oleh

50 Penceramah Sebarkan Paham Radikal di 41 Masjid

-Jawa-62 views

 

Jakarta, Radar Pagi  –  Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Prabowo, mengatakan ada 50 penceramah yang menyebarkan paham radikal di 41 masjid. Data 41 masjid terpapar paham radikalisme tersebut berasal dari survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat Nahdatul Ulama (P3M NU). 

Survei itu dilakukan kepada kegiatan khotbah di sejumlah masjid yang ada di lingkungan kementerian, lembaga dan BUMN. Konten ceramah menjadi parameter utama dalam survei tersebut. Adapun materi ceramah yang menjadi perhatian BIN mengarah kepada intoleransi, ujaran kebencian dan persoalan ideologi negara.

Menurut Wawan, survei terhadap masjid-masjid yang seluruhnya ada di Jakarta ini bertujuan sebagai peringatan dini (early warning) kepada masyarakat.  

“Kami tidak ingin ada intoleransi, ujaran kebencian, mengafirkan orang lain atau timbul hal-hal yang berhubungan dengan ideologi,” ujar Wawan kepada wartawan di Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (20/11/2018).

Wawan mengatakan ada tiga kategori penceramah radikal, yakni rendah, sedang, dan tinggi. BIN punya pendekatan yang berbeda dari tiap kategori tersebut. Dalam melakukan pendekatan kepada mereka yang masuk kategori penceramah radikal, BIN dengan berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI).              

Dia pun menjelaskan maksud dari masing-masing kategori .”Kalau yang rendah ya masih dalam kategori yang masih ditolerir nilainya. Kalau sedang sudah mulai mengarah ke kuning, kuning itu perlu disikapi lebih. Tapi yang merah artinya sudah parahlah, ini perlu lebih tajam lagi untuk bagaimana menetralisir keadaan,” ujarnya.

Kategori tinggi atau merah itu, kata Wawan, misalnya bersimpati kepada ISIS atau kelompok Abu Sayyaf di Marawi, Filipina. Mereka juga berusaha mempengaruhi masyarakat.

“Sudah mendorong ke arah gerakan yang lebih seperti simpati ke ISIS dan Marawi, membawa aroma konflik di Timur Tengah ke sini (Indonesia),” katanya.

Para penceramah kategori terakhir ini, terindikasi senang mengutip ayat-ayat tentang jihad dan peperangan untuk memancing emosi masyarakat.

Saat disinggung tentang afiliasi para penceramah dan materi yang disampaikan dengan kelompok tertentu, Wawan enggan memberikan jawaban. Yang jelas, katanya, BIN berusaha melakukan dialog kepada mereka.    

“Selama ini kita lakukan pendekatan dan dialogis, kita ingin memberikan literasi, ini kan persoalan yang perlu diliterasi dan kesalahpahaman begini bisa terjadi di mana saja, oleh karenanya tetap harus ada upaya dari hati ke hati itu ada perubahan, karena kita perlu menjaga keamanan dan ketertiban,” ujarnya. (rian)

Baca jugahttp://radarpagi.com/asing-100-kuasai-25-sektor-usaha-prabowo-rakyat-kita-nggak-boleh-kaya/

News Feed