oleh

Disbudpar Kabupaten Intan Jaya Gelar Seminar Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Wisata

 

Nabire, Radar Pagi – Pada Rabu (12/12/2018) kemarin, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Intan Jaya, Papua, menggelar Seminar Akhir Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Destinasi Wisata.

Dalam seminar yang digelar di salah satu ruangan RM. Selera, Jl. Pemuda, Kota Nabire itu, Maximus Tipagau & Tim Konsultan Perencana PT. Arkan Jaya hadir memberikan presentasi pengembangan destinasi wisata Puncak Carstenzs.

Seminar dibuka oleh Januarius Maisini, SE selaku Kepala Disbudpar Kabupaten Intan Jaya, sekaligus memberikan kata sambutan. Rencananya seminar ini dibuka langsung oleh Bupati Intan Jaya Natalis Tabuni, namun urung dilakukan karena pesawat yang ditumpangi bersama rombongan mengalami keterlambatan dari Jayapura

Namun kepada Radar Pagi, Bupati menegaskan dirinya sangat merestui dan mendukung jalannya seminar karena bisa memberikan manfaat dan kontribusi pemikiran bagi perkembangan destinasi pariwisata di Kabupaten Intan Jaya.

“Saya sangat mendukung dan berharap kegiatan ini bisa memberikan sumbangan pemikiran yang terbaik bagi kemajuan wisata Intan Jaya,” ujar Bupati,

Turut hadir dalam seminar ini para SKPD, badan’kantor distrik se-Kabupaten Intan Jaya, tokoh pemuda, tokoh budaya, dan kalangan intelektual.

Sebagaimana diketahui, Puncak Carstensz atau Carstensz Pyramid adalah puncak gunung tertinggi dari deretan pegunungan tengah Pulau Papua dengan ketinggian 4.884 m dpl.

Puncak ini merupakan salah satu destinasi wisata pendakian gunung favorit, baik di kalangan pendaki lokal maupun mancanegara, karena Carstenzs Pyramid dikenal luas sebagai salah satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua atau Seven Summits.

Nama Carstenzs diambil dari nama seorang pelaut berkebangsaan Belanda, Jan Carstenszoon yang pertama kali melaporkan keberadaan puncak-puncak yang diselimuti salju pada pegunungan tropis di wilayah New Guinea pada tahun 1623.

Dalam bahasa lokal Carstenzs Pyramid dikenal dengan nama Nemangkawi Ninggok yang berarti Puncak Panah Putih. Puncak ini pertama kali ditaklukkan oleh Heinrich Harrer pada tahun 1962.

Saat mendaki gunung ini, anda akan dikenai beberapa pantangan. Salah satunya, jangan pernah berbicara tentang hantu dengan para porter. Penduduk lokal percaya hantu akan datang jika mereka disebut. Penduduk lokal menyebut Puncak Carstensz sebagai Ndugu. Wilayah ini merupakan daerah suci tempat roh-roh nenek moyang sudah meninggal bersemayam.

Mendaki Puncak Carstensz memiliki rintangan yang berbeda dibanding mendaki gunung lain di Indonesia. Selain harus menghadapi puncak yang terjal, pendaki akan menemui suhu sangat dingin dan angin kencang. Ia juga harus menghadapi minimnya oksigen.

Karena ketinggiannya, Puncak Carstensz memiliki curah hujan yang tidak menentu. Para pendaki harus membawa jas hujan di tempat yang gampang diraih. Jika sewaktu-waktu hujan tiba-tiba turun supaya gampang dipakai. Uniknya lagi, Puncak Carstensz memiliki tiga jenis hujan: hujan air, hujan salju, juga hujan es.

Puncak Carstensz semula merupakan dasar laut yang dalam. Ia muncul akibat terangkatnya bebatuan sedimen karena tumbukan lempeng Indo-Pasifik dan Indo-Australia di dasar laut. Hal tersebut terlihat dari fosil hewan-hewan laut yang ditemukan di antara bebatuan Pegunungan Jayawijaya.

Kalangan akademisi memperkirakan jika salju abadi di Puncak Carstens akan terus menyusut akibat pemanasan global. Bahkan para ahli memperkirakan salju tersebut akan menghilang. Jadi, sebelum hal tersebut terjadi, datanglah ke Puncak Carstensz.

Syukuran Natal 2018

Di luar masalah pariwisata, Maximus Tipagau yang dihubungi usai seminar, mengaku sedang berkoordinasi untuk proses perdamaian pasca pilkada di Sugapa.

Bersama tim dari Timika, dia juga sedang menyiapkan berbagai bahan bantuan berupa pakaian layak pakai dan paket bantuan natal untuk gereja-gereja terdekat.

“Saya akan siapkan tiga pesawat dari Timika untuk membawa babi ke atas. Puncak acara (Perayaan Natal 2018) akan dilaksanakan di Galunggama,” katanya.

Menurut Maximus, perayaan Natal 2018 digelar dalam bentuk syukuran sederhana bersama keluarga besar PT Mpaigelah, PT Adventure Carstenz, dan Yayasan Somatua.

“Saya mengundang dengan hormat segenap keluarga besar Tipagau dan Kobogau, serta rumpun keluarga terkait (Sani dan Tigau) untuk menghadiri syukuran tersebut,” katanya.

Maximus menjelaskan, perayaan Natal 2018 yang digelat pihaknya akan digelar di Gereja Galunggama, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, pada Rabu, 19 Desember 2018. (Om Yan)

  

 

 

 

News Feed