oleh

Pagar Pembatas Telan Anggaran Setengah Miliar, Baru 2 Minggu Berdiri Sudah Ambruk

-Jawa-66 views

 

Cilacap, Radar Pagi – Ambruknya pagar pembatas Air Panas Cipari menghebohkan warga sekitar. Pasalnya, bangunan yang menghabiskan Anggaran DAK 2018 sebesar Rp. 551.363.575 tersebut baru dua minggu selesai dikerjakan. Masyarakat pun mencium aroma KKN di balik peristiwa ini.

Proses pembangunan pagar pembatas di obyek wisata Air Panas Cipari dikerjakan oleh CV. ARTHA PRIMA dengan No. SPK 602.I/DAK/06.07/0952/27/18, dengan waktu pelaksanaan 120 hari. Air Panas Cipari sendiri dikelola oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap. 

Informasi rubuhnya pagar pembatas Air Panas Cipari berawal dari informasi masyarakat kepada wartawan media ini pada Kamis (15/11/2018) silam. Warga yang enggan disebutkan namanya itu meminta wartawan untuk segera datang ke lokasi sebelum puing-puing yang ambruk hilang jejak.

“Tolong datang ke Air Panas Cipari, ada bangunan yang baru dua minggu dibangun sudah ambruk,” pinta warga tersebut.

Wartawan pun langsung menuju lokasi. Namun kekhawatiran warga tadi tentang kemungkinan hilangnya bukti ternyata jadi kenyataan. Puing-puing bekas ambruk sudah tidak ada di lokasi proyek. Hanya ada empat pekerja berada sana.

Kepada mandor lapangan yang datang ke lokasi beberapa saat kemudian, media ini menanyakan penyebab rubuhnya pagar pembatas itu, serta meminta izin untuk melihat gambar/bestek pengerjaan. Sang mandor pun menjelaskan kronologinya.

“Bangunan ambruk pada hari Minggu sore, setelah hujan deras. Terkait gambar saya tidak membawa gambar/Bestek pekerjaan. Langsung ke kantor saja, bertemu dengan pemilik pekerjaan (pimpinan),” kata mandor tersebut.

Di hari yang sama, wartawan mendatangi kantor CV. ARTHA PRIMA, namun tidak berhasil menemui pimpinan perusahaan tersebut. Upaya meminta konfirmasi berkali-kali melalui selular pun tidak direspon.

Sementara itu, pihak Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Cilacap selaku pengguna anggaran juga menolak memberikan konfirmasi.   

“Saya tidak bisa menjelaskan dan tidak diberi kewenangan untuk menjelaskan terkait hal ambruknya pagar pembatas Air Panas Cipari tersebut, sesuai intruksi Kepala Dinas. Silahkan bertanya kepada konsultan pengawas dan konsultan perencanaan dikarenakan semua masalah teknis telah kami lelangkan kepada mereka. Silahkan menghubungi Wardoyo selaku konsultan,” katanya.

Namun sampai berita ini diturunkan, Wardoyo selaku konsultan pun tidak ada kejelasan kapan bisa dimintai konfirmasinya, karena beralasan sedang ada di luar kota. 

Menurut Kamsi Gaotama selaku pegiat anti korupsi, dirinya menduga kontraktor pelaksana melakukan markup dengan mengorbankan mutu bahan bangunan.

“Saya melihat ada kemungkinan kontraktor pelaksana terlalu banyak mengambil untung dalam melaksanakan pekerjaan tersebut, terbukti dari mutu kualitas pekerjaannya tidak bagus. Tidak mungkin bangunan yang baru dua minggu dibangun sudah ambruk. Pasti mereka mengurangi spesifikasi atau campuran perbandingan pasir dan semen, tidak sesuai RAB dan Bestek,” ujar Kamsi.

Kamsi meminta kasus ini dilaporkan kepada pihak penegak hukum, karena besar kemungkinan kontraktor tidak menggunakan standar RAB yang ada. (Nover)

 

 

 

 

News Feed