oleh

Arab Saudi Seenaknya Eksekusi Tuti Tursilawati, 13 WNI Lainnya Terancam Nasib Serupa

-Utama-150 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Apes sekali nasib Tuti Tursilawati. Buruh migran asal Majalengka, Jawa Barat, yang baru saja meregang nyawa karena dieksekusi seenaknya oleh Arab Saudi tanpa pemberitahuan kepada Indonesia itu berangkat ke padang pasir tandus karena tak mau lagi menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Siapa sangka bila di Arab sana dia justru mengalami kekerasan yang lebih dahsyat.

Berdasarkan penuturan keluarga Tuti kepada Komnas HAM, setelah bekerja di Arab pun dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari majikan.

“Tuti mengalami pelecehan seksual oleh majikan, dan ekspresi kekerasannya merupakan akumulasi kemarahan maupun pertahanan yang dapat dia lakukan,” kata Komisioner Komnas Perempuan Taufiq Zulbahri di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Dakwaan eksekusi mati yang diterima Tuti sejak 2010 pun ternyata berdampak pada keluarganya di tanah air. Komnas Perempuan menemukan fakta kalau dampak dakwaan Tuti membuat keluarganya di Majalengka carut marut.

Ayah Tuti misalnya menderita sakit jantung, berhenti bekerja sebagai juru kunci, selalu merasa bersalah dan saling menyalahkan antar keluarga tentang kenapa Tuti dibolehkan bekerja di Arab. Ibu Tuti juga mengalami stigma sosial, isolasi diri hingga pengajian pun hanya dilakukan di dalam rumah.

“Belum lagi trauma menonton TV, menjadi sasaran eksploitasi oknum yang berjanji akan menyelamatkannya, juga takut kepada media dikarenakan khawatir sikap atau pernyataan keluarga yang terekspos di media akan menghambat upaya pemaafan (dari keluarga korban di Arab Saudi),” kata Taufiq.

Namun masalahnya, Tuti dijatuhi jenis hukuman mati yang paling berat di Arab Saudi. “Tuti hadd ghillah, yang tertinggi, tidak bisa dimaafkan oleh siapapun,” kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhamad Iqbal di Jakarta, Selasa (30/10/2018) kemarin.

Iqbal menjelaskan, ada tiga tingkatan hukuman mati di Arab Saudi. Hukuman paling rendah adalah ta’zir. Hukuman tersebut diberikan jika pelaku hanya melanggar pidana di negara tersebut. “Itu bisa dimaafkan oleh raja,” katanya.

Adapun hukuman mati kedua adalah qisas yang sesuai Al-Quran dan hadist. Penyelesaian hukuman tersebut dilakukan jika ahli waris korban memaafkan pelaku dan biasanya diselesaikan dengan diyat (denda atau tebusan). “Tapi ada juga kasus di mana kami berhasil membebaskan lima orang tanpa diyat satu rupiah pun. Tergantung kemampuan melakukan pendekatan nonlitigasi,” ujar Iqbal.

Hukuman mati yang paling berat adalah hadd ghillah, seperti yang dialami Tuti Tursilawati. Hukuman tersebut diberikan jika pelaku melakukan pembunuhan berencana. Menurut Iqbal, baik raja maupun ahli tidak ada yang bisa memaafkan pelaku. “Yang bisa mengampuni dia hanya Allah,” kata dia.

Iqbal membenarkan bahwa Tuti mengalami pelecehan seksual oleh ayah majikannya, Suud Mulhaq Al-Utaibi, selama bekerja. Namun, saat melakukan pembunuhan, Tuti sedang tidak dilecehkan. Sehingga, pembunuhan tidak bisa dianggap sedang melakukan pembelaan diri.

“Jadi berbeda sekali kalau sedang dilakukan harassment (kekerasan) lalu dia membela diri akibatnya (pelaku) terbunuh. Itu bisa kita ajukan defence (pembelaan diri). Kalau kasus Tuti, mungkin karena dendam,” kata Iqbal.

Selain Tuti Tursilawati, kata Iqbal, masih ada 13 warga negara Indonesia lainnya yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. “13 WNI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi itu baik yang berada di wilayah Jeddah maupun wilayah Riyadh,” kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, sejak 2011 hingga 2018, ada 103 WNI yang terancam hukuman mati. Dari jumlah tersebut, pemerintah telah berhasil membebaskan 85 WNI dari hukuman mati. Kemudian, sebanyak 5 WNI telah dieksekusi salah satunya Tuti Tursilawati pada Senin, 29 Oktober 2018.

Dari 13 WNI, kata Iqbal, yang mendapat hukuman berat adalah Eti binti Toyib, buruh migran asal Majalengka, Jawa Barat, yang satu kampung dengan Tuti Tursilawati. Eti mendapat hukuman mati qisas yang satu tingkat lebih berat dari ta’zir. Artinya, kata Iqbal, yang bisa memaafkan adalah ahli waris korban.

Saat ini, pemerintah masih berupaya melakukan pembicaraan dengan keluarga korban agar bisa meringankan hukuman Eti. “Kami meminta ahli waris menyampaikan tawaran tertulisnya mengenai persyaratan pemaafan tersebut. Nanti kesepakatannya akan dihitung setahun dari notifikasi tertulis,” kata Iqbal.

Berikut kronologi kasus TKI Tuti Tursilawati hingga dieksekusi pemerintah Saudi:

Pada 12 Mei 2010 Tuti Tursilawati ditangkap oleh Kepolisian Saudi atas tuduhan membunuh ayah majikannya warga negara Saudi atas nama Suud Mulhaq AI-Utaibi. Tuti Tursilawati ditangkap sehari setelah peristiwa pembunuhan yang terjadi pada 11 Mei 2010.

Tuti diketahui telah bekerja selama 8 bulan dengan sisa gaji tak dibayar 6 bulan. Jadi, selama 8 bulan bekerja, Tuti cuma digaji pada 2 bulan pertama. Setelah itu, keluarga Suud Mulhaq AI-Utaibi seenaknya menjadikan Tuti sebagai budak yang sewaktu-waktu bisa pula dipaksa melayani nafsu bejad Suud.

Setelah membunuh korban, Tuti kemudian kabur ke Kota Makkah dengan membawa perhiasan dan uang SR 31,500 milik majikannya sebagai ongkos di perjalanan, sekaligus untuk mengganti gajinya yang tidak dbayarkan.

Namun dalam perjalanan kabur ke Kota Makkah, dia malah diperkosa lagi oleh 9 pemuda Arab Saudi dan mereka merampas semua barang curian tersebut. 9 orang pemuda tersebut kemudian ditangkap dan telah dihukum sesuai dengan ketentuan hukum Arab Saudi. Tapi tentunya tidak dihukum mati. (gunawan)

News Feed