oleh

Kabar Guru Agama Cabuli 9 Murid di Madura Ternyata Hoaks

-Jawa-524 views

 

Pamekasan, Radar Pagi – Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Madura membantah pemberitaan kabar pencabulan sembilan murid oleh oknum guru agama salah satu SD negeri di Kelurahan Lawangan Daja, Pamekasan.

“Berita mengenai adanya guru agama di salah satu SD negeri di Kelurahan Lawangan Daja, Kecamatan Pademawu, Pamekasan yang mencabuli muridnya itu tidak benar,” kata Ketua DPC APSI Madura Sulaisi Abdurrazaq di Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (20/11/2018) pagi.

Dia menjelaskan, APSI Madura langsung mengadakan investigasi setelah membaca berita pencabulan itu di sejumlah media lokal Madura.

Dalam berita itu disebutkan pelaku berinisial IK, sementara korban masing-masing berinisial IR, AM, FR, AZ, AL, NS, RS, AR, dan NF.

Pencabulan itu dilakukan di rumahnya, saat mereka menyetorkan hafalan surat-surat pendek Alquran di rumah guru agama itu.

Atas pemberitaan di sejumlah media itu, Sulaisi merasa terpanggil untuk melakukan investigasi, karena dia juga merupakan anggota Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP3A) Pemkab Pamekasan.

Sulaisi selanjutnya melakukan penelitian dan bertemu secara langsung dengan orang tua korban, atau pun guru agama yang diberitakan melakukan pencabulan.

“Ternyata, hasilnya mereka (orang tua murid) mengaku tidak tahu secara langsung. Bahkan di antara orang tua korban itu justru mengetahui setelah ada berita di salah satu media online,” ujar Sulaisi.

Ada juga yang mengaku mengetahui anaknya menjadi korban pencabulan dari informasi telepon yang disampaikan orang tak dikenal.

Sedangkan dalam pertemuan dengan guru agama yang dituduh melakukan pencabulan, guru itu mengaku pernah mencubit murid-muridnya bila tidak bisa menyetor hafalan surat-surat pendek Alquran secara sempurna.

“Tapi dalam konteks pendidikan agama di Madura, (cubitan) itu sangat normatif, dan dianggap sebagai bentuk motivasi guru kepada murid,” kata Sulaisi.

Kesimpulan APSI Madura, kasus itu terindikasi sengaja dienduskan orang-orang tertentu untuk mencederai nama baik guru agama di sekolah itu.

“Setelah terjun langsung ke lapangan, faktanya memang tidak cukup bukti untuk diproses secara hukum, bahkan terindikasi bahwa kasus pencabulan oleh guru agama itu, adalah upaya untuk mencemarkan nama baik sang guru melalui propaganda media,” katanya.

Fakta yang terungkap oleh tim APSI Madura di lapangan menyebutkan, saat setoran hafalan surat-surat pendek Alquran, jumlah murid yang datang ke rumah guru agama itu mencapai puluhan orang, karena siswa kelas VI di SD negeri itu umumnya diantar orang tua.

“Dan saat setoran hafalan, saya selalu bersama istri saya, bahkan istri saya yang menyediakan air untuk anak-anak yang datang menyetor hafalan surat-surat pendek Alquran ke sini,” kata Sulaisi menirukan ucapan guru agama itu.

Meski hasil investigasi tidak menemukan bukti yang cukup, namun APSI Madura tetap menyarankan kepada orang tua siswa agar kasus itu  diproses secara hukum di Mapolres Pamekasan.

Hanya saja di antara orang tua yang menjadi sumber berita kasus pencabulan hingga kini tidak ada yang melapor ke polisi.

“Sampai saat ini belum ada laporan kepada kami, dan kasus pencabulan itu hanya ramai di media saja,” kata Kasubbag Humas Polres Pamekasan Iptu Nining Diah.

Polisi, ujar dia, tidak bisa turun tangan secara langsung, karena kasus pencabulan tersebut masuk dalam delik aduan.

“Jika memang ada laporan dari orang tua korban, pasti akan kami tindaklanjuti,” katanya. (sse/jar)
 

 

 

News Feed