oleh

Lion Air Berangkatkan 166 Keluarga Korban ke Jakarta, Polri Akan Lakukan Tes DNA

-Jawa-76 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Pihak Lion Air memberangkatkan 166 orang yang merupakan keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta – Pangkal Pinang. Keluarga dari Pangkal Pinang, Bangka dan Medan itu diberangkan menuju Jakarta untuk mempermudah komunikasi.

“Sehubungan dengan penanganan penerbangan JT-610 bahwa Lion Air sudah menerbangkan keluarga penumpang JT-610 terdiri 166 orang yang berasal dari Pangkalpinang, Bangka serta tiga orang dari Medan,Sumatera Utara,” kata Corporate Communications Strategic Lion Air, Danang Mandala Prihantoro di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Dia menjelaskan, pihak keluarga sudah diberikan fasilitas akomodasi seperti hotel dan kendaraan.

“Pihak keluarga penumpang sudah berada di Jakarta, di mana disiapkan fasilitas akomodasi serta pusat informasi di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur, agar memudahkan mobilitas ke posko Bandara Internasional Halim Perdanakusuma terkait dengan kejadian dimaksud,” kata Danang.

Pihaknya menyatakan prihatin atas kejadian tersebut. Lion Air akan terus berkoordinasi bersama semua pihak untuk mempercepat kepastian infomasi terkait dengan keadaan penumpang dan awak pesawat. Lion Air telah mendapatkan informasi per 29 Oktober 2018 dari Badan SAR Nasional (Basarnas) bahwa telah ada 24 kantong jenazah.

“Kepada keluarga penumpang beserta awak pesawat diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menerima cobaan ini serta kepada para petugas SAR diberikan kelancaran dan kemudahan,” kata dia.

Saat ini, upaya evakuasi seluruh penumpang, kru, dan pesawat JT 610 yang mengalami kecelakaan di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat akan terus dilakukan.

Terkait dengan kejadian itu, Lion Air membuka crisis center, sedangkan untuk infomasi penumpang di nomor telepon (021)-80820002.

Sebelumnya, Tim Investigasi Korban Bencana (DVI) Polri berharap keluarga inti korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 datang ke Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Jakarta, untuk mempermudah identifikasi korban.

“Kami harapkan keluarga langsung korban yakni orang tua atau putra-putri dapat hadir di sini untuk melakukan pemeriksaan DNA,” ujar Kepala Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto Kombes (Pol) Musyafak di Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Jakarta, Senin (29/10) malam.

Menurut dia, kedatangan keluarga inti penting karena DNA merupakan satu-satunya cara yang dilakukan ketika kondisi fisik korban meninggal sudah tidak bisa dikenali.

“Pemeriksaan DNA itu sesuai dengan standar Interpol,” kata dia. Selain itu, dia melanjutkan, kehadiran keluarga dapat memperlancar proses pengumpulan data sebelum korban meninggal dunia (antemortem) yang nantinya dicocokkan dengan kondisi setelah meninggal dunia (postmortem).

Musyafak memaparkan, proses identifikasi korban melalui dua tahap yakni identifikasi primer dan sekunder. Identifikasi primer meliputi pemeriksaan sidik jari serta kondisi gigi geligi jenazah.

Kalau proses ini tak dapat dilakukan, karena ketiadaan sidik jari dan gigi, maka berlanjut ke identifikasi sekunder yakni properti yang digunakan korban sebelum meninggal seperti pakaian dan tanda-tanda khusus di tubuh layaknya bekas luka, tato atau bahkan cincin (ring) jantung.

“Jika tak bisa juga, maka korban bisa diketahui identitasnya dengan pemeriksaan DNA,” tutur Musyafak.

Dia menjelaskan, pemeriksaan DNA membutuhkan waktu empat sampai lima hari hingga didapatkan hasil yang akurat. Namun, dengan identifikasi primer dan sekunder, korban dapat dikenali dengan segera.

Untuk proses pengenalan jenazah korban Lion Air, pihak DVI Polri pun melibatkan lebih dari 15 orang pakar forensik bersama ahli lain seperti odontologi forensik, dokter gigi dan ahli DNA. Di antemortem pun ada tim khusus.

Pesawat tipe Boeing-737-8 MAX dengan nomor penerbangan JT 610 milik operator Lion Air yang terbang dari Bandar Udara Soekarno Hatta, Banten, menuju Bandar Udara Depati Amir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Pesawat itu membawa 178 penumpang dewasa, satu penumpang anak-anak dan dua bayi dengan pilot, kopilot, dan lima awak pesawat,

Pesawat ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan sesuai jadwal akan tiba di Pangkal Pinang pada pukul 07.10 WIB. Pesawat sempat meminta kembali ke tempat pemberangkatan semula (return to base) sebelum akhirnya hilang dari radar pada koordinat 05 46.15 S – 107 07.16 E.

Pesawat dengan nomor registrasi PK LQP tersebut dinyatakan hilang kontak pada Senin, 29 Oktober 2018, pada pukul 06.33 WIB.

Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan pesawat Lion Air JT610 jatuh di perairan Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Sejumlah nelayan dan warga pesisir Pantai Pakisjaya, Kabupaten Karawang, sempat mendengar suara ledakan saat pesawat tersebut menghantam perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018).

“Suaranya seperti menggelegar sekitar pukul 6.30 WIB, dikiranya suara petir,” kata Warta, salah seorang warga Pakisjaya, Karawang.

Ia mengatakan, warga dan nelayan tidak menyangka kalau suara itu suara ledakan pesawat. Karena suaranya menggelegar seperti petir. (heri)

News Feed