oleh

Papua Mountaineering Association Siap Dampingi Wisatawan Daki Gunung Bersalju di Papua

 

Intan Jaya, Radar Pagi – Papua memiliki sebuah gunung unik yang sangat terkenal. Tingginya sekitar 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Disebut unik lantaran gunung ini, meski terletak di daerah tropis, namun diselimuti salju abadi.

Di kalangan para pendaki, puncak gunung yang didaki pertama kali pada tahun 1962 oleh Heinrich Harrer, Robert Philip Temple, Russell Kippax, dan Albertus Huizenga ini lebih dikenal dengan nama Piramida Carstensz atau Carstensz Pyramid alias Puncak Carstensz. Gunung ini masuk ke dalam salah satu Tujuh Puncak Dunia.

Puncak Carstensz menjadi yang tertinggi di wilayah Oceania dan Benua Australia. Dalam wilayah Asia, gunung ini berada di posisi nomor dua setelah Gunung Hkakabo Razi, Myanmar, yakni setinggi 5.881 mdpl. 

Selain dikenal karena ketinggian dan salju abadinya, Puncak Carstensz yang terletak di Kabupaten Intan Jaya dan berada di dalam area Taman Nasional Lorentz, dan sudah diterima sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak 1999  ini juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang beragam budaya lokal yang telah berumur 30 ribu tahun.

Dengan ketinggian 4.884 mdpl, butuh persiapan yang lebih matang untuk mencapai puncaknya. Pendaki kerap menghadapi tantangan berupa hujan salju atau es. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya mendaki gunung ini, kaki masih menapak di wilayah Indonesia, tapi imajinasi mengawang serasa di pegunungan Himalaya.

Bagi anda yang tertarik mendaki gunung ini, tidak perlu bingung. Ada organisasi pendaki gunung lokal yang siap memfasilitasi anda. Namanya Papua Mountaineering Association (PMA) alias organisasi pendiakian gunung Papua.

Didirikan pada bulan Mei 2018 oleh Maximus Tipagau, tokoh masyarakat dan pendaki profesional setempat yang menghabiskan masa kecilnya di Desa Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, sebuah desa budaya yang terletak di dekat base camp pendakian Puncak Carstensz, PMA telah membantu para pendaki amatir maupun profesional untuk sampai ke Puncak Carstensz.

Namun PMA yang berkantor di Jalan Cendrawasih, SP 2, Km 3,5 Timika, Papua (hotline: +62 8213 2916 0647) ini juga melatih tenaga-tenaga yang nantinya dapat mendukung pendakian ke Puncak Carstensz, dengan cara mendampingi para pendaki dari luar Papua dan luar negeri.

“Materi pelatihan yang diberikan antara lain teknik pendakian dan ketrampilan tali temali,” ujar pendiri PMA, Maximus Tipagau, kepada Radar Pagi, Sabtu (12/1/2019).

Selain memberi pelatihan teori dan praktek mendaki gunung, pelatihan PMA juga mengarahkan pemuda-pemuda Papua agar bisa menjadi pelaku pariwisata. Tak heran bila anggota PMA juga dilatih menjadi porter, guide, chef, bahkan cara berjualan kerajinan Papua dan jurnalis pariwisata.

Menurut Maximus, untuk menjadi anggota PMA minimal harus berusia 18 tahun dan tercatat sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). “Anggota PMA tidak harus orang Papua, namun orang asli Papua tetap diutamakan penerimaannya,” katanya.

Menurutnya, orang Papua lebih diutamakan, selain karena mereka lebih mengetahui kondisi alam Papua disbanding warga pendatang, juga untuk membantu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Hal ini, lanjut Maximus, didasari keprihatinan bahwa dari ratusan ekspedisi menuju Puncak Carstensz yang dilakukan sebelumnya, masyarakat setempat kurang merasakan manfaatnya.

“Pendaki dan wisatawan menghabiskan banyak uang, tapi uang itu tidak jatuh ke tangan masyarakat setempat,” kata Maximus.

“Lewat pendakian gunung ini PMA memiliki beberapa target, antara lain peningkatan ekonomi masyarakat Papua, memberi kesejahteraan bagi masyarakat Papua, memberikan kontribusi bagi pendidikan pariwisata, menjadikan Carstensz sebagai sumber penghasilan masyarakat Papua, meningkatkan citra dan popularitas Carstensz di mata dunia, dan sebagainya,” sambung Maximus.

Target itu, kata Maximus, sesuai dengan visi PMA, yaitu menjadi organisasi yang dapat berkontribusi bagi pengembangan dan penegakkan aturan pendakian ke Puncak Carstensz, upaya pelestarian lingkungan, dan penataan kehidupan sosial ekonomi masyarakat lokal di jalur pendakian ke Puncak Carstensz.

Maximus Tipagau

Sementara untuk misi PMA, Maximus menjelaskan misi organisasinya adalah menyelenggarakan kegiatan pendakian ke Puncak Carstensz, membuat peraturan-peraturan mengenai kegiatan pendakian ke Puncak Carstensz, mempromosikan aturan-aturan pendakian ke Puncak Carstensz, Membuat peraturan dan kegiatan-kegiatan dalam rangka pelestarian lingkungan di sekitar area wisata pendakian Puncak Carstensz.

“Juga menyelenggarakan kegiatan sosial bagi masyarakat di jalur pendakian ke Puncak Carstensz dengan menyalurkan bantuan seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan perlengkapan sekolah, lalu mempopulerkan pendakian ke Puncak Carstensz di tengah masyarakat lokal, melibatkan masyarakat lokal dalam aktivitas pelatihan pendakian, pendakian, dan kegiatan-kegiatan lainnya,” kata Maximus.

Karena ingin membangun pariwisata di Kabupaten Intan Jaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka kepengurusan PMA juga melibatkan unsur Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, pemilik hak ulayat (suku Moni dan Amungme), tokoh masyarakat dan pemuda, himpunan pendaki dan organisasi pecinta alam, operator pendiakian, kepolisian dan unsur-unsur lainnya.

Jadi bagi yang ingin merasakan pendakian gunung bersalju, segeralah menuju Puncak Carstensz sebelum lapisan salju abadi di sana mencair. Sebab ibarat pepatah ‘Tak ada yang abadi di dunia ini’, ternyata salju abadi di sana sudah mulai menipis lantaran pemanasan global. Bahkan ada ahli yang memprediksi dalam 10 tahun ke depan, salju di Puncak Carstensz bisa saja mencair seluruhnya. (Om Yan)

News Feed