oleh

Ditolak di Pasar Kota Pinang, Sandiaga: Itu Bukan Sandiwara

-Utama-107 views

 

Jakarta, Radar Pagi – Calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Salahuddin Uno membantah tudingan bahwa dirinya melakukan sandiwara seakan-akan ditolak warga saat berkunjung ke Pasar Kota Pinang, Sumatera Utara, Selasa (11/12/2018) lalu.

“Insha Allah apa yang terjadi itu apa adanya. Kalau saya sih mendengar langsung dan saya panggil (orang yang memasang poster penolakan). Saya panggil dia, awalnya agak malu-malu, terus dia bilang ‘iya pak ini betul’,”  ujar Sandi di Jakarta, Rabu, (12/12/2018) malam.

Sebelumnya di Pasar Kota Pinang, Sandiaga disambut poster dari karton berwarna putih bertuliskan tangan. Bunyi poster itu, ‘Pak Sandiaga Uno Sejak Kecil Kami Sudah Bersahabat Jangan Pisahkan Kami Gara-gara Pilpres, Pulanglah!!’.

Membaca tulisan tersebut Sandiaga meresponnya dengan menemui pemasang poster tadi yang bernama Drijon Sihotang.

Kepada Sandiaga, istri Drijon mengaku dibayar untuk memasang poster tersebut, namun Drijon membantahnya.

“Bapak dibayar (untuk pasang poster ini),” tanya Sandi.

“Nggak Pak, ini aspirasi saya sendiri,” kata Drijon.

“Kami sejak awal selalu ingin menciptakan kampanye yang sejuk, tidak memecah belah. Kampanye berpelukan Pak Drijon. Tidak ada upaya memecah belah,” ujar Sandi.

Seperti biasa pro dan kontra pun terjadi, media sosial kemudian dipenuhi komen. Sebagian percaya bila keluarga Drijon dibayar oleh lawan politik Prabowo-Sandiaga untuk memasang poster tersebut. Sebagian lagi justru menilai itu sandiwara kubu Prabowo-Sandiaga untuk memfitnah lawan politiknya.

Sandiaga sendiri dalam keterangannya tadi malam mengaku bisa memaklumi penolakan tersebut. Dia memaklumi bila ada masyarakat berbeda pilihan politik.

“Masyarakat tentunya menyampaikan aspirasi, ada aspirasi yang positif negatif itu harus kita tampung. Ada aspirasi yang mendukung atau tidak mendukung itu semua harus kita tampung,” ujarnya.

Penolakan itu menurutnya bagian dinamika kontestasi. Sehingga menurutnya perbedaan pilihan politik jangan justru ditanggapi sebagai sebuah perbedaan, melainkan sebuah karunia untuk mempersatukan bangsa.

“Kita boleh berbeda pilihan, tapi kita harus tetap berangkulan. Kita harus terus menjaga persatuan dan ukhuwah. Itu yang kita sebut sebagai demokrasi sejuk, politik santun, dan kampanye yang damai, kampanye yang berpelukan,” tegasnya. (jar)

Baca juga: http://radarpagi.com/2018/12/13/utang-bumn-sudah-67-dari-aset-sandiaga-tegaskan-tidak-boleh-ada-intervensi-penguasa/

News Feed