oleh

Mahdi Idris Tampil Bawakan Dua Puisi di HPI Aceh 2018

-Kabar Seni-393 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Penyair Mahdi Idris tampil membacakan dua puisi di acara Hari Puisi Indonesia (HPI) Provinsi Aceh yang digelar di Jl. AMD. Batoh, Warong Kande, Banda Aceh, Sabtu (10/11/2018) malam kemarin. Kedua puisi tersebut karya Mahdi Idris sendiri, masing-masing berjudul “Puisi tak Pernah Mati” dan  “Tembok”.

Mahdi Idris menjadi satu dari puluhan penyair, seniman, jurnalis, teaterawan, pelukis dan penari turut meramaikan acara baca puisi kolaboratif  yang menjadi bagian utama peringatan HPI Aceh 2018.

“Puisi tak Pernah Mati” bercerita tentang keabadian syair-syair puisi, meski penyairnya sendiri sudah mati, seperti terlihat dalam penggalan larik berikut:

“Engkau tak pernah mendengar sebuah puisi yang tiba-
tiba mati terserang penyakit kronis atau bunuh diri dalam
kamar penyair, dalam buku pelajaran bahasa yang
enggan dijamah pelajar, atau dalam perpustakaan yang
semakin jarang didatangi pembaca. Tidak, sebab puisi tak
pernah mati!”

Sementara puisi “Tembok”, berkisah tentang bagaimana menghancurkan ego dalam diri para penyair, khususnya penyair-penyair Aceh, agar cita-cita menyatukan jiwa demi peradaban Tanah Rencong pada masa yang akan datang dapat tercapai lewat puisi.

“Puisi-puisi tersebut saya bawakan untuk mengingatkan para pegiat puisi di tanah air, terutama di Aceh, bahwa Aceh dulunya adalah Tanah Para Penyair, seperti Hamzah Fansuri, Tgk. Chik Pante Kulu, dan lain-lain,” kata Mahdi, saat dihubungi Radar Pagi melalui selular, Minggu (11/11/2018).

Dia berharap di masa mendatang, penyair-penyair asal Aceh dapat semakin berkibar di pentas perpuisian nasional maupun internasional.

“Dalam diri orang Aceh sebenarnya mengalir DNA puisi. Sayang kalau bakat itu dibiarkan terus terpendam,” kata Mahdi berseloroh.

Mahdi Idris lahir di Desa Keureutoe, Lapang, Aceh Utara, 03 Mei 1979. Saat ini bermukim di Pondok Kates, Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat berbagai media lokal dan nasional.

Buku puisinya yang telah terbit Lagu di Persimpangan Jalan (2014),Kidung Setangkai Sunyi (2016), Kutukan Rencong (2018). Buku puisi terbarunya, Sebatang Pena di Meja Penyair baru saja diterbitkan oleh Yayasan Pintar pada bulan Agustus kemarin.

Mahdi Idris memenangkan banyak penghargaan dalam berbagai perlombaan menulis puisi, antara lain puisi Nyanyian Rimba yang dinobatkan sebagai Juara II pada Sayembara Naskah Pengayaan Puskurbuk Kemendikbud 2011. (jar)

Baca juga: http://radarpagi.com/hpi-aceh-2018-hadirkan-pembaca-puisi-lintas-generasi/

News Feed