirinya juga sering keluar blusukan masuk pasar, bertanya langsung ke pedagang. “Saya itu mendengarkan apa yang menjadi keluhan-keluhan juga. Kalau kita bisa mencarikan solusi, mencarikan jalan keluar, ya kita berikan. Tapi kalau yang sulit, misalnya barang impor ya sulit karena pasar internasional,” katanya.

Terakhir, Jokowi mengaku masuk di pasar di Semarang,  dan bertanya pada pedagang di sana mengenai kestabilan harga. Menurut para pedagang itu, kata Jokowi, harga-harga cukup stabil karena meski ada yang naik, ada juga yang turun.

Untuk itu, Jokowi mengingatkan masyarakat agar jangan sampai termakan isu-isu yang tidak benar. (fitria)

 

 

 

News Feed